Tampilkan postingan dengan label Informasi Kesehatan (Health Information). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi Kesehatan (Health Information). Tampilkan semua postingan

Alkohol yang dimaksudkan disini adalah etanol atau etil alcohol yang telah lama dikenal di masyarakat. Senyawa ini memiliki sifat mendepresi fungsi sistem saraf pusat (SSP). Mekanisme kerja alkohol dengan mengganggu keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi di otak. Ini terjadi karena penghambatan atau penekanan saraf perangsangan sehingga mengakibatkan terjadinya disinhibisi, ataksia, dan sedasi. Alkohol juga berefek pada berbagai sistem organ tubuh termasuk saluran cerna, kardiovaskular, dan SSP. Perkembangan embrio dan fetus juga dipengaruhi oleh konsumsi alkohol. Konsumsi alkohol secara berlebihan dalam waktu lama akan menyebabkan berbagai kerusakan yang berhubungan dengan dosis.

Alkohol digunakan secara luas di masyarakat sebagai minuman atau dalam industri sehingga secara sengaja maupun tidak, dapat menimbulkan keracunan (intoksikasi). Di beberapa negara, alkohol sebagai minuman mudah didapatkan sehingga cenderung banyak disalahgunakan. Motivasi peminum alkohol biasanya untuk mendapatkan euphoria, melepaskan emosi serta melepaskan diri, untuk sementara waktu, dari depresi dan ansietas yang dialaminya.

Kadar alcohol di dalam darah dinyatakan dalam milligram atau gram etanol per desiliter (missal 110 mg/dL atau 0,1 g/dL). Pada orang yang minum 1-2 gelas per hari memiliki kadar 0,02 – 0,03 g/dL. Minuman yang mengandung etanol 10 – 15 gram yaitu :
- 340 mL bir
- 115 mL anggur yang non fortified
- 43 mL minuman yang fortified
- 0,51 beverage (cocktail, brew) mengandung etanol 160 gram
- 11 mL anggur mengandung 80 gram etanol

Konsumsi alkohol dalam jumlah besar pada jangka panjang menyebabkan toleransi dan ketergantungan fisik. Toleransi didefinisikan sebagai penurunan respon fisiologi atau tingkah laku pada penggunaan dosis yang sama sehingga memerlukan dosis yang lebih besar. Toleransi dapat terjadi secara akut maupun kronik. Toleransi terhadap efek intoksikasi alkohol merupakan proses kompleks yang melibatkan proses perubahan induksi enzim di dalam metabolisme dan perubahan-perubahan pada sistem saraf.

Toleransi akut dapat terjadi beberapa jam setelah minum alkohol. Toleransi akut diperlihatkan dengan mengukur kelainan tingkah laku pada kadar plasma alkohol beberapa menit dan setelah beberapa jam alkohol diberikan. Ternyata kelainan perilaku lebih besar terjadi pada saat awal alkohol diberikan. Toleransi kronik terjadi pada peminum berat alkohol yang berlangsung lama.

Ketergantungan fisik diperlihatkan dengan gejala putus obat bila konsumsi alkohol dihentikan. Gejala yang terjadi serta beratnya ketergantungan ditentukan oleh jumlah serta lamanya konsumsi. Gejala tersebut diantaranya gangguan tidur, aktivasi saraf simpatis, tremor. Pada gejala yang lebih berat dapat berupa delirium tremens yang ditandai dengan halusinasi, delirium, demam, dan takikardia yang kadang-kadang berakibat fatal. Salah satu aspek dari ketergantungan ialah keinginan yang sangat kuat/ketagihan (craving) untuk mendapatkan alkohol, yang sering dikenal sebagai ketergantungan psikis.

Peminum alkohol berat sering mengalami kecelakaan, kehilangan produktivitas, terlibat kejahatan, mendapat gangguan kesehatan hingga terjadi kematian. Peminum alkohol berat juga sering terlibat dengan penggunaan obat-obat lain termasuk hipnotik-sedatif, perangsang SSP (golongan amfetamin), dan bahkan juga narkotik. Kematian yang berhubungan dengan konsumsi alkohol pada umumnya disebabkan penyakit hati, kanker, kecelakaan dan bunuh diri.

Absorbsi oral alkohol berlangsung secara cepat di lambung dan usus halus. Kadar puncak plasma pada keadaan puasa dicapai dalam waktu 30 menit. Karena absorbsi berlangsung lebih cepat pada usus halus daripada di lambung, penundaan pengosongan lambung (misalnya dengan adanya makanan) dapat memperlambat absorbsi alkohol.

Distribusi alkohol berlangsung cepat dan tersebar merata ke seluruh jaringan dan cairan tubuh. Volume of distribution (Vd) alkohol kira-kira sama dengan total cairan tubuh (0,5 – 0,7 L/kg). Pada SSP, kadar alkohol meningkat secara cepat sebab otak menerima aliran darah yang banyak dan alkohol dapat melewati sawar darah otak. Alkohol juga dapat menembus sawar plasenta dan masuk ke dalam janin.

Metabolisme alkohol berlangsung terutama di hati dan mengikuti kinetic zero order, artinya jumlah yang dimetabolisme tetap per satuan waktu, terlepas dari tinggi rendahnya kadar. Alkohol mengalami metabolisme presistemik oleh enzim alcohol dehidrogenase (ADH) di lambung dan hati. Oksidasi alkohol menjadi asetaldehid dilakukan oleh ADH, katalase, dan sitokrom P450. Astaldehid akan diubah secara cepat menjadi asetat dan aldehid dehirogenase yang ada di sitosol dan mitokondria di hati. Asetaldehid akan menumpuk jika tidak tersedia cukup enzim ADH. Penggunaan alkohol secara kronik meningkatkan kapasitas metabolisme terhadap alkohol sendiri. Terdapat polimorfisme genetic dari ADH dan aldehid dehidrogenase, variant memperlihatkan kemampuan katabolisme alkohol yang berbeda.

Eksresi alkohol melewati paru-paru dan urin. Hanya 2-10 % yang dieksresikan dalam bentuk utuh.

Interaksi farmakokinetik yang paling sering terjadi antara alkohol dan obat lain ialah akibat induksi sistem endoplasmic reticulum sel hati oleh alkohol yang dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka waktu lama sehingga alkohol memacu metabolisme obat lain. Sebaliknya, pada konsumsi akut, alkohol malah menghambat metabolisme obat lain seperti fenotiazin dan hipnotik-sedatif (membahayakan pasien yang memerlukan keterampilan dalam aktivitasnya), antidepresan trisiklik, dan asetosal (meningkatkan resiko perdarahan lambung). Interaksi secara farmakodinamik terjadi antara alkohol dengan pendepresi SSP, vasodilatator, dan hipoglikemik oral. Alkohol juga memacu aktivitas antiplatelet asetosal.

Gambaran klinis keracunan (intoksikasi) alkohol berupa mabuk, inkoordinasi otot, penglihatan kabur karena metil alcohol yang dapat membutakan, terganggunya gerak refleks, eksitasi, takikardia dan pernafasan lambat, gangguan kesadaran sampai koma. Gejala ini menonjol bila kadar alkohol di dalam darah meningkat. Kadar alkohol setinggi 80 mg % akan menyebabkan gambaran mabuk yang jelas. Pada individu yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah sedang yaitu konsetrasi dalam darah diatas 100 mg/dL, kontraktilitas otot jantungnya mengalami depresi sehingga mengakibatkan kelemahan otot. Pada anak-anak dapat terjadi hipoglikemia berat dan konvulsi. Kadar 300 mg% merupakan tingkat berbahaya bagi kehidupan. Kadar rata-rata alkohol darah pada kasus fatal terjadi di atas 400 mg%.

Alkohol dalam dosis besar meningkatkan efek metabolik bertingkat sehingga hati dan saluran pencernaan mengalami kerusakan. Hal ini disebabkan oleh asetaldehid yang bersifat toksik karena dapat merusak protein seperti enzim dan menghasilkan derivate protein imunogenik. Akibatnya terjadi defisiensi vitamin dan nutrisi serta gangguan saluran cerna dan fungsi hati. Efek dapat berupa terjadinya infiltrasi lemak, hepatitis, dan sirosis. Penumpukan lemak di hati merupakan gejala dini pada alkoholisme, yang terjadi akibat penghambatan siklus trikarboksilat dan oksidasi lemak yang sebagian berhubungan dengan adanya NADH berlebih yang dihasilkan enzim ADH. Perlemakan hati karena alkohol dapat berlanjut menjadi hepatitis dan selanjutnya menjadi sirosis yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kematian. Pecandu alkohol juga dapat menderita hipoglikemia karena nutrisi buruk dan pengosongan glikogen hati.

Adanya penurunan kadar enzim pencernaan yang bersifat ireversibel pada penggunaan alkohol secara kronis menyebabkan kegagalan absorbsi berbagai vitamin dan tiamin. Selain itu, terjadi pula perubahan bentuk vili yang menyebabkan pengguna alkohol mengalami diare kronik, kehilangan berat badan, dan kekurangan vitamin. Akibatnya menambah berat gejala neuropsikiatrik dan terjadinya ensefalopati Wernicke, psikosis Kosakoff, polyneuritis dan penyakit jantung karena beri-beri.

Minuman yang mengandung alkohol lebih dari 40 % memiliki efek toksik langsung terhadap mukosa lambung. Konsumsi alkohol meningkatkan sekresi lambung dan pankreas serta mengubah sawar mukosa yang meningkatkan risiko gastritis, perdarahan gastrointestinal akut, dan pankreatitis. Alkohol merangsang sekresi asam lambung lewat perangsangan saraf sensoris dan melepaskan gastrin serta histamine. Mukosa lambung pada peminum alkohol berat dapat rusak dan terjadi gastritis akut maupun kronik.

