Tampilkan postingan dengan label Mata (Eye). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mata (Eye). Tampilkan semua postingan

Iris merupakan bagian mata dengan struktur jaringan yang sangat kompleks, tersusun dari selaput halus yang berlapis-lapis. Di dalamnya terkandung beratus-ratus ribu sel yang langsung tersambung ke organ tubuh vital manusia. Seluruh susunan ini juga terhubung dengan otak melalui serabut-serabut saraf dan pembuluh kapiler darah. Berdasarkan struktur anatomi yang seperti itulah maka dalam dunia kedokteran iris dapat digunakan sebagai salah satu diagnosis kesehatan yang bersifat kualitatif yaitu iridologi. Ilmu iridologi mempelajari iris mata melalui perubahan warna, rupa, bentuk, dan simbol yang terdapat pada bagian mata. Dari tingkat radang, stress, kondisi organ tubuh, tumpukan dan sebaran racun, kecukupan oksigenasi di pembuluh darah, sampai sumbatan pada sistem kelenjar getah bening, semua terekam di dalam iris. Letak organ yang bermasalah dan tingkat keparahan gangguannya pun bisa diketahui lewat iris, termasuk penggolongan tingkat keparahannya yang bersifat subakut, kronis, atau degeneratif. Iris mata kiri digunakan untuk mendeteksi organ tubuh sebelah kiri manusia, sedangkan iris kanan untuk mendeteksi organ di bagian kanan tubuh.

Konsep iridologi pertama kali dipopulerkan oleh Theodore Kriege lewat buku Chiromatica Medica di Dresden, Jerman, pada tahun 1670. Seabad kemudian, Christian Haertels menerbitkan disertasi di Gottingen berjudul De Oculo et Signo (Mata dan Tanda-Tandanya). Pada abad ke-19, Ignatz Von Peclezy (1826-1911) tidak sengaja menemukan burung hantu yang patah kakinya disertai goresan hitam pada matanya. Anehnya, setelah burung hantu itu sembuh, goresan di matanya pun hilang. Akhirnya, setelah melakukan penelitian pada manusia, Ignatz menghasilkan iridologi untuk mengotopsi tubuh manusia guna mengetahui dan memastikan letak penyakit. Chart iridologi selanjutnya disempurnakan oleh Bernard Jensen pada 1982 dan sampai sekarang digunakan oleh praktisi iridologi di seluruh dunia.

Iridologi berguna dalam pengobatan preventif (bersifat pencegahan). Metode ini bisa menyingkapkan keadaan organ tubuh sebelum munculnya tanda dan gejala suatu penyakit. Informasi kekuatan dan kelemahan organ terekam dalam iris. Misalnya seseorang yang terindikasi menderita sakit lever dengan kerusakan 20% dipastikan belum mengalami gangguan dalam kesehariannya namun melalui pemeriksaan iris, tanda-tanda itu sudah tampak. Tanda-tanda penyembuhan juga ditunjukkan melalui iris mata (healing line) sesuai dengan proses penyembuhan yang sedang dan telah berlangsung di dalam tubuh. Hal ini sangat penting dalam memantau terapi yang telah diberikan dokter kepada pasiennya. Dalam wilayah proses penyembuhan pada iris, dokter dapat menilai jenis obat, cara pemberian, dan jenis penyakit yang memberikan hasil terapi yang efektif dan efisien. Hal ini menjadikan iridologi sebagai general check-up yang bisa dilakukan secara kilat, tanpa rasa sakit, mudah, dan ongkosnya tak terlampau mahal.

Selama ini, pemantauan iris mata dilakukan secara manual. Praktisi iridologi biasanya hanya melihat langsung mata pasien dengan alat bantu semacam senter atau sorotan cahaya. Pengamatan manual bisa berakibat salah diagnosis. Pada tahun 2006 sampai dengan akhir 2008, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan program piranti lunak untuk iridologi dengan bahasa pemrograman Delphi yang berorientasi obyek. Program ini disebut LIPIRISm@. Saat ini LIPIRISm@ 2.0 merupakan versi terakhir aplikasi ini. Selain lebih murah, LIPIRISm@ mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan alat sejenis dari luar negeri, diantaranya fitur pustaka tanda-tanda iris, rekam medis data pasien, pengaturan iris, pengaturan grafis ANW (Autonomic Nerve Wreath) orang yang berbeda, dan penampakan dua iris secara bersamaan. Berdasarkan penelitian LIPI, tingkat akurasinya dalam mendeteksi penyakit mencapai 80%. Dengan kehadiran piranti lunak iridologi, maka praktisi iridologi akan sangat terbantu dalam menentukan letak presisi kelainan yang terindikasi oleh iris. Selain itu, tentu saja bisa memperkecil kesalahan pemeriksaan manual karena iris memiliki banyak titik yang berdekatan sehingga memungkinkan praktisi iridologi salah mendiagnosis organ yang terganggu. LIPIRISm@ memberikan panduan yang lebih akurat untuk mengenali letak organ yang terganggu seperti yang tergambar pada iris secara tepat.

Diagnosis iridologi hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Pasien tinggal duduk dan difoto. Foto-foto iris yang diambil akan diolah ke dalam komputer yang dilengkapi piranti lunak LIPIRISm@. Sekali klik, gambar di layar komputer langsung menunjukkan detail bagian iris mata dengan jelas baik warna, rupa, maupun bentuknya. Pada saat yang sama, ahli iridologi bisa langsung menerangkan kondisi organ tubuh berdasarkan pengamatan iris, sesuai dengan peta iris buatan bapak iridologi modern, Dr.Bernard Jensen. Maka penyakit pasien tersebut pun sudah langsung dapat diketahui. Misalnya warna putih seperti cincin di atas iris, menggambarkan kandungan kolesterol pada manusia.

Diagnosis dengan iridologi diklaim lebih unggul dalam menemukan adanya kelemahan organ dibandingkan pemeriksaan laboratorium. Hasilnya pun dapat diketahui real time (pada saat itu juga). Sebagai perbandingan, untuk general check-up, pasien harus melewati sederet pemeriksaan : periksa darah, air seni, feses, roentgen, dan sebagainya. Tes laboratorium juga memakan waktu cukup lama dan ongkosnya mahal. Sementara uji laboratorium bisa menghabiskan biaya jutaan, iridologi hanya butuh puluhan ribu rupiah. Adapun kelemahan iridologi adalah tidak bisa mendeteksi penyakit secara detail dari segi kuantitatif. Misalnya besarnya nilai kadar kandungan gula dalam darah.

Category: Labels: | 0 Comments

Dr William Bates adalah seorang spesialis mata yang telah meninggal dunia sejak lama tahun 1931. Sang dokter yakin banyak orang yang sebenarnya tidak perlu menggunakan kacamata dengan cara melatih matanya.

Meski menghilangkan minus mata tanpa operasi masih jadi kontroversi, tapi terbukti banyak pengikut Dr Bates yang berhasil menurunkan minusnya.

Panduan menurunkan minus yang dicatat dalam bukunya berjudul 'Better Eyesight Without Glasses', tentu saja bertentangan dengan praktik dokter mata saat ini. Mata minus saat ini hanya bisa turun atau hilang hanya dengan operasi mata seperti lasik.

Dr Bates menemukan teknik ini setelah melakukan percobaan selama bertahun-tahun. Dr Bates mengembangkan latihan untuk meningkatkan kemampuan mata agar bisa melihat normal dan menghilangkan ketegangan yang ada akibat kebiasaan melihat dengan buruk yang menjadi penyebab masalah penglihatan.

Bukunya yang dipublikasikan pada tahun 1920, terus dijual hingga hari ini. Metode Bates tetap bermanfaat dan diikuti oleh ribuan orang di seluruh dunia.

Latihan-latihan ini didasarkan pada keyakinan bahwa secara alami mata bisa melihat dengan jelas. Setiap orang baik anak-anak maupun orang dewasa dapat belajar untuk melihat secara lebih baik lagi tanpa menggunakan kacamata.

Latihan penglihatan ini bertujuan untuk mendidik mata sehingga bisa mengatur fokus agar lebih efisien atau disebut dengan 'fiksasi sentral'. Otot-otot mata harus dapat bergerak bebas dan membuat penyesuaian kecil yang diperlukan untuk memusatkan obyek yang dilihat.

Mata menjadi tegang karena dalam posisi tetap 'menatap' objek daripada melakukan gerakan konstan. Latihan ini mengajarkan seseorang untuk mengendurkan otot-otot mata dan saraf optik serta menggunakan memori dan imajinasi untuk meningkatkan koordinasi antara mata dan otak.