Alkohol juga dihubungkan dengan timbulnya gejala refluks esophagus. Alkohol sering merupakan penyebab utama atau salah satu faktor terjadinya disfungsi esophagus. Penggunaan alkohol kronis meningkatkan risiko kanker pada mulut, faring, laring, esophagus, dan hati. Alkohol sendiri tidak bersifat karsinogen namun minuman alkohol dapat mengandung zat-zat bersifat karsinogen yang terbentuk saat fermentasi atau proses pembuatannya serta dapat mengubah fungsi hati yang meningkatkan aktivitas zat karsinogen potensial.

Pecandu alkohol kronis juga beresiko tinggi kehilangan darah dan protein plasma selama minum alkohol sehingga menimbulkan anemia dan kekurangan protein. Selain anemia karena defisiensi asam folat akibat penggunaan alkohol, anemia defisiensi zat besi juga dapat terjadi karena perdarahan lambung. Kelainan trombosit dan leukosit dan hiperlipidemia juga dialami akibat konsumsi alkohol yang kronis.

Susunan saraf pusat sangat dipengaruhi pada konsumsi alkohol akut. Konsumsi alkohol pada kadar tinggi berefek sedasi dan antiansietas serta menyebabkan bicara tak jelas, ataksia, tak dapat menentukan keputusan, kemampuan menyatakan pendapat terganggu, tingkah laku tidak terkontrol dan perilaku disinhibisi yang dapat menimbukan kesan adanya efek stimulasi SSP dari alkohol. Konsumsi alkohol secara kronis dapat menyebabkan gangguan mental dan neurologis yang berat berupa hilangnya ingatan, gangguan tidur dan psikis.

Konsumsi alkohol sering menyebabkan kelemahan ingatan jangka pendek. Bila dikonsumsi dalam jumlah besar dan waktu lama (biasanya bertahun-tahun) dapat menyebabkan gangguan neurologis berupa kelemahan fungsi intelektual dan motorik, emosi labil, penurunan ketajaman, persepsi dan amnesia. Proses mental yang dipengaruhi paling awal ialah yang berhubungan dengan pengalaman dan latihan, yang berperan dalam proses terjadinya kebijaksanaan dan pengendalian diri. Rasa kepercayaan diri meningkat, kepribadian menjadi ekspansif dan bersemangat, perasaan tidak terkontrol dan letupan emosi menjadi nyata. Daya ingat, konsentrasi, dan daya mawas diri menjadi tumpul lalu hilang. Kecemasan yang tinggi terjadi pada awal berhenti minum dan terus terjadi sampai berbulan-bulan setelah berhenti minum.

Perubahan psikis ini disertai gangguan sensorik dan motorik. Kerusakan saraf perifer simetris yang merata merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada pecandu alkohol kronis. Pasien akan menunjukkan gejala mati rasa di kedua kaki, gatal dan kesemutan. Selain itu penderita juga akan mengalami sindrom Wernicke-Korsakoff yang ditandai dengan kelumpuhan otot-otot mata eksternal, ataksia, dan perubahan aktivitas mental berupa amnesia dan kelemahan fungsi ingatan. Panjangnya keadaan kebingungan pada penyakit Korsakoff dan relative tidak ada agitasi yang dapat terjadi selama masa putus obat dapat menjadi tanda gejala yang membedakan dengan keadaan kebingungan akut yang disebabkan oleh intoksikasi alkohol akut, yang memiliki tambahan gejala berupa kelainan persepsi dan tingkah laku.

Alkohol dapat mengurangi waktu masuk/jatuh tidur dan tidur REM tetapi meningkatkan waktu tidur non-REM. Dalam tiga hari penggunaan, efek memudahkan masuk/jatuh tidur hilang, disusul rebound bila konsumsi alkohol dihentikan. Alkohol juga dapat mengurangi ketajaman penglihatan, penglihatan menjadi kabur tanpa rasa sakit pada kedua mata yang timbul beberapa minggu setelah mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar. Dapat pula terjadi degenerasi nervus optikus.

Pada peminum berat untuk waktu lama dapat terjadi kardiomiopati, aritmia jantung, peningkatan tekanan darah, dan gangguan keseimbangan elektrolit. Efek langsung alkohol terhadap sirkulasi sangat kecil. Depresi kardiovaskular yang terjadi pada keracunan akut alkohol yang berat disebabkan oleh faktor sentral dan depresi napas. Alkohol dosis sedang menimbulkan vasodilatasi terutama di pembuluh darah kulit dan menimbulkan rasa hangat dan kulit merah. Vasodilatasi ini terjadi karena hambatan vasomotor secara sentral. Penggunaan alkohol berlebih jangka panjang menyebabkan kerusakan jantung menetap dan merupakan penyebab utama kardiomiopati. Pasien yang mengalami gejala putus alkohol biasanya disertai gejala aritmia berat, serangan jantung dan sinkop yang berujung pada kematian mendadak.

Adanya ganguan keseimbangan mineral seperti defisiensi seng dapat menyebabkan kemandulan. Meskipun alkohol dapat meningkatkan gairah seksual namun alkohol justru menurunkan kemampuan ereksi. Bahkan alkohol dapat menyebabkan atrofi testis, penurunan volume ejakulasi dan jumlah sperma

Faktor genetik berperan dalam menentukan penggunaan alKohol pada manusia dan komplikasi medisnya. Frekuensi pecandu alKohol dengan orangtua biologis pecandu alKohol akan meningkat 4 kali lebih besar dibandingkan dengan orangtua bukan pecandu.

Tekanan darah rendah (hipotensi) merupakan suatu kondisi ketika tekanan darah (sistolik, diastolik, ataupun keduanya) lebih rendah dari nilai normal yang umum ditemukan pada individu normal. Gangguan ini tidak jarang mengarah kepada suatu kondisi patologis (kelainan) tertentu. Meskipun bisa juga ditemukan pada individu tanpa kelainan jantung. 

Untuk batasan tekanan darah rendah, tidak ada batasan yang baku. Meskipun begitu, penting untuk mendeteksi adanya hipotensi pada individu tertentu. Pada individu dengan riwayat tekanan darah tinggi, penurunan tekanan darah lebih dari 30 mmHg secara mendadak dapat dikatakan hipotensi meskipun nilai tekanan darahnya masih normal. Untuk kelompok individu yang nilai tekanan darahnya tidak pernah tinggi atau cenderung rendah juga tidak memiliki batasan baku. Namun nilai tekanan darah kurang dari 90/60 mmHg sering dipakai untuk menunjuk ada tidaknya hipotensi pada seseorang. Artinya, bila tekanan darah sistolik kurang dari 90 mmHg, atau tekanan darah diastolik kurang dari 60 mmHg, atau kombinasi antara kedua nilai sistolik dan diastolik tersebut.

Tidak semua penderita tekanan darah rendah menunjukkan gejala. Tekanan darah rendah sering ditemukan insidental atau tidak sengaja dalam praktik sehari-hari tanpa keluhan bermakna. Tekanan darah rendah kadang tidak memberikan gangguan terutama bila aktivitas tidak terlalu berat. Pada individu yang terlatih seperti atlet, tekanan darah rendah juga sering terjadi tanpa keluhan apapun. Lalu kapan tekanan darah rendah akan menimbulkan gejala ?

Gejala hipotensi akan timbul bila penurunan tekanan darah disertai penurunan aliran darah ke organ tertentu yang kemudian mengganggu fungsinya. Jika penurunan aliran darah berlangsung lama tentu akan timbul gangguan fungsi organ yang berat. Gejala yang sering timbul antara lain pusing, sempoyongan, pingsan saat dalam keadaan berdiri, berjalan atau posisi tegak akibat gangguan aliran darah ke otak. Keluhan ini dapat timbul saat perubahan posisi dari berbaring atau duduk ke posisi berdiri (hipotensi ortostatik). Ada kemungkinan disertai dengan keluarnya keringat dingin, tangan dan kaki yang juga menjadi dingin. Apabila gangguan aliran darah terjadi di arteri koroner (pembuluh darah jantung), dapat menimbulkan nyeri dada akibat gangguan fungsi otot jantung. Bila aliran darah menurun ke ginjal, fungsi ginjal dapat menurun dan salah satu tandanya adalah penurunan produksi air seni. Secara umum, fungsi semua organ dapat terganggu bila aliran darah ke organ tersebut menurun dengan gejala dan tanda sesuai organ yang terlibat.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan hipotensi. Akan tetapi tidak semua hipotensi memiliki faktor yang perlu dicemaskan. Meskipun demikian, bila mengalami hipotensi sebaiknya berobat untuk mencari faktor penyebab/predisposisi yang berpeluang mengganggu kesehatan di kemudian hari. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan hipotensi antara lain :
  • Dehidrasi yang sering timbul akibat sulit makan, muntah, atau diare yang diikuti kehilangan cairan tubuh bermakna. Selain itu dehidrasi juga dapat timbul akibat keringat berlebihan, demam tinggi, atau udara yang sangat panas. Gejala awal biasanya rasa haus yang meningkat. Pada kondisi lebih erat dapat timbul hipotensi dan gangguan fungsi organ.
  • Perdarahan dapat menimbulkan hipotensi akibat kehilangan volume darah. Penyebabnya antara lain trauma, operasi, perdarahan saluran cerna.
  • Obat-obatan yang dapat mencetuskan penurunan tekanan darah mendadak atau perlahan. Antara lain obat untuk tekanan darah tinggi terutama bila obat dikonsumsi lebih dari satu jenis. Perhatikanlah cara minum obat agar tekanan darah tidak turun berlebihan. Selain itu obat-obat antidepresi, alkohol dan narkotika juga dapat menimbulkan hal yang sama.
  • Infeksi di dalam tubuh terutama pada infeksi berat, dapat menyebabkan hipotensi akibat akumulasi cairan di tempat infeksi atau tempat lain. Selain itu pengaruh zat-zat inflamasi juga dapat menyebabkan penurunan tekanan darah lebih lanjut.
  • Kelainan endokrin dapat menimbulkan tekanan darah rendah seperti pada gangguan hipotiroid, hipertiroid dan gula darah yang tinggi.
  • Hipotensi akibat kelainan jantung dapat terjadi dari hasil manifestasi pada gagal jantung (lemah jantung) akibat penurunan fungsi pompa jantung, serangan jantung koroner (infark miokard akut), gangguan irama jantung baik yang terlalu lambat (bradikardia) ataupun terlalu cepat (takikardia), kelainan katup (kekakuan katup mitral dan aorta), emboli paru, dan infeksi di jantung.
  • Reaksi anafilaksis akibat reaksi alergi terhadap obat-obatan tertentu.