Latihan ini juga membantu mengatasi ketergantungan seseorang pada kacamata. Dasar dari terapi ini adalah keyakinan bahwa kombinasi dari tubuh, pikiran dan jiwa digunakan untuk melihat. Selain itu makanan, postur tubuh, stres dan kesehatan seseorang juga mempengaruhi penglihatan.

Seperti dikutip dari Eyehealthremedies, Jumat (12/3/2010) ada beberapa Metode Bates yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Bersembunyi
Latihan penglihatan ini membantu mata untuk rileks dan beristirahat.
Cobalah duduk dengan nyaman di depan meja kemudian taruh beberapa bantal hingga tingginya sejejer mata. Letakkan siku tangan di atas bantal tersebut kemudian tutup mata dengan dua telapak tangan hingga tidak ada cahanya yang masuk. Bernapaslah perlahan, santai dan membayangkan dalam kegelapan. Mulailah melakukan hal ini selama 10 menit sebanyak 2-3 kali dalam sehari.

2. Menggoyangkan bola mata
Cobalah berdiri dan fokus pada titik yang jauh, lalu goyangkan bola mata dari kiri dan kanan atau sebaliknya sambil berkedip sebanyak 100 kali setiap hari. Berkedip berguna untuk membersihkan dan melumasi mata.

3. Memilih satu warna dalam satu hari
Pilihlah satu warna berbeda tiap hari dan melihat keluar dengan objek warna yang dipilih sepanjang hari. Ketika melihatnya seseorang akan lebih menyadari warna daripada bentuknya.

4. Berjemur
Cobalah untuk melakukan hal ini sekali dalam sehari. Kegiatan ini membutuhkan hari yang cerah atau cahaya lampu yang bagus.

Caranya tutup mata lalu lihat langsung ke matahari melalui mata tertutup. Sambil melihat matahari, perlahan-lahan gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan sampai sejauh yang Anda bisa hingga hampir menyentuh pundak. Hal ini membantu membawa lebih banyak sirkulasi darah ke leher. Lakukan hal ini selama 3-5 menit.

5. Menggeser penglihatan
Banyak orang yang menghabiskan waktu untuk menatap layar komputer di depan wajahnya. Cobalah untuk menggeser penglihatan Anda pada tenunan kain di lengan baju, poster di dinding atau pohon di seberang jalan. Hal ini dapat membantu meningkatkan penglihatan periferal dan dapat membantu rabun jauh, rabun dekat dan masalah penglihatan lainnya. Bahkan pada beberapa kasus bisa menghilangkan katarak.

Dr William Bates memberikan tips agar saat melakukan senam mata melepaskan kacamata atau kontak lensa agar merasa lebih nyaman dan santai. Ketika melakukan latihan ini cobalah untuk sangat berkonsentrasi pada mata sehingga hasilnya lebih maksimal.

copas from http://www.facebook.com/note.php?note_id=373960113049&ref=mf

Category: Labels: | 3 Comments

Katarak biasanya menyerang kalangan lanjut usia dan merupakan penyakit mata paling banyak di Indonesia. Malah populasi penderita katarak di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Setiap tahun penderita katarak di Indonesia bertambah sekitar 200 ribu orang. Katarak terjadi karena perubahan lensa mata yang semula jernih dan tembus cahaya, menjadi keruh. Penyebabnya sebagian besar karena faktor usia. Akibat lensa mengeruh maka cahaya sulit mencapai retina sehingga penglihatan pun terganggu.

Untuk mengatasi hal tersebut, lensa mata yang keruh tadi harus dikeluarkan dari mata melalui operasi kemudian diganti dengan lensa buatan. Biasanya untuk mengeluarkan lensa mata yang keruh dan untuk menanamkan lensa baru dibutuhkan sayatan sebesar lensa yang rusak, sekitar 9 milimeter. Bagian sisi mata disayat dengan cukup lebar lalu lensa rusak dikeluarkan secara utuh melalui sayatan tadi. Selanjutnya baru dimasukkan lensa buatan sebagai pengganti. Setelah itu, luka sayatan ditutup dengan jahitan.