Bila tekanan darah rendah sudah berlangsung cukup lama, stabil, tidak ada keluhan terutama saat aktivitas sehari-hari dan tidak ada kelainan struktural tertentu, maka tidak ada yang perlu dikuatirkan. Sebaiknya pastikan terlebih dahulu dengan cara memeriksakan diri ke rumah sakit. Individu yang menderita hipotensi memiliki resiko lebih rendah mengalami kelainan jantung di kemudian hari. Akan tetapi bila hipotensi berhubungan dengan penyakit tertentu tentu saja dapat menimbulkan gangguan bila tidak diatasi.

Penanganan dan pengobatan hipotensi berkaitan dengan penyebabnya. Bila tidak ada kelainan lain dan tidak ada keluhan tentu tidak pula memerlukan pengobatan apa pun. Apabila tekanan darah rendah sering menimbulkan gangguan seperti pusing, sedangkan gangguan lain tidak ada, maka dianjurkan meningkatkan asupan garam dalam makanan. Tidak ada intervensi khusus dalam hal ini. Bila ada perdarahan, dehidrasi, konsumsi obat yang berpotensi menurunkan tekanan darah, gangguan irama jantung, gangguan endokrin (hormon), dan kelainan jantung, tentu pengobatannya sesuai dengan penyebab yang mendasarinya. Untuk tata laksana jangka panjangnya sebaiknya diawasi oleh dokter. Penanganan ini berlaku pada pria dan wanita.

Adanya bahaya pada hipotensi ditentukan oleh adanya bahaya pada penyebab yang mendasarinya. Bila disebabkan oleh gangguan pompa jantung atau kekakuan berat katup mitral atau aorta, prognosisnya sering tidak baik. Bila tidak ada kelainan apa-apa tentu tidak ada bahayanya. 

Baik tekanan darah rendah maupun tekanan darah tinggi, bila disebabkan oleh kelainan yang serius akan menjadi sama tingkat bahayanya. Namun memang sudah sejak lama diketahui bahwa hipertensi menjadi faktor resiko kuat terjadinya gagal jantung, serangan jantung koroner, stroke, bahkan kematian.

Suatu sel yang kuat dan sejahtera akan menghasilkan organ yang kuat dan secara otomatis tubuh akan mampu melakukan tugas dan melawan segala macam gangguan yang muncul. Bilamana sel tidak kuat dan tidak baik maka pada tahap awal akan terjadi suatu ketidakseimbangan kerja di dalam tubuh yang disebut sebagai dis-ease (dis=tidak ada ; ease=kenyamanan). Bila hal ini terus berlangsung, muncullah disease (penyakit) dan jika berlarut-larut timbul malapetaka, sakit atau catastrophy.

Membenahi dan mengatasi dis-ease, disease, dan catastrophy tidak cukup hanya dengan mengatasi gejala atau symptom tetapi harus mencapai akar masalahnya. Sistem yang baik bermula dari sel yang baik. Untuk mendapatkan sel yang kuat dan sistem yang paripurna, muncullah suatu pendekatan khusus yang kini dikenal dengan Kedokteran Bio-Identik. Ilmu ini mulai diperkenalkan tahun 2007 oleh salah satu pengusungnya yaitu Edward Lichten. Bio-Identik terdiri dari kata bio (biologis) dan identik (sama), jadi artinya sama dengan apa yang ada di dalam tubuh manusia. Ilmu ini mengusung upaya menyembuhkan suatu penyakit dengan memperbaiki kekurangan yang terjadi pada tubuh. Caranya dengan memasok bahan yang tersusun molekul yang identik dengan struktur endogen (struktur yang ada pada sel tubuh) pada manusia.

Maka dengan kata lain, untuk mengobati suatu penyakit diperlukan perbaikan suatu sistem. Untuk perbaikan sistem diperlukan optimalisasi dari sel-sel yang menyusun sistem tersebut. Optimalisasi sel tersebut hanya bisa diberikan oleh molekul yang sesuai dan diperlukan sel melalui komposisi nutrisi yang sesuai. Seorang dokter naturopati bekerja untuk melakukan restorasi dan mendukung sistem tubuh dengan menggunakan bahan-bahan alami. Tujuannya untuk memperbaiki bagian tubuh yang bermasalah sehingga akan terjadi harmonisasi sel-sel tubuh melalui proses yang alami pula.

Munculnya pendekatan bio-identik ini berawal dari terapi hormon yang beresiko kegagalan dan resiko akibat pemberian pengobatan dengan hormon sintetik. Seiring kemajuan bioteknologi, mulailah dilakukan upaya penyembuhan penyakit dengan perbaikan pada tingkat sel dengan metode bioidentik ini. Targetnya bukan sekedar penyembuhan penyakit, namun yang lebih penting untuk memperkuat sistem tubuh sebelum muncul gangguan atau penyakit. Dalam kedokteran bio-identik, terdapat 4 pilar utama dalam pelaksanaannya yaitu bio-revitalisasi, bio-marker, bio-nutrisi, dan bio-molekuler.

Bio-revitalisasi berperan paling penting untuk menguatkan kembali 7 sistem tubuh untuk mengatasi 7 kelainan atau sindrom, yaitu : 
  1. Sindrom metabolik yang berkaitan dengan sistem metabolik tubuh, yaitu mengubah zat-zat makanan yang masuk ke dalam tubuh menjadi energi sekaligus sistem yang membuang zat-zat yang tak diperlukan oleh tubuh dan jika dibiarkan beresiko munculnya penyakit diabetes dan penyakit-penyakit kardiovaskular.
  2. Sindrom kardiovaskular yang jika tidak diurus akan memicu penyumbatan pembuluh darah, serangan jantung, stroke, dan lainnya
  3. Sindrom kekebalan tubuh yang jika berlarut-larut akan menimbulkan peradangan, alergi, dan lainnya.
  4. Sindrom hormon yang berlanjut dengan sindrom menstruasi, menopause dini, dan menurunnya gairah seksual. 
  5. Sindrom tulang yang akan memicu osteoporosis (keropos tulang) dan osteoartritis (radang tulang) dini.
  6. Sindrom malabsorbsi yang akan menyebabkan gangguan pencernaan seperti sering kembung, pola buang air besar yang tidak baik, dan lainnya.
  7. Sindrom stres yang jika tidak dilakukan manajemen stres akan berdampak buruk pada pengaturan sistem hormon.
Untuk mengetahui fungsi biologis yang bermasalah, dalam kedokteran bio-identik dilakukan screening yaitu bio-marker berupa Personalized Genetic Health untuk mengetahui fungsi gen seseorang sehingga dapat diketahui resiko penyakit yang akan muncul sebelum penyakitnya muncul. Yang diperiksa adalah fungsi DNA, yaitu :
  • metilasi (kemampuan gen yang mencerminkan resiko gangguan kardiovaskuler), 
  • inflamasi (untuk mengetahui resiko peradangan dalam tubuh sebagai cerminan turunnya sistem kekebalan tubuh),
  • glikasi (fungsi pengikatan glukosa oleh protein yang menentukan pengaturan komposisi lemak tubuh dan kontrol gula darah), 
  • oksidasi (terkait dengan munculnya penyakit degeneratif).
Sel tubuh manusia sangat bergantung pada nutrisi yang tepat, artinya segala sesuatu yang dimakan maka zat-zat nutrisi didalamnya akan berinteraksi dengan sel dan gen tubuh untuk mencukupi kebutuhan biologis sel dan untuk mengatasi kelemahan sistem tubuh. Dengan mengetahui bio-marker yang bermasalah maka akan dapat ditentukan nutrisi yang tepat dan baik untuk diberikan pada orang yang menderita masalah tersebut.

Penatalaksanaan yang lebih rinci dan spesifik pada pendekatan bio-identik adalah dengan melakukan intervensi biomolekuler, yaitu dengan meberikan struktur molekul tertentu dari nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan molekul sel yang mengalami kelemahan atau gangguan. Pemberian biomolekuler dimaksudkan untuk memperbaiki struktur organik sel yang berperan penting untuk memperbaiki dan mengatur metabolisme primer dan metabolisme sekunder pada tingkat terdasar dalam gen. Bila bio-nutrisi menggunakan komponen mikronutrisi di dalam suatu kandungan bahan alami maka biomolekuler dilakukan dengan melakukan ekstraksi kandungan bio-aktif komponen di dalam unsur mikronutrisi bahan alami.

Sumber : Nirmala

Para pakar kesehatan di London mengeluarkan peringatan mengejutkan: duduk itu mematikan. Mereka memperingatkan bahwa duduk dalam jangka waktu lama, meski Anda juga berolah raga secara teratur, dapat berakibat buruk bagi kesehatan.

Tempat Anda duduk pun tak jadi soal, entah di kantor, sekolah, mobil, serta di depan komputer atau televisi. Masalahnya adalah, berapa lama Anda melakukannya. 