Sekarang ada teknologi operasi katarak terbaru yaitu menggunakan teknik Micro Incision Catarast Surgery (MICS). Dengan teknih bedah mata terbaru ini, sayatan yang dibutuhkan hanya selebar 1,8 milimeter untuk mengeluarkan dan memasukkan lensa. Saking kecilnya sayatan tersebut maka tak dibutuhkan lagi jahitan untuk menutup luka sayatan itu dan pemulihan pun semakin cepat sehingga kemungkinan untuk terjadi kelainan silinder mata (astigmatisme) akibat katarak pun juga semakin kecil. Pasien pun tak perlu dibius dengan menggunakan bius umum, cukup bius lokal sehingga kondisi pasien dapat segera pulih hanya dalam seminggu.

Proses teknik dimulai dengan menghubungkan jarum tipis berongga dengan mesin fakoemulsifikasi, kemudian menyelipkan jarum tersebut ke dalam mata melalui sayatan kecil selebar 1,8 milimeter. Jarum akan digetarkan dengan getaran ultrasonik hingga lensa mata hancur. Serpihan kecil lensa kemudian dialiri air lalu disedot keluar melaui jarum tadi. Setelah itu ditanamkan lensa buatan baru ke dalam mata untuk mengganti fungsi lensa lama. Seluruh proses ini hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, dan setelah beristirahat pasien bias langsung pulang.

Seiring dengan keberadaan teknik MICS, teknologi lensa tanam pun ikut berkembang pesat. Kini lensa tanam sudah terbuat dari bahan elastis yang mudah digulung (foldable lens). Dengan tergulung sangat kecil, lensa dapat diselipkan ke dalam mata secara mudah melalui sayatan 1,8 milimeter. Saat ini ada 2 jenis lensa tanam pengganti untuk penderita katarak yaitu lensa monofokal yang digunakan hanya untuk memperbaiki penglihatan jauh dan lensa multifokal yang mampu mengoreksi penglihatan jauh dan dekat. Pada pengguna lensa monofokal, pasien membutuhkan bantuan kacamata untuk penglihatan jarak dekat atau membaca, sedangkan pengguna lensa multifokal tidak perlu lagi menggunakan kacamata.

Penanganan katarak memang tak bias sembarangan. Teknologi terbaik memerlukan dokter yang berpengalaman sebagai operator dan juga lensa yang sesuai. Teknik MICS ini masih sangat jarang di Indonesia begitu pula dengan ketersediaan lensa tanam yang sangat kecil lipatannya. Saat ini di Indonesia baru tersedia di Jakarta Eye Centre.

Category: Labels: | 2 Comments

Kornea merupakan bagian transparan dari mata yang letaknya di depan lensa mata. Tebalnya 0,5 mm dan jika mengalami luka atau infeksi akan menghalangi dan mengaburkan pandangan. Akibatnya terjadi gangguan penglihatan atau bahkan kebutaan. Kornea terdiri dari beberapa lapisan bening, kerusakan bisa terjadi pada lapisan kornea terluar atau terdalam saja bahkan bisa juga mengenai keduanya. Namun jika yang rusak adalah lapisan paling dalam, proses penggantian lapisan akan menjadi lebih sulit.

Transplantasi kornea sudah sejak lama terbukti mampu menyembuhkan kebutaan atau kerusakan penglihatan yang terjadi akibat permasalahan pada kornea. Tingkat kesuksesan terapi ini pun cukup tinggi. Namun pada terapi pemasangan lapisan kornea baru ke dalam mata, sekitar 30 – 40% sel – sel kornea baru dapat mengalami kerusakan. Akibatnya pemulihan pasien setelah operasi menjadi lebih lama.

Teknik yang biasa digunakan para ahli bedah mata untuk transplantasi kornea adalah dengan mengganti seluruh jaringan kornea pasien, biasa disebut Penetrating Keratoplasty. Untuk memasukkan kornea baru ke lapisan paling dalam, kornea baru akan dilipat menjadi setengah lalu diselipkan melalui sayatan kecil di samping mata dengan menggunakan sepasang forceps. Setelah masuk, udara ditiupkan ke dalam kornea untuk membuka lipatan kornea baru tadi. Salah satu kelemahan teknik ini ada pada proses pelipatan kornea baru yang akan merusak sel – sel kornea baru karena bagian dalam kornea bersentuhan dengan bagian luar. Masalah semakin buruk pada mata orang – orang Asia yang pada umumnya memiliki kelopak mata yang lebih kecil daripada orang Kaukasia sehingga lebih sulit membuka lipatan kornea.