Riset para ilmuwan itu memang masih penelitian pendahuluan. Tapi sejumlah studi menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk cenderung menjadi gemuk, terkena serangan jantung, atau, bahkan, meninggal.

Dalam editorial British Journal of Sports Medicine, pekan ini, Elin Ekblom-Bak dari Swedish School of Sport and Health Sciences memberi saran agar pejabat kesehatan memikirkan kembali bagaimana mereka mendefinisikan aktivitas fisik untuk menyoroti bahaya duduk.

Pejabat kesehatan telah mengeluarkan panduan yang merekomendasikan kegiatan fisik minimum agar seseorang tetap bugar, namun mereka tidak memberikan saran kepada orang untuk membatasi berapa banyak waktu yang dihabiskan dalam posisi duduk. "Setelah empat jam duduk, tubuh mulai mengirimkan sinyal berbahaya," kata Ekblom-Bak. Dia menjelaskan bahwa gen yang mengatur jumlah glukosa dan lemak dalam tubuh mulai padam.

Meskipun orang itu rutin berolah raga, menghabiskan waktu lama duduk di depan meja tetap berbahaya. Tim Armstrong, pakar kegiatan fisik di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan orang yang berolah raga setiap hari, namun masih menghabiskan banyak waktu dengan duduk, baru memperoleh manfaat jika olah raga itu dilakukan beberapa kali dalam sehari daripada dilakukan hanya sekali. 
 
 Dalam sebuah studi yang dipublikasikan tahun lalu, para ilmuwan yang melakukan pemantauan terhadap 17 ribu warga Kanada selama beberapa tahun menemukan bahwa orang yang banyak duduk memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi, entah mereka berolah raga atau tidak.


"Kami belum memiliki bukti yang cukup untuk menyatakan berapa lama duduk yang berbahaya," kata Peter Katzmarzyk dari Pennington Biomedical Research Center di Baton Rouge, Amerika, yang memimpin studi itu. "Tapi tampaknya, makin sering Anda berdiri dan menyela perilaku tak bergerak itu, makin bagus."

Survei yang dilakukan sebuah lembaga di Amerika Serikat pada 2003-2004 menunjukkan bahwa orang Amerika menghabiskan lebih dari separuh waktu mereka di atas kursi, mulai bekerja di depan meja sampai di balik kemudi mobil.

Para ilmuwan menyatakan perlu lebih banyak riset untuk mengetahui duduk berapa lama yang berbahaya dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengaruh buruk tersebut.

"Orang harus tetap berolahraga karena itu mempunyai banyak manfaat," kata Ekblom-Bak. "Tapi ketika mereka di kantor, mereka harus berusaha menyela aktivitasnya di atas kursi sesering mungkin. Jangan mengirim e-mail kepada rekan sekantor. Berjalan dan bicara langsung padanya. Berdiri."

Sungguh Allah Sudah mengatur Kehidupan kita dengan Porsi dan batasan tertentu kita di didik untuk tidak berlebihan dalam segala hal baik dalam ibadah, aktivitas dll karena sesuatu yang berlebihan bisa mendatangkan suatu ke mudaratan baik bagi kehidupan dunia maupun akhirat nanti, jadi jalanilah hidup ini dengan keseimbagan antara ibadah dan aktivitas ke dunia an, subanallah ilmu pengetahuan telah membuktikan kebenaran Dalam Al-Qur'an

Dan janganlah kamu berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (al-Maa’idah [5]: 87)

Sudahkah Kita memahami dan meyakini ayat - ayat Al-Qur'an secara baik dan benar dalam kehidupan kita ? mari saatnya kita menggali ilmu dalam Al- Qur'an ayat per ayat tiap harinya karena kemajuan IPTEK dan teknologi dunia hanya bersumber dari Firman Allah karena tanpa Al-qur'an kehidupan dunia modern tidak akan maju sehebat sekarang ini, namun sayangnya generasi muda masih jauh dari Al- Qur'an padahal Allah Berfirman :

Allah Memberikan hikmat kebijaksanaan (ilmu) kepada siapa yang ia kehendaki, barangsiapa diberi hikmat, sesungguhnya dia diberi kebaikan yang banyak dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang - orang yang mempunyai akal sehat. [QS. Al-Baqarah (2):269]

copy from http://www.facebook.com/notes/kembang-anggrek/terlalu-banyak-duduk-undang-kematian/10150089037040570



 

Tubuh kita ini ada batasnya. Bila diibaratkan sebagai mesin mobil, tubuh manusia pun perlu istirahat karena bila terus dipaksa untuk beraktifitas maka tubuh kita akan mengalami kelelahan. Kelelahan terjadi karena dipaksanya fisik dan mental untuk bekerja secara terus menerus tanpa istirahat yang cukup. Kelelahan ini dapat berakibat serius bagi kesehatan dan makin diperburuk oleh konsumsi rokok yang terus menerus disertai konsumsi kopi yang berlebihan serta konsumsi suplemen dan minuman berenergi yang umumnya mengandung ginseng dan kafein.

Dampak kelelahan ini adalah gangguan kesehatan secara umum, kambuhnya berbagai penyakit kronis dan menurunnya daya tahan tubuh seseorang. Kelelahan berhubungan dengan berbagai gangguan kesehatan seperti gangguan sistim pencernaan, gangguan sistim jantung dan pembuluh darah termasuk pembuluh darah otak serta penurunan daya tahan tubuh. Kelelahan serta stress yang tinggi juga akan sangat mengganggu proses metabolisme dan hormonal di dalam tubuh kita.

Kelelahan fisik dan psikis akan memperburuk daya tahan tubuh seseorang yang mengalami kelelahan tersebut karena mereka akan mudah terkena infeksi virus seperti virus flu, mudah terjadi infeksi usus berupa diare mereka juga rentan terkena infeksi virus Hepatitis, Demam Thypoid dan virus demam berdarah. Mereka yang mengalami kelelahan juga sebenarnya sudah tidak berkonsentrasi dan bekerja dengan baik selain itu emosinya juga menjadi tinggi. Kecelakaan lalu lintas sering terjadi pada pengendara yang sedang mengalami kelelahan tersebut. Berbagai penyakit kronis dapat menjadi kambuh jika seseorang mengalami kelelahan antara lain sakit maag, gangguan kejiwaan, asma, Diabetes Mellitus, hipertensi, stroke dan serangan jantung.

Gangguan pencernaan merupakan hal utama yang terjadi jika seseorang mengalami kelelahan. Keluhan pencernaan yang timbul antara lain nafsu makan berkurang dimana hal ini akan memperparah kondisi fisik yang sedang mengalami kelelahan tersebut. Seseorang yang mengalami kelelahan juga akan mengalami mual bahkan muntah serta nyeri di ulu hati. Apabila sudah ditemukan adanya gangguan kesehatan seperti mual muntah dan sakit kepala serta nyeri dada adalah peringatan agar berhenti beraktifitas untuk mengobati gangguan kesehatan yang terjadi.

Ketika seseorang telah mengalami puncak kelelahan yang telah terakumulasi selama beberapa waktu, maka mereka beresiko besar mengalami serangan jantung yang salah satu tandanya adalah nyeri dada. Serangan jantung sendiri sebenarnya bukan terjadi tiba-tiba tetapi merupakan suatu proses. Faktor risiko untuk terjadinya serangan jantung tersebut sebenarnya dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan laboratorium. Ada beberapa penyakit yang nilainya hanya diketahui dengan pemeriksaan antara lain pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan urin dan tinja, pemeriksaan gula darah, kadar kolesterol darah, kadar asam urat, pemeriksaan fungsi ginjal dan fungsi hati. Selain itu pemeriksaan tekanan darah penting untuk mengetahui adanya hipertensi. Oleh karena itu dengan pemeriksaan kesehatan rutin terutama untuk masyarakat yang sudah berumur diatas 40 tahun merupakan suatu hal yang penting. Secara khusus untuk jantung pemeriksaan EKG saat istirahat dan pemeriksaan Treadmil Test (TMT) merupakan skrining yang baik untuk mengidentifikasi adanya gangguan jantung.

Selain pemeriksaan kesehatan rutin, maka bagi masyarakat yang memang super sibuk diminta untuk tetap mempertahankan jumlah tidur minimal 6 jam sehari, dimana ada kesempatan untuk beristirahat maka dianjurkan untuk beristirahat. Tetap memperhatikan waktu makan minimal tiap 6 jam, sebaiknya disela waktu makan ada makanan yang diskonsumsi terutama makanan yang sehat tidak mengandung coklat, keju, berlemak dan mengurangi goring - gorengan. Namun air putih harus tetap dipertahankan sebanyak minimal 2 liter per hari . Lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayur - sayuran. Diwaktu antara makan baik juga untuk selalu mengkonsumis buah. Mengurangi menghisap rokok, minuman bersoda, dan minum kopi jangan berlebih-lebihan maksimal 2 gelas sehari. Suplemen sebaiknya juga jangan berlebihan dikonsumsi dan sebaiknya juga dihindari minuman yang berkafein atau mengandung ginseng. Karena sebenarnya yang dibutuhkan tubuh saat itu adalah istirahat. Selain itu juga yang terpenting melakukan olah raga secara teratur.

Pipi tembem disebabkan karena adanya penumpukan lemak di bawah kulit secara berlebihan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan terapi mini lipusuction. Tindakan ini merupakan cara untuk membuang lemak pd bagian tubuh atau wajah yg tidak diinginkan dgn menggunakan kanula atau pipa tumpul sepanjang 12 cm berdiameter 2-3 mm.

Prosedur terapi merupakan operasi kecil dgn pembiusan lokal dan dapat selesai dalam 1 jam. Setelah operasi selesai maka pipi ditekan dgn pembalut tekan selama 5-7 hari. Terapi ini hanya dilakukan satu kali seumur hidup karena hasilnya bersifat permanen.

Utk efek samping mini liposuction,tidak ada yg membahayakan. Memar kebiruan sedikit adalah hal yg normal terjadi dan akan hilang dalam beberapa hari. Namun begitu,hasil dari terapi bisa saja membuat pipi kurang rata apabila dokter operator kurang berpengalaman. Oleh karena itu,lakukanlah pd dokter ahli yg berpengalaman.

Ada yg mengira bahwa cara "mengempiskan" pipi tembem adalah dgn cara botox. Namun ternyata kondisi yg biasa "dibotox" adalah rahang besar pd wajah persegi,yg disebabkan karena otot pengunyah (masseter) mengalami hipertrofi (pembesaran).

Utk membuat wajah terlihat tirus,suntikan botox cukup dilakukan satu kali pd pipi bagian bawah di depan telinga. Namun setelah 3-4 bulan biasanya akan kembali lagi ke kondisi semula. Oleh karena itu diperlukan kembali suntikan berikutnya.

Keringat berlebih pd telapak tangan dan kaki belum tentu merupakan petanda penyakit. Keringat yg berlebih dapat disebabkan oleh produksinya yg meningkat akibat saraf simpatis aktif bekerja. Keluhan ini bisa merupakan pertanda adanya kelainan produksi kelenjar keringat pd tangan dan kaki maupun kelainan/gangguan fungsi hormon tubuh lainnya. Keluhan ini perlu mendapatkan perhatian karena bisa saja merupakan gejala penyakit hipertiroid,yaitu suatu keadaan akibat peningkatan hormon tiroid bebas dalam darah.

Gejala penyakit hipertiroid selain dgn gejala keluarnya keringat berlebih pd telapak tangan dan telapak kaki juga disertai tanda2 lain,yaitu tremor halus (gemetaran),suara parau,eksopthalmus (bola mata besar dan menonjol),sering lapar,rasa gerah/panas badan di dalam,dan badan bertambah kurus. Hal pertama yg dilakukam adalah pemeriksaan darah utk mengetahui aktifitas kelenjar tiroid,bila benar merupakan kelainan di kelenjar itu maka hal tersebut harus dikonsultasikan pd seorang ahli penyakit dalam subspesialisasi endokrin.

Keringat berlebih pd penyakit jantung biasanya terjadi jika seseorang sedang menderita serangan jantung,namun gejala keringat berlebih pd serangan jantung tersebut hanya merupakan salah satu tanda saja (tidak khas). Oleh sebab itu masyarakat sebaiknya melakukan tradmill test setahun sekali utk mengetahui apakah ada positive ischemic response. Laki2 usia lebih dari 40 tahun atau perempuan di atas 50 tahun sebaiknya melakukan treadmill test setahun sekali utk mengetahui kelainan jantung.

Beberapa tanda yg dapat membedakan antara gejala sakit jantung dgn penyakit tiroid,yaitu :
1. sakit dada yg meningkat dgn bertambahnya aktivitas dan menurun dgn berkurangnya aktivitas.
2. mengeluh sakit dada,tekanan darah tinggi,merokok,sakit gula,kolesterol tinggi dan riwayat keluarga sakit jantung koroner usia muda serta stres yg berlebih.
3. ada riwayat jantung koroner sebelumnya.
4. dari pemeriksaan EKG atau treadmill test,ada kelainan yg menunjukkan iskemia atau infark.
5. ada peningkatan kadar enzim jantung,troponin dan CK-MB dari pemeriksaan darah.

Penggunaan air panas saat mandi dan membasuh muka sering menjadi tips kecantikan yg banyak direkomendasikan,namun ternyata dari segi medis hal itu tidak dibenarkan. Pemakaian air panas secara rutin dapat menyebabkan kulit menjadi lebih sensitif. Air panas akan mengakibatkan terjadinya pengikisan lapisan mantel lemak (sebum) kulit yg berfungsi sebagai pelembab kulit. Sebum bekerja dgn cara mencegah penguapan air yg berlebihan dari kulit. Dgn hilangnya sebum maka kulit akan mudah mengalami iritasi karena hilangnya faktor pelembab pd kulit. Iritasi yg berulang akan membuat kerusakan dan mempercepat terjadinya kerutan di wajah.

Bahaya lain dari penggunaan air panas utk membasuh muka dan mandi adalah memudahkan munculnya alergi pd kulit. Hal ini terjadi karena kehilangan sebum akan memudahkan bahan kimia masuk ke dalam tubuh dan mengakibatkan reaksi alergi. Akibat kulit digaruk maka garukan akan membuat luka sehingga memudahkan pula terjadinya infeksi oleh bakteri maupun jamur kulit.

Oleh karena itu,penggunaan air panas sebagai pembasuh muka dan mandi utk semua umur tidak dianjurkan,terutama pd bayi dan orang tua. Pd golongan ini,sebum relatif lebih sedikit kandungannya pd kulit. Selain itu,mandi sauna pun tidak dibenarkan karena panasnya juga akan merusak kulit

Air yg baik utk digunakan sebagai pembasuh muka ataupun mandi adalah air yg kira2 bersuhu 36 derajat celcius. Dgn suhu tersebut,panas air masih dapat ditoleransi tubuh dan maksimal batas toleransinya adalah 50 derajat celcius. Utk lebih amannya lagi,gunakanlah air utk mandi dan membasuh muka sesuai suhu kamar.

Sendi dapat mengalami degenerasi akibat penuaan. Salah satu pnyakitnya adalah osteoarthritis. Cara terbaik utk mempertahankan kesehatan sendi adalah dgn mempertahankan gerakannya dgn baik.

Bbrp hal yg harus diperhatikan agar kondisi sendi dapat terjaga dgn baik dan meminimalisirkan proses kerusakan akibat penuaan sehingga dapat ditunda :

§ Perhatikan berat badan
mempertahankan berat badan merrpakan hal terbaik utk menghindari proses degenerasi pd sendi yg mempertahankan berat tubuh seperti lutut,panggul dan tulang belakang.

§ Tetap bergerak
jika terlalu banyak diam mengakibatkan gerakan sendi kurang sehingga menghambat sirkulasi cairan pd sendi. Lakukan perubahan posisi dan peregangan secara berkala utk memperlancar sirkulasi misalnya dgn olahraga jenis low impact.

§ Latih kekuatan otot utk membantu beban sendi
otot yg kuat dapat membantu kerja sendi sehingga berat yg bertumpu pd sendi dapat berkurang. Pastikan berkonsultasi dulu dgn dokter atau ahli yg paham gerakan otot supaya latihan dapat efektif dan terhindar dari cedera.

§ Kenali batas kekuatan tubuh
lakukan latihan secara berkala sebelum melakukan aktivitas berlebihan. Batasan kekuatan biasanya tidak ada nyeri lebih dari 48 jam pd sendi setelah melakukan aktivitas berat jika ada maka latihan yg dlakukan berlebihan.

§ Usahakan postur tubuh ideal
usahan berjalan dan duduk dalam posisi tegak sehingga beban bertumpu pd tempat yg seharusnya. Saat membawa ransel,usahakan agar beban dapat terbagi pd 2 bahu. Bungkukkanlah lutut ktika mengangkat barang2 berat.

§ Lindungi sendi dgn menggunakan pelindung saat melakukan aktivitas berat
saat bekerja dgn aktifitas jongkok-berdiri dan olahraga gunakanlah pelindung lutut. Cedera pd sendi atau tulang yg berhubungan dgn sendi dapat merusak sendi lebih cepat.

§ Jika cedera segeralah lakukan pengobatan
salah satu komplikasi cedera sendi adalah perdarahan yg disebut hemarthrosis dgn gejala bengkak dan nyeri. Segera ke dokter utk mengeluarkan darah tersebut karena jika dibiarkan maka darah dpt mengakibatkan kerusakan sendi. Utk menghilangkan nyeri dan bengkak gunakan es yg dbungkus kain atau handuk lalu tempelkan selama 10 menit ke daerah dekat cedera. JANGAN DITEMPELKAN LANGSUNG PD SENDI !

§ Konsumsi makanan berkalsium sesuai kbutuhan misalnya susu dan brokoli

Dgn stetoskop kita dapat mendengar bunyi jantung normal,yg biasanya dideskripsikan sebagai 'lub,dub,lub,dub..' Bunyi 'lub' dikaitkan dgn penutupan katup atrioventrikular (A-V) pd permulaan sistol,dan bunyi 'dub' dikaitkan dgn penutupan katup semilunaris (aorta dan pulmonaris) pd akhir sistol. Bunyi 'lub' disebut bunyi jantung pertama dan 'dub' sebagai bunyi jantung kedua,karena siklus normal jantung dianggap dimulai pd permulaan sistol ketika katup A-V menutup.

Penyebab bunyi jantung ialah getaran pd katup yg tegang segera setelah penutupan bersama dgn getaran darah yg berdekatan,dinding jantung,dan pembuluh2 utama sekitar jantung. Jadi,dalam mencetuskan bunyi jantung pertama,kontraksi ventrikel menyebabkan aliran balik darah secara tiba2 yg mengenai katup A-V (katup mitral dan katup trikuspidal),sehingga katup ini mencembung ke arah atrium sampai korda tendinea secara tiba2 menghentikan pencembungan ini. Elastisitas katup yg tegang kemudian akan mendorong darah kembali ke ventrikel2 yg bersangkutan. Peristiwa ini menyebabkan darah dan dinding ventrikel serta katup yg tegang bergetar dan terjadi turbulensi getaran dalam darah. Getaran kemudian merambat melalui jaringan didekatnya ke dinding dada,sehingga dapat terdengar sebagai bunyi melalui stetoskop.