Pada saat ini telah ditemukan teknik transplantasi yang memungkinkan para ahli bedah mata untuk mengganti lapisan kornea hanya pada lapisan yang terganggu. Jika lapisan luar yang rusak, cukup diganti lapisan luarnya dan jika hanya lapisan dalam yang rusak maka yang diganti hanya lapisan dalam. Prosedur transplantasi sebagian lapisan saja ini dinamakan Lamellar Keratoplasty. Diharapkan dengan prosedur ini, maka resiko penolakan transplantasi kornea dapat menurun secara signifikan. Teknik yang digunakan dinamakan Descemet Stripping Automated Endothelial Keratoplasty (DSAEK). Prosedur dan teknik tersebut diciptakan oleh Profesor Donald Tan yang merupakan direktur dari Pusat Nasional Kesehatan Mata di Singapura (Singapore National Eye Centre/SNEC) dan Professor Jodhbir Mehta yang merupakan konsultan opthalmologis di SNEC. Mereka berdua menciptakan suatu alat yang dapat digunakan oleh ahli bedah mata khusus kornea yaitu Tan Endoglide. Dengan prosedur, teknik dan alat terbaru ini diharapkan kerusakan yang dialami kornea donor bisa ditekan hingga hanya berkisar 7 – 19%.

Pada teknik terbaru ini, lapisan kornea donor tak perlu dilipat melainkan langsung dimasukkan ke dalam mata. Kornea baru akan diletakkan di atas lembaran plastik tipis yang disebut Tan Endoglide, kemudian plastik ini akan dimasukkan melalui sayatan kecil selebar 5 milimeter di samping mata. Selanjutnya lapisan kornea ditarik dengan forceps dari sisi mata sebelahnya sehingga masuk ke posisi yang benar. Prosedur ini tak membutuhkan jahitan sehingga kondisi mata menjadi lebih kuat. Selain itu, tanpa luka jahitan maka penglihatan akan pulih dalam waktu lebih cepat.

Sebelumnya, kornea baru untuk transplantasi mata hanya didapat dari kornea donor dari orang yang telah meninggal dunia. Melalui riset yang dilakukan selama hampir 10 tahun oleh Profesor Tan bersama rekannya di Singapore Eye Center Institute (SERI) yaitu Profesor Roger Beuerman yang merupakan Senior Scientific Director of SERI, untuk pertama kalinya di dunia mereka berhasil menumbuhkan jaringan kornea mata baru dari sel induk (stem cells) manusia di dalam laboratorium. Jaringan kornea mata baru ini dapat dipakai pada mata pasien yang normal yang kemudian ditransplantasi ke mata yang mengalami kerusakan untuk memperbaiki penglihatan pasien. Mereka tidak menggunakan sel – sel hewn atau serum untuk menumbuhkan sel induk agar mengeliminasi resiko penularan penyakit.

Selain mengembangkan kornea donor dari sel induk, Profesor Tan juga sering melakukan prosedur operasi kornea yang rumit yaitu “tooth-in-eye”. Operasi ini merupakan cara terakhir jika prosedur transplantasi kornea sudah tidak bisa dilakukan atau teknik tersebut tidak memberikan hasil yang bagus karena kondisi kornea mata pasien yang sudah terlalu parah. Caranya dengan memasang silinder plastic kecil menembus kornea mata. Silinder ini akan berfungsi menyalurkan cahaya ke retina mata sehingga pasien dapat melihat kembali. Dengan majunya teknik pembedahan mata, maka pasien pun penglihatannya dapat cepat pulih tanpa bekas luka jahitan.

Category: Labels: | 0 Comments

Konjungtivitis berarti adanya peradangan pd konjungtiva,yaitu selaput bening yg menyelimuti bagian putih pd mata dan melapisi bagian dalam kelopak mata. Pd prinsipnya,tiap peradangan pd konjungtiva dapat menyebabkan melebarnya pembuluh darah. Pelebaran inilah yg menyebabkan mata terlihat merah.

Peradangan dibagi 2,yaitu akibat infeksi dan non infeksi. Infeksi bakteri antara lain dari spesies Staphylococcus sp.,Clamydia sp.,dan Neisseria sp.,serta berbagai virus dapat menyebabkan konjungtivitis. Peradangan akibat proses non infeksi antara lain disebabkan oleh alergi,adanya iritasi akibat benda asing,misalnya pd pemakai lensa kontak. Peradangan juga bisa terjadi akibat penggunaan obat2an mata tertentu. Pd bentuk yg lain,mata merah juga dapat terjadi akibat adanya perdarahan di bawah konjungtiva.