Bunyi jantung kedua ditimbulkan oleh penutupan katup semilunaris yg berlangsung tiba2. Ketika katup semilunaris menutup,katup ini menonjol ke arah ventrikel dan regang elastis katup akan melentingkan darah kembali ke arteri,yg menyebabkan pantulan yg membolakbalikkan darah antara dinding arteri dan katup semilunaris serta antara katup dan dinding ventrikel. Getaran yg terjadi di dinding arteri kemudian dihantarkan di sepanjang arteri. Bila getaran dari pembuluh atau ventrikel mengenai 'dinding suara' misalnya dinding dada,getaran ini menimbulkan suara yg dapat didengar.

Lama dari setiap bunyi jantung sedikit lebih dari 0,1 detik,bunyi pertama kira2 0,14 detik dan kedua kira2 0,11 detik. Penyebab dari lebih singkatnya bunyi kedua adalah katup semilunaris yg lebih tegang daripada katup A-V,sehingga katup2 ini bergetar selama masa waktu yg lebih pendek daripada katup A-V. Kisaran frekuensi yg dapat didengar (tinggi nada) pd bunyi jantung pertama dan kedua,dimulai pd frekuensi yg paling rendah yg dapat dideteksi oleh telinga dan terus naik sampai sekitar 500 siklus/detik. Bila digunakan alat elektronik khusus utk merekam suara,sejauh ini bagian terbesar dari suara yg dapat terekam adalah pd frekuensi di bawah kisaran suara yg dapat didengar,terus terus sampai 4 bahkan 3 siklus/detik dan memuncak pd sekitar 20 siklus/detik. Utk alasan ini,beberapa bunyi jantung dapat direkam secara elektronik bila tidak dapat didengar dgn stetoskop.

Bunyi jantung kedua secara normal memiliki frekuensi lebih tinggi daripada bunyi jantung pertama karena :
1. Ketegangan katup semilunaris jauh lebih besar daripada katup A-V.
2. Koefisien elastisitas arteri lebih besar sehingga ruang2 utama jantung bergetar selama bunyi kedua bila dibandingkan dgn ruang ventrikel yg jauh lebih longgar saat menimbulkan sistem getaran pd bunyi jantung pertama.

Kadang2 terdengar bunyi jantung ketiga yg lemah dan bergemuruh pd awal 1/3 bagian tengah diastol. Bunyi ini timbul karena adanya ketegangan korda tendinae dan mengembangnya ventrikel pd fase pengisian. Bunyi tersebut merupakan hal normal pd anak dan dewasa muda. Kecepatan pengisian ventrikel dan besarnya amplitudo dari getaran dinding ventrikel mempengaruhi bunyi yg terdengar. Bunyi jantung ketiga sisi kiri dapat didengar pd apeks jantung dgn posisi pasien berbaring miring ke kiri. Sebaliknya bunyi jantung ketiga sisi kanan dapat didengar pd batas bawah sternal kiri.

Bunyi jantung keempat (bunyi atrium) pd beberapa orang dapat terekam di fonokardiogram tetapi dgn stetoskop hampir tidak dapat terdengar karena frekuensinya yg rendah,biasanya 20 siklus/detik atau kurang. Bunyi ini timbul pd akhir fase diastolik dan bersamaan dgn kontraksi atrium (atrial kick). Penyebab timbulnya bunyi ini karena atrium kiri maupun kanan menghadapi kekakuan ventrikel. Dgn demikian,adanya bunyi jantung keempat merupakan pertanda ada kelainan jantung yaitu berkurangnya daya regang ventrikel sebagai akibat hipertrofi ventrikel ataupum iskemia miokard. Bunyi ini paling baik terdengar dgn stetoskop yg diletakkan pd apeks jantung dgn posisi pasien berbaring miring ke kiri.

Celana ketat yg menempel saat ini sedang menjadi tren di kalangan anak muda. Tanpa mereka sadari ada bahaya mengancam di balik penggunaan celana ketat,antara lain gangguan kesuburan yg mengakibatkan kemandulan. Terutama bila celananya mengandung poliester,jeans atau berbahan nilon. Efek paling merugikan akan dirasakan sekali pd laki2.

Ketidaksuburan pd laki2 disebabkan oleh gesekan kulit dgn bahan celana. Gesekan ini akan menimbulkan gelombang elektromagnetik yg dapat menaikkan suhu udara di sekitar penis menjadi >37 derajat Celcius. Padahal suhu normal yg dibutuhkan penis harus di bawah 36,5 derajat Celcius. Bila hal ini terjadi dalam jangka waktu lama maka akan mengganggu proses pembentukan sperma (spermatogenesis) pd laki2. Bila celana tersebut dipakai sepanjang hari dan terus berulang setiap hari dapat berakibat terjadinya kemandulan. Ketidaksuburan terjadi karena penggunaan celana ketat yg akan mengecilkan buah zakar. Akibatnya,fungsinya pun terganggu dan menurunkan kualitas sperma. Hal ini akan mempengaruhi pd kemampuan utk membuahi sel telur perempuan.

Jika sudah terlanjur menggunakan,sebaiknya berikan jeda waktu istirahat agar suhu udara di sekitar penis kembali normal. Jika bisa,gantilah dgn celana berbahan longgar,berbahan katun 100% agar bisa menyerap keringat,dan tidak berbahan tebal.

Seorang wanita berusia 24 tahun dgn nyeri perut kanan bawah yg sudah berlangsung 1 bulan,didiagnosis apendisitis kronis. Komponen anatomi pertanyaan klinis yg dapat dicari jawabannya adalah sebagai berikut :
1. Pasien dan masalahnya
- bagaimana mengelompokkan pasien yg mempunyai karakteristik (masalah primer,penyakit,dan penyakit penyerta) serupa ?
2. Intervensi,faktor prognostik,dan paparan yg dipertimbangkan
- apa yg ingin dilakukan terhadap pasien ?
- obat2an apa saja yg akan diberikan ?
- perlukah merujuk ke spesialis bedah ?
- adakah penyakit yg menyertai ?
- apakah pasien seorang perokok ?
3. Perbandingan pilihan terapi
- apa alternatif utama dari pilihan terapi yg tersedia ?
- apakah akan mencoba memberikan salah satu obat dari 2 pilihan yg tersedia ?
- apakah diberikan obat atau hanya plasebo ?
- teknik bedah yg mana yg akan dilakukan ?
4. Hasil akhir
- hasil akhir bagaimana yg ingin dicapai ?
- kesembuhan atau menghilangkan gejala ?

Dgn memasukkan semua komponen di atas utk penderita tadi,dapat dirumuskan suatu pertanyaan sebagai berikut : apakah seorang wanita dewasa muda dgn apendisitis kronis tanpa penyakit penyerta lain,lebih baik menjalani apendektomi laparoskopi daripada apendektomi terbuka ?

Dgn mencari literatur berdasarkan kata kunci "laparoscopic appendectomy" pd suatu database Medline,dapat ditemukan lebih dari seratus artikel ilmiah yg berhubungan dgn tindakan apendektomi laparoskopi. Setelah mengumpulkan sumber literatur yg tersedia,pilihlah penelitian yg mempunyai tingkatan bukti tertinggi. Ketika artikel ilmiah tersebut telah ditelaah dan dianggap memenuhi persyaratan validitas,dan dianggap dapat diterapkan,maka dapat disimpulkan bahwa apendektomi laparoskopi dapat dilakukan terhadap pasien wanita muda 24 tahun dgn diagnosis apendisitis kronis. Kesimpulan menurut artikel tersebut berlaku di tempat yg fasilitas bedahnya lengkap dgn spesialis bedah yg berpengalaman.

Apendektomi laparoskopi mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dgn apendektomi terbuka,kecuali bila terdapat kontraindikasi atau pembedahan tidak mungkin dilakukan. Pada kasus gangrenous atau perforasi,apendektomi laparoskopi mempunyai risiko tinggi utk infeksi intra abdomen.

Pd tahap evaluasi,terdapat 3 pertanyaan dasar yg harus dijawab utk setiap tipe penelitian :
- apakah hasil penelitian tersebut valid ?
- apa kesimpulan dari penelitian tersebut ?
- apakah hasil penelitian tersebut membantu penanganan pasien saya ?

Utk menjawab pertanyaan pertama,diperlukan penelaahan lebih jauh,yaitu :
1. Apakah pasien dalam penelitian tersebut dikelompokkan secara acak (random) ?
2. Apakah semua pasien yg masuk dalam penelitian mencapai akhir studi ?
3. Apakah follow-up lengkap ?
4. Apakah semua pasien menjalani penelitian sesuai dgn pengelompokkan secara acak yg telah ditetapkan sebelumnya ?
5. Apakah pasien,dokter,dan peneliti mengetahui terapi pd penelitian tersebut (terapi tersamar) ?
6. Apakah karakteristik kedua kelompok penelitian dapat dianggap sama ?
7. Selain perbedaan terapi yg diteliti,apakah kedua kelompok diperlakukan secara sama ?

Setelah semua pertanyaan terjawab dgn memuaskan,maka dapat ditentukan apakah bukti yg didapatkan tersebut dapat dipraktekkan pd pasien. Sebagai panduan,suatu penelitian yg valid dan dapat diterapkan,sebaiknya mempunyai ciri sebagai berikut :
* alokasi acak
* ada follow-up pasien ( >80% pasien)
* menggunakan rancangan tersamar
* kesamaan karakteristik dasar pd waktu awal penelitian.

Diperlukan evaluasi lanjutan setelah bukti2 tersebut diterapkan agar keberhasilan terapi dapat ditentukan. Demikianlah suatu proses EBM dijalankan.

Dalam mempraktekkan EBM,pengelolaan pasien dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut :
1. Dari seorang pasien,timbul masalah atau pertanyaan klinis mengenai penanganan pasien.
2. Perumusan suatu pertanyaan klinis yg baik mengenai kasus yg dihadapi.
3. Menentukan sumber pustaka yg tepat dan memulai suatu penelaahan pustaka.
4. Menentukan validitas dan kemungkinan kegunaan dari bukti yg didapat dalam praktek klinis.
5. Mengintegrasikan bukti yg sudah diseleksi dgn pengalaman klinis dan selera pasien kemudian diterapkan pd pasien.
6. Mengevaluasi keberhasilan terapi setelah menerapkan bukti klinis tersebut.

Proses suatu EBM dimulai dari adanya suatu permasalahan dalam penanganan seorang pasien. Dari permasalahan tersebut dapat dibuat pertanyaan klinis yg jawabannya dibutuhkan utk menangani kasus itu. Bentuk pertanyaan dalam proses EBM harus memenuhi syarat anatomi pertanyaan yg baik agar pencarian data/literatur efisien dan teratur. Pertanyaan2 tersebut mencakup beberapa hal yaitu :
* pasien dan masalahnya
* intervensi,faktor prognostik,dan paparan
* perbandingan dari pilihan terapi yg tersedia
* hasil akhir.

Langkah selanjutnya adalah mencari pustaka yg sesuai utk menjawab pertanyaan klinis tersebut dgn menggunakan kata kunci. Pencarian pustaka dapat dilakukan di perpustakaan atau melalui internet. Sumber literatur yg telah dianggap standar bagi masyarakat medis adalah Medline dan Embase. Suatu organisasi nonprofit,Cochrane Collaboration,menelaah semua artikel yg dipublikasi dan melakukan seleksi serta penilaian validitas suatu penelitian. Organisasi tersebut secara periodil mempublikasikan telaah mereka dalam bentuk CD-ROM.

Sumber literatur yg telah dikumpulkan kemudian dievaluasi. Bukti penelitian terdiri atas beberapa tingkatan. Bukti yg akan dipakai utk menjawab pertanyaan klinis yg sudah dibuat haruslah yg mempunyai kekuatan tingkatan bukti yg kuat. Terdapat beberapa sistem utk menilai tingkatan bukti. Sistem pertama dibuat oleh Canadian Task Force on the Periodic Health Examination pd tahun 1970an. Terdapat beberapa sistem lain,tetapi tampaknya sistem inilah yg paling banyak dipakai. Studi yg dilaksanakan melalui alokasi subjek secara acak biasanya mendapat nilai yg paling tinggi karena kecilnya resiko bias. Jadi,studi random berpembanding dan tersamar dimasukkan ke dalam bukti tingkat I selama penelitiannya dilakukan secara baik.

Tingkatan bukti berdasarkan Canadian Task Force on the Health Examination.
I. Bukti didapat dari 1 atau lebih studi random berpembanding tersamar yg dilaksanakan dgn baik.
II-1. Bukti didapat dari uji berpembanding yg didesain dgn baik,tanpa alokasi acak.
II-2. Bukti didapat dari studi kasus-kelola atau studi kohort yg didesain dgn baik,lebih disukai bila didapat lebih dari 1 institusi atau kelompok peneliti.
II-3. Bukti didapat dari penelitian yg dilakukan pd waktu atau tempat lain dgn/tanpa intervensi ; hasil dramati dari suatu percobaan tanpa pembanding dapat juga dimasukkan dalam kategori ini. Misalnya penemuan penisilin pd tahun 1940an.
III. Opini suatu lembaga terhormat,berdasarkan pengalaman klinis,studi deskriptif,atau laporan dari suatu komite ahli.

Sistem ini sangat berharga karena kesederhanaannya tetapi kesulitan akan timbul ketika pembaca ingin mengumpulkan hasil dari beberapa penelitian,baik secara informal ketika sedang membaca maupun ketika sedang melakukan suatu pengamatan sistematis. Keputusan harus dibuat untuk menentukan apakah suatu hasil penelitian akan dimasukkan atau dikeluarkan,tergantung dari kualitas penelitian.

EBM sebagai salah satu kemajuan ilmu kedokteran merupakan pedoman/acuan terkini utk pengambilan keputusan medis oleh para dokter dalam praktiknya sehari2. Dgn mempraktekkan EBM maka seorang dokter mengintegrasikan pengalaman klinis para ahli dgn bukti klinis yg telah ada dalam laporan penelitian. Dgn demikian,suatu prosedur atau tindakan medis yg dilakukan terhadap pasien tidak lagi berdasarkan opini seorang ahli atau pengalaman anekdotal lainnya,melainkan berdasarkan langkah sistematis utk mencari bukti penelitian yg terbaik. Bukti tersebut dijadikan alat bantu utk pengambilan keputusan dalam penanganan pasien utk meningkatkan keberhasilan terapi dan memperbaiki kualitas hidup pasien.

Langkah2 dalam EBM yaitu :
1. Memformulasikan pertanyaan tentang masalah kedokteran yg dihadapi.
2. Menelusuri bukti2 terbaik utk mengatasi masalah tersebut.
3. Mengkaji bukti,validitas,dan kesesuaiannya dgn kondisi praktik.
4. Menerapkan hasil kajian.
5. Mengevaluasi penerapannya.

Secara lebih rinci,EBM merupakan keterpaduan antara best research evidence,clinical expertise dan patient values. Best research evidence merupakan bukti2 ilmiah yg berasal dari studi2 dgn metodologi terpercaya yg dilakukan secara benar. Studi yg dimaksud juga harus menggunakan variabel2 penelitian yg dapat diukur dan dinilai secara obyektif serta memanfaatkan metode2 pengukuran yg dapat menghindari risiko "bias" dari peneliti. Utk bisa menjabarkan EBM dgn baik diperlukan kemampuan klinik (clinical expertise) yg memadai. Kemampuan tersebut mencakup pengidentifikasian secara cepat kondisi pasien,membuat perkiraan diagnosis secara cepat dan tepat,mengenali faktor2 yg menyertai,dan memperkirakan kemungkinan manfaat serta risiko dari bentuk penanganan yg akan diberikan. Kemampuan klinik ini hendaknya disertai pula dgn pengenalan secara baik terhadap nilai2 yg dianut dan harapan yg tersirat dari pasien (patient values).

Setiap pasien tentu mempunyai nilai2 tentang status kesehatan dan penyakitnya serta harapan atas upaya penanganan dan pengobatan yg diterimanya. Hal2 seperti itu harus dipahami benar oleh dokter agar setiap upaya pelayanan kesehatan yg dilakukan dapat diterima. Oleh karena itu,terapi harus berdasarkan bukti2 ilmiah yg mempertimbangkan nilai2 subyektif yg dimiliki pasien.

Alasan penerapan EBM adalah agar dapat memberikan terapi terbaik utk pasien. Selain itu,makin meningkatnya pengetahuan dan tingkat pendidikan pasien telah menuntut dokter utk melakukan yg terbaik menurut standar ilmu. EBM juga dapat melindungi dokter dari tuntutan malpraktek akibat keputusan terapi yg tidak berdasarkan bukti karena EBM merupakan sumber informasi terdepan mengenai diagnosis,prognosis,terapi dan pencegahan yg sangat dibutuhkan dalam praktik dokter.

Label "internasional"" di belakang nama rumah sakit saat ini sedang menjadi tren. Hampir di setiap kota besar memiliki rumah sakit yg menyebut dirinya sebagai "rumah sakit internasional". Namun benarkah mereka memiliki standar internasional ? Perbedaan antara rumah sakit internasional dan rumah sakit non-internasional terletak pd ada tidaknya akreditasi/sertifikasi dari lembaga akreditasi dunia yg
diakui pemerintah. Termasuk di dalamnya mutu pelayanan,sarana prasarana yg ada hingga sertifikasi internasional yg dimiliki dokter dan perawat. Baru ada 2 rumah sakit di Indonesia yg terakreditasi internasional yaitu Rumah Sakit Siloam Kebun Jeruk dan Rumah Sakit Siloam Karawaci. Beberapa rumah sakit lainnya sedang berproses menuju akreditasi internasional termasuk RSCM.

Mengenai maraknya pencatutan "internasional" oleh beberapa rumah sakit dianggap sebagai upaya utk menarik masyarakat. Namun,label "internasional" tanpa sertifikasi merupakan bagian promosi yg bertentangan dgn etika bisnis dan etika rumah sakit Indonesia. Hal ini dapat dianggap sebagai penipuan terhadap konsumen karena akan membentuk persepsi bahwa rumah sakit tersebut berstandar internasional padahal belum tentu demikian. Apalagi bila ditambah dgn bangunan mewah,pasti orang yg tidak tahu akan percaya begitu saja akan kualitas rumah sakit itu.

Sayangnya saat ini Depkes belum mengeluarkan aturan tentang rumah sakit internasional,yg ada hanya akreditasi nasional utk pelayanan kesehatan di rumah sakit. Sekarang pun Depkes baru melayangkan teguran kepada seluruh Rumah Sakit berlabel internasional yg belum terakreditasi. Seharusnya penggunaan label internasional pd rumah sakit perlu segera diatur dan diawasi mutunya. Dgn aturan jelas menjadikan pelayanan menjadi lebih bagus,bersahabat,transparan,dan
efisien.

Sumber : Dokter Kita

1. Difteri dan Tetanus (DT) Semua orang dewasa seharusnya ketika masih anak2 sudah mendapat vaksinasi lengkap 3 dosis primer dari difteri dan toksoid tetanus. Dgn 2 dosis diberikan minimal jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan 6-12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa tersebut belum pernah mendapatkannya maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun. Jika sudah,berarti hanya dosis penguatnya saja yg diberikan.