GEJALA

Konjungtivitis dapat menyerang siapa saja dari segala usia. Selain menimbulkan kemerahan pd bagian putih mata dan rasa mengganjal ketika menutup mata,gejala lainnya juga dapat timbul tergantung dari penyebab. Pd konjungtivitis akibat infeksi bakteri,mata merah timbul secara akut disertai dgn sedikit nyeri. Yg menonjol adalah adanya kotoran mata yg banyak,kental kekuningan,dan seringkali lengket,terutama ketika bangun tidur di pagi hari. Pd konjungtivitis akibat virus,biasanya mata juga mengalami nyeri dan mudah keluar cairan encer jernih. Penderita juga merasakan sedikit pegal2,nyeri sendi dan otot,serta nyeri kepala. Bila terjadi akibat proses alergi,biasanya tidak ada rasa nyeri namun mata menjadi sangat gatal. Cairan yg keluar umumnya jernih,kental,dan lengket.

Satu atau kedua mata dapat terkena. Pd konjungtivitis akibat infeksi,awalnya hanya satu mata yg terkena. Namun karena mudah menular,dgn cepat mata yg lain juga sakit. Pd kasus tertentu,konjungtivitis dapat menjadi lebih parah. Keparahan antara lain ditandai dgn pandangan menjadi buram. Pd keadaan ini sebaiknya penderita segera berkonsultasi ke dokter ahli mata.

PENULARAN

Penularan hanya bisa terjadi pd konjungtivitis yg disebabkan infeksi. ANGGAPAN KONJUNGTIVITIS MENULAR MELALUI PANDANGAN MATA TIDAKLAH BENAR. Baik bakteri atau virus memang dapat menular dgn mudah namun tidak semudah melalui saling memandang.

Sumber penularan adalah cairan yg keluar dari mata yg sakit yg mengandung bakteri atau virus penyebab. Lantaran gatal atau rasa tidak nyaman di mata,disengaja atau tidak,penderita seringkali menggosok atau mengusap mata dgn tangan. Bila tidak segera dicuci dgn sabun,tangan yg terkontaminasi cairan infeksi ini dapat menjadi media penularan. Melalui jabat tangan misalnya,tangan orang lain dapat tertular dan kuman masuk ke mata bila tangan itu kemudian memegang atau menggosok mata. Bisa pula melalui cara tidak langsung,misalnya tangan yg terkontaminasi memegang benda yg kemudian terpegang juga oleh orang lain. Cara terakhir yg paling sering terjadi di tempat2 umum seperti bis kota,pusat perbelanjaan,dan tempat2 ibadah.

Penggunaan kosmetik utk mata secara bergantian dgn penderita juga dapat menjadi media penularan,misalnya eyeliner,eye shadow,atau maskara. Demikian juga dgn penggunaan tissue,sapu tangan,dan handuk. 1 BENDA YG SERING MENJADI MEDIA PENULARAN ADALAH UANG KARENA SETIAP ORANG BERULANG KALI BERSENTUHAN DGN ALAT PEMBAYARAN INI SETIAP HARI. Bila pernah terkontaminasi virus atau bakteri penyebab konjungtivitis dan kemudian tanpa sengaja tangan yg memegang uang tersebut mengusap mata,maka kemungkinan terjadi konjungtivitis sangat besar. Penularan di tempat praktik dokter pun bisa terjadi,misalnya melalui peralatan periksa mata yg dipakai bergantian tanpa dibersihkan.

PENANGANAN

Berkonsultasilah dgn dokter segera setelah mengalami mata merah. Bila tanda gejalanya sesuai konjungtivitis akibat virus,biasanya dapat membaik dgn sendirinya dalam waktu sekitar 1-2 minggu. Pd konjungtivitis yg disebabkan bakteri,dokter biasanya akan memberikan obat antibiotik tetes. Bila karena alergi,maka prinsip utama pengobatan adalah mencari dan menghindari penyebabnya. Selain itu dokter juga akan memberikan berbagai obat anti peradangan. Utk memberi rasa nyaman pd mata,cobalah mengompres mata yg sakit dgn handuk yg dibasahi. Gunakan air dingin utk konjungtivitis akibat alergi dan virus,atau air hangat utk konjungtivitis akibat infeksi bakteri.