2. Measles,Mumps,Rubella (MMR) Orang dewasa yg lahir sebelum 1957 dianggap telah mendapat imunitas terhadap MMR secara alamiah. Bila lahir pd tahun 1957 atau sesudahnya perlu mendapat 1 dosis vaksin. Bagi mereka yg lebih berisiko terpapar,seperti bekerja di fasilitas kesehatan atau sering melakukan perjalanan,memerlukan 2 dosis yg diberikan dgn jarak minimal 4 minggu.

3. Influenza Anjurannya diberikan setiap tahun terutama bagi orang dewasa yg usianya >50 tahun,penghuni rumah jompo atau fasilitas lain dalam waktu lama (misalnya asrama),orang muda dgn penyakit jantung,paru kronis,penyakit metabolisme (misalnya diabetes melitus),gangguan fungsi ginjal,juga utk seluruh anggota rumah tangga,perawat dan petugas kesehatan. Pd kondisi seperti itu,daya tahan tubuh kurang bagus sehingga mudah terserang virus influenza. Selain itu,vaksin influenza juga dianjurkan utk calon jemaah haji.

4. Pneumokok Vaksin pneumokok diberikan pd orang dewasa usia >65 tahun. Bagi yg berusia <65 tahun,dianjurkan pd yg beresiko,misalnya memiliki penyakit jantung kronis,penyakit paru kronis,diabetes melitus,HIV,leukemia,gagal ginjal kronis,kanker,atau sedang menjalani kemoterapi.

5. Hepatitis A Vaksin Hepatitis A diberikan 2 dosis dgn jarak 6-12 bulan pd mereka yg beresiko seperti penyaji makanan,sering melakukan perjalanan,pengguna narkoba,penderita penyakit hati,pekerja yg bekerja dgn primata terinfeksi hepatitis A atau peneliti,dan penderita dgn gangguan faktor pembekuan darah.

6. Hepatitis B Diberikan 3 dosis vaksin hepatitis B dgn jadwal 0,1 dan 6 bulan bagi mereka yg berisiko. Contohnya petugas medis dan laboratorium yg sering terpapar darah atau produk darah,ataupun mereka yg kontak seksual dgn mereka yg terinfeksi hepatitis B serta pengguna narkoba suntik.

7. Meningokok Vaksin meningokok wajib diberikan pd calon jamaah haji ataupun yg akan bepergian ke daerah epidemi meningokok,misalnya di Afrika. Vaksinasi diulang setiap 3 tahun.

8. Varisela Vaksinasi varisela diberikan 2 dosis dgn jarak 4-8 bulan. Vaksin itu dianjurkan utk mereka yg berisiko tinggi terpapar virus misalnya petugas kesehatan,guru yg mengajar anak2,perempuan usia subur yg belum hamil,atau mereka yg sering melakukan perjalanan.

9. Demam Tifoid Dianjurkan pd pekerja jasa boga atau wisatawan yg berkunjung ke daerah endemis. Vaksinasi ulang setiap 3 tahun.

10. Yellow Fever Vaksin ini diwajibkan oleh WHO utk wisatawan yg akan berkunjung ke Afrika Selatan. Vaksinasi ulang setiap 10 tahun.

11. Japanese Encephalitis Utk wisatawan yg akan bepergian ke daerah endemis (asia timur) dan akan tinggal lama disana,terutama jika melakukan aktivitas di pedesaan.

12. Rabies Bukan merupakan imunisasi rutin,dianjurkan pd individu yg beresiko tinggi tertular (dokter hewan,petugas yg bekerja dgn hewan,pekerja laboratorium),wisatawan yg berkunjung ke daerah endemis yg berisiko kontak dgn hewan dan individu yg tergigit binatang tersangka rabies.

Angka kematian akibat penyakit menular menduduki peringkat ketiga setelah penyakit jantung dan kecelakaan sehingga pemberian imunisasi harus mendapat perhatian utk mencegah penularan penyakit infeksi termasuk pd orang dewasa. Pada pertemuan ilmiah tahunan dokter spesialis penyakit dalam di Amerika Serikat (American Society of Internal Medicine) dinyatakan bahwa imunisasi pd orang dewasa dapat mencegah kematian hingga 100x lipat. Mengenai biaya memang saat ini harga vaksin di Indonesia masih cukup mahal sebab hampir semuanya masih diimpor akan tetapi jumlah yg dikeluarkan utk mencegah tentunya jauh lebih kecil dibanding harus mengeluarkan biaya utk berobat.

Walaupun saat anak2 sudah mendapat imunisasi lengkap namun ketika dewasa perlu imunisasi kembali. Hal itu karena tidak semua vaksin memberikan kekebalan yg sifatnya seumur hidup. Ada beberapa yg harus diulang karena semakin meningkat usia maka kekebalan semakin berkurang. Apalagi sifat virus yg mudah sekali bereplikasi (berubah variasi bentuk) seperti virus influenza. Selain itu,orang dewasa memiliki risiko yg cukup tinggi utk terinfeksi seperti tenaga medis,jemaah haji,dan petugas kebun binatang.

Ada beberapa kondisi yg harus diperhatikan agar imunisasi tidak memberikan efek samping yg tidak diinginkan,yakni :
1. Sehat. Pembentukan antibodi akan jauh lebih tinggi bila orang tersebut sehat.
2. Tidak alergi terhadap bahan vaksin. Sebelum imunisasi dilakukan wawancara dan pemeriksaan utk mengetahui adanya alergi yg diderita. Pada orang alergi dapat timbul efek samping yg lebih berat.
3. Tidak sedang hamil. Ibu hamil tidak perlu melakukan imunisasi kecuali sangat mendesak. Efek samping vaksin bersifat lokal berupa nyeri dan bengkak di tempat suntikan yg akan hilang dalam 48 jam. Jarang sekali terjadi reaksi yg berat,kecuali pd individu tertentu.

MCU merupakan serangkaian uji kesehatan menyeluruh utk mengetahui sejak dini penyakit yg ada di dalam tubuh. MCU merupakan investasi kesehatan karena status kesehatan dapat terpantau dgn baik bila memeriksakan diri secara rutin minimal 1 tahun sekali. MCU juga merupakan langkah preventif (pencegahan) agar terhindar dari gangguan kesehatan yg datang dgn tiba2 karena berbagai fungsi organ tubuh seperti ginjal,jantung,hati dan organ lainnya dapat diketahui statusnya. Dgn MCU maka dapat ditemukan masalah lebih awal sehingga penanganannya akan lebih mudah dan kemungkinan sembuh bisa mencapai 100%.

MCU yg rutin dilakukan akan berguna utk mengambil langkah pencegahan penyakit,memutus perjalanan penyakit tertentu,sampai melakukan pengobatan. Jika dinilai dgn uang,ongkos yg dikeluarkan utk deteksi dan terapi jauh lebih sedikit dibandingkan dgn biaya yg harus dikeluarkan jika penyakit sudah pada tahap lanjut. MCU dapat dilakukan sesuai saran dokter,atau bila terdapat dugaan kemungkinan penyakit yg diturunkan dari keluarga,penyakit yg berpotensi menular,dan telah berusia >25 tahun. Terutama bagi individu yg mempunyai gaya hidup tidak sehat seperti merokok,sering makan junkfood,kurang olahraga,dan berat badan berlebih. Saat pertama kali MCU biasanya pemeriksaan yg dilakukan cukup banyak namun utk pemeriksaan berikutnya dapat dipilih pemeriksaan tertentu sesuai hasil pemeriksaan pertama.

MCU diawali dgn wawancara (anamnesis) oleh dokter. Dalam wawancara akan ditanyakan riwayat penyakit ringan sampai berat yg pernah diderita,meliputi seluruh organ tubuh mulai dari kepala sampai kaki. Juga ditanyakan riwayat kecelakaan dan riwayat operasi yg pernah dijalani. Langkah berikutnya adalah pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan tinggi badan,berat badan,dan tekanan darah. Dari 3 pemeriksaan ini dapat diketahui golongan berat badan seseorang,yaitu ideal,berlebih (obesitas),atau kurang serta dapat diketahui pula kenormalan tekanan darahnya.

Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan laboratorium yg sesuai kebutuhan. Biasanya setiap rumah sakit mempunyai paket pemeriksaan laboratorium yg dapat dipilih. Semakin banyak pemeriksaan yg diinginkan,semakin tinggi pula biaya yg harus dikeluarkan. Pemeriksaan yg dapat diprioritaskan adalah pemeriksaan darah rutin,urin lengkap,fungsi hati dan ginjal,serta kadar lemak darah dan gula darah. Selain pemeriksaan laboratorium,ada pemeriksaan penunjang lain,misalnya foto rontgen dan elektrokardiografi (EKG/rekam jantung). Kedua pemeriksaan tersebut juga harus diprioritaskan utk deteksi dini kelainan tertentu di paru dan jantung. Langkah2 yg dilakukan sebagai persiapan sebelum MCU,yaitu :
1. Memastikan jumlah kecukupan asupan karbohidrat (minimal 150 gram/hari) selama 3 hari sebelum pemeriksaan
2. Puasa selama 12 jam sejak malam hari hingga waktu pengambilan darah/bahan pemeriksaan lain
3. Selama puasa tidak boleh makan apapun termasuk permen karet,tidak minum teh,kopi,susu dan lainnya walaupun tanpa gula,minum air putih diperbolehkan terutama bila diperlukan pengambilan bahan pemeriksaan urin,tidak merokok,dan jangan berpuasa lebih dari 14 jam
4. Tidak berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yg berat sejak 12 jam sebelum pengambilan darah
5. Berhenti minum obat sejak 4-24 jam sebelum pengambilan darah atau 48-72 jam sebelum penampungan urin,kecuali dokter tetap menganjurkan minum obat atau kondisi kesehatan tidak memungkinkan.