Category: Labels: | 0 Comments

PRINSIP OPTIK LENSA MATA

Berkas sinar akan dibiaskan bila melewati satu medium ke medium lain dgn indeks bias yg berbeda,kecuali bila berkas tersebut jatuh tegak lurus terhadap permukaan. Berkas sinar sejajar yg mengenai lensa mata (lensa bikonveks) akan dibiaskan ke 1 titik (fokus utama) di belakang lensa. Fokus utama terletak di sebuah garis yg berjalan melewati titik pusat lengkung lensa,sumbu utama. Jarak antara lensa dan fokus utama disebut jarak fokus utama. Berkas sinar yg datang dari suatu benda berjarak 6 meter (20 feet) atau lebih dari lensa,dianggap sejajar. Berkas sinar dari benda yg terletak lebih dekat dari 6 meter akan mengalami divergensi sehingga difokuskan di sumbu utama lebih ke belakang daripada fokus utama.

Semakin besar lengkung suatu lensa,semakin kuat daya biasnya. Daya bias lensa diukur dalam dioptri,yg merupakan kebalikan dari jarak utama dalam meter. Mata manusia memiliki daya bias sekitar 60 dioptri pd saat istirahat.

MEKANISME

Cahaya yg melalui pusat lensa tidak mengalami pembiasan,maka cahaya dari setiap titik sumber cahaya terlihat membentuk titik bayangan di sisi kanan lensa,tepat di garis yg melalui titik sumber cahaya dan pusat lensa. Setiap benda yg terletak di depan lensa merupakan kumpulan dari beberapa titik sumber cahaya. Titik2 itu mempunyai cahaya yg kuat atau lemah,dan warnanya berbeda2. Setiap titik sumber cahaya dari benda membentuk titik fokus yg berbeda pd sisi lain lensa yg segaris dgn pusat lensa. Bila secarik kertas putih diletakkan pd jarak fokus lensa ini,akan terlihat bayangan dari benda. Namun bayangan ini mempunyai gambaran atas-bawah yg terbalik dari benda aslinya,demikian pula sisi2 sampingnya.

Cahaya yg datang pd mata berupa energi dalam spektrum yg kemudian diubah oleh mata menjadi potensial aksi di nervus optikus (saraf penglihatan). Panjang gelombang cahaya yg dapat dilihat berkisar 397-723 nano meter. Bayangan benda yg difokurkan di retina mencetuskan potensial aksi di dalam sel kerucut dan batang. Impuls yg timbul di retina dihantarkan ke korteks serebrum,utk dapat menimbulkan kesan penglihatan.

Category: Labels: | 0 Comments

Glaukoma merupakan penyebab utama kebutaan pd populasi usia lanjut dan sangat menarik secara farmakologi karena bentuk kronisnya masih dapat diobati dgn obat2an. Manifestasi pertama adalah peningkatan tekanan intraokular tanpa gejala. Tanpa pengobatan,maka peningkatan tekanan intraokular ini akan merusak retina dan saraf optik,dgn penyempitan lapang pandang dan akhirnya buta. Tekanan intraokular mudah diukur sebagai bagian rutin pemeriksaan oftalmologi.

Ada 2 tipe glaukoma yg dikenal : sudut terbuka dan sudut tertutup (atau sudut sempit). Bentuk sudut terbuka berhubungan dgn ruang anterior mata yg dangkal,yg apabila iris berdilatasi dapat menutup jalan aliran keluar pd sudut antara kornea dan badan siliaris. Bentuk ini biasanya akut dan menimbulkan nyeri sesuai dgn peningkatan tekanan intraokular,yg harus segera diatasi atas dasar kegawatan dgn obat atau dicegah dgn operasi pembuangan sebagian iris (iridektomi). Bentuk glaukoma sudut terbuka ini merupakan kondisi kronis dan pengobatan umumnya secara farmakologis.

Karena tekanan intraokular merupakan fungsi keseimbangan antara cairan yg masuk dgn aliran keluar dalam bola mata,maka strategi pengobatan glaukoma sudut sempit menjadi 2 kelas yaitu :
- mengurangi sekresi cairan humor
- memperbanyak aliran keluar cairan humor

Ada 4 grup umum obat2an glaukoma yaitu kolinomimetik,agonis alfa,penyekat beta,dan diuretika yg mampu mengurangi tekanan intraokular. Popularitasnya terletak pd kenyamanan (dosisnya hanya 1-2 kali sehari) dan relatif tidak ada efek samping (kecuali pasien dgn asma dan penyakit pacu jantung serta gangguan konduksi). Obat lain yg dapat pula menurunkan tekanan intraokular adalah antagonis alfa-1,prostaglandin E2,dan marijuana. Pemakaian obat pd glaukoma sudut sempit akut terbatas terhadap obat kolinomimetik dan osmotik sebelum operasi. Mula kerja obat2 ini terlalu lambat pd situasi tersebut.

SEKILAS TENTANG OBAT2 GLAUKOMA

1. Kolinomimetik
- Contoh obat : Pilokarpin,karbakol,fisostigmin,ekotiofat
- Mekanisme : kontraksi otot siliaris,membuka anyaman trabekular,meningkatkan aliran keluar
- Cara pemberian : tetes topikal atau gel,insersi lepas lambat plastik film

2. Agonis alfa
- Contoh obat :
a. Tidak selektif : epinefrin dan dipivefrin
b. Selektif alfa-2 : apraklonidin
- Mekanisme :
a. Meningkatkan aliran keluar
b. Menurunkan sekresi cairan
- Cara pemberian :
a. Tetes topikal
b. Topikal setelah operasi laser pd mata

3. Penyekat beta
- Contoh obat : timolol,betaksolol,karteolol,levobunolol,metipranolol
- Mekanisme : menurunkan sekresi cairan dari epitel siliaris
- Cara pemberian : tetes topikal

4. Diuretika
- Contoh obat :
a. Asetazolamid
b. Asam etakrinat
- Mekanisme :
a. Menurunkan sekresi karena tidak ada ion bikarbonat
b. Menurunkan sekresi
- Cara pemberian
a. Oral
b. Suntikan intraokuli dgn interval,misalnya tahunan.

Category: Labels: | 0 Comments

Mata merupakan contoh suatu organ dgn berbagai fungsi SSO (Sistem Saraf Otonom),yg dikontrol oleh berbagai reseptor otonom. Ruang anterior mata merupakan tempat sejumlah jaringan yg dikontrol oleh SSO. Jaringan disini meliputi 3 jenis otot yg berbeda yaitu :
- dilatator pupil
- konstriktor iris
- siliaris

Termasuk juga jaringan epitel sekresi dari badan siliaris. Kolinomimetik muskarinik menyebabkan kontraksi otot konstriktor pupil sirkular dan otot siliaris. Kontraksi otot konstriktor pupil menyebabkan miosis,pengecilan ukuran pupil. Miosis biasanya terjadi pd pasien yg terpapar obat kolinomimetik sistemik jumlah besar atau topikal dosis kecil,terutama penghambat kolinesterase organofosfat.

Kontraksi otot siliaris menimbulkan akomodasi fokus utk melihat dekat. Kontraksi nyata otot siliaris,yg sering terjadi akibat intoksikasi penghambat kolinesterase disebut siklospasme. Kontraksi otot siliaris menyebabkan pula tegangan pd lubang anyaman trabekular,sehingga porinya terbuka dan mempermudah pengaliran keluar cairan humor ke dalam kanal Schlemm. Peningkatan keluarnya cairan ini akan mengurangi tekanan bola mata,sesuatu yg sangat bermanfaat pd pasien glaukoma.

Semua efek ini dicegah atau dikembalikan oleh penghambat muskarinik seperti atropin. Adrenoseptor alfa menyebabkan kontraksi serabut otot dilatator pupil yg tersusun radial pd iris dan menimbulkan midriasis. Keadaan ini umumnya terjadi karena pacu simpatis dan ketika obat2 agonis alfa seperti fenilefrin diteteskan ke dalam konjunktiva. Adrenoseptor beta pd epitel siliaris mempermudah sekresi cairan humor. Hambatan terhadap reseptor ini (dgn obat penyekat beta) mengurangi aktivitas sekresi dan mengurangi tekanan dalam bola mata,sehingga bermanfaat juga pd pengobatan glaukoma.

Category: Labels: | 0 Comments