Tampilkan postingan dengan label Islam dan Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam dan Psikologi. Tampilkan semua postingan

Muhammad : 31
"Dan sesungguhnya benar-benar Kami akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu."

Al-Hadid : 22-23
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfuzh sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Alloh. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang sombong dan membanggakan diri."

Saat kenyataan tak seirama dengan kehendak, terasa pil pahit yang mau tak mau mesti ditelan. Sekuat apa pun seseorang menolaknya, kekecewaan tetap akan bertumpuk-tumpuk dan berlanjut pada kecemasan karena terbayang kekelaman yang akan menimpanya nanti. Sebagian orang mengatasi perasaan semacam itu (cemas/takut) dengan melakukan mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism). Istilah ini diperkenalkan oleh Freud untuk menunjukkan upaya-upaya mengurangi kecemasan, frustasi, stres, atau konflik, yang dilakukan secara sadar maupun tidak, untuk melindungi diri dari situasi yang tidak mampu ditanggulangi.

Berikut ini adalah 4 contoh self-defense mechanism yang dapat dilihat pada orang-orang di sekitar Anda atau bahkan mungkin Anda sendiri menggunakannya.

Tipe Denial "Saya Baik-Baik Saja" (Padahal Hati Hancur)
Pada kondisi tertentu, seseorang akan sulit mengakui bahwa dia sedang sedih, marah, atau kecewa pada suatu hal. Untuk menutup diri, kata-kata sakti yang sering diucapkan adalah, "saya baik-baik saja kok." Berpura-pura semua baik-baik saja dan menyangkal adanya hal yang tidak menyenangkannya, itulah denial.

Tipe Reaction Formation "Saya Tidak Ingin Mereka Tahu"
Seseorang berusaha menyembunyikan motif dan perasaan yang sesungguhnya dan menampilkan ekspresi wajah/tindakan yang berlawanan dengan yang sebenarnya. Dengan cara ini mereka dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi sesuatu/hal yang tidak menyenangkan. Misalnya pada seseorang yang menutupi rasa cinta dengan bersikap datar atau bahkan memusuhi orang yang dicintainya karena takut diketahui perasaannya.

Tipe Proyeksi "Saya Tidak Kok, Dia Kali"
Dalam mekanisme ini, seseorang membalikkan kenyataan dan menyalahkan orang lain atas kesalahan atau kenyataan yang dia miliki. Kalimat yang khas dari tipe ini yaitu, "Tidak kok, saya tidak mencintainya. Dia kali yang cinta saya, saya sih biasa saja." (Bentuk pembalikkan fakta)

Tipe Represif
Dalam mekanisme ini, seseorang akan menekan keinginan/pikiran-pikiran yang membuatnya cemas hingga ke bawah alam sadarnya dan saat melakukannya pun tanpa sadar pula. Misalnya pada orangtua yang memiliki anak dengan vonis penyakit mematikan, selalu menekan perasaan dengan menganggap anaknya baik-baik saja dan tidak mengalami sakit apapun.

Mekanisme pertahanan diri sebetulnya merupakan proses alami dari seseorang demi mempertahankan keseimbangan dan keutuhan mentalnya agar tetap normal. Namun bukan berarti mekanisme tersebut menjadi sebuah pelaziman. Pertahanan diri memang dapat menyelamatkan seseorang dari kecemasan atau sakit namun cara ini menyerap energi begitu besar. Tingginya frekuensi penggunaan mekanisme ini akan bermuara pada bermacam-macam gangguan dan sindrom berupa gelisah, cemas, sedih, sulit tidur, nyeri, disfungsi organ, bahkan bisa membuat orang tersebut tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Yang terparah adalah orang tersebut bisa sampai mengalami gangguan kejiwaan berat seperti skizofrenia.

Lalu mengapa banyak orang yang memilih lari dari kenyataan daripada mengakuinya ? Ada banyak alasan dan pada umumnya bersumber pada perasaan malu, takut atau merasa tidak enak. Takut ditolak, takut dihakimi, takut diremehkan, takut ditinggalkan, takut dipermalukan menjadikan seseorang lebih nyaman untuk bersembunyi. Padahal langkah seperti itu malah menyiksa diri karena terpenjara dalam topeng kepalsuan.

Satu hal yang perlu diingat adalah, apapun yang dilakukan seseorang untuk mengurangi kecemasan dengan mekanisme pertahanan diri, tidak akan bisa mengurangi permasalahan yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu, Yakinkanlah bahwa menerima diri sendiri jauh lebih baik daripada harus berada dalam topeng yang hanya bisa dipakai sesaat saja. Berusahalah untuk jujur dan bersyukur. Manusia yang sehat adalah manusia yang memiliki kadar self-defense mechanism rendah.

Masalah tercipta bukanlah untuk dihindari melainkan untuk diselesaikan. Masalah merupakan bagian dari hidup manusia yang tidak akan pernah bisa dihilangkan, dihindari ataupun ditolak kedatangannya. Masalah diciptakan untuk mendewasakan pemikiran seseorang dan meningkatkan kemampuan dirinya bertahan melawan arus kehidupan. Jika seseorang selalu melarikan diri dari masalah maka dia tak kan pernah hidup dalam ketenangan dan akan selalu merepotkan orang-orang yang berhubungan dengan dirinya.

Dari pengalaman pribadi, saya sarankan jika sedang berada dalam masalah besar, hal pertama yang Anda lakukan adalah menertawakan kebodohan diri sendiri. Meski hati gelisah dan takut akan konsekuensi yang dihadapi nanti namun dengan tertawa seperti itu, Anda akan bisa rileks dan siap menyusun serangkaian cara menghadapi setiap kemungkinan buruk yang terjadi. Hal penting yang harus Anda lakukan selanjutnya adalah mendekatkan diri kepada Alloh karena Dialah yang memberikan masalah tersebut dan Dia pula yang memiliki jalan keluarnya. Hal selanjutnya adalah jangan berpikiran negatif. Anda boleh memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa Anda alami namun janganlah terpaku seolah-olah kemungkinan itu sudah terjadi. Setelah Anda rileks, segera cari cara untuk mengatasi segala kemungkinan terburuk tersebut dan pastikan Anda berpikiran positif. Semoga saran saya bisa Anda pergunakan, insya Alloh semua akan menjadi baik.

Al-Insyirah : 5-6
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama kesulitan ada kemudahan."

Menurut penelitian oleh David B Larson dan timnya dari the American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok. 1

Ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain.

Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.

Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai "dampak kejiwaan". Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. 2

Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. 3

Kenyataan ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur'an dengan kalimat ini "...Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.

Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: "Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan." 4

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Patrick Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World (California: Prima Publishing: 1997), 80-81.
2. Herbert Benson, and Mark Stark, Timeless Healing (New York: Simon & Schuster: 1996), 203.
3. Ibid., 193.
4. Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World, 60-61.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

copas from http://www.facebook.com/notes/kembang-anggrek/bukti-ilmiah-yang-membuktikan-hati-penuh-kedamaian-bagi-orang-yang-tidak-terlepa/10150174686105570

Gangguan dalam kesehatan berupa penyakit, apapun bentuknya, merupakan bagian dari "ujian" yang telah ditentukan Allah SWT terhadap siapa yang dikehendakiNya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, "Dan sesungguhnya benar-benar Kami akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (Q.S.Muhammad : 31). Penjelasan yang lainnya di dalam Al-Qur’an, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang yang sabar." (Q.S. Al-Baqarah : 155).

Pengertian ini sangat penting dan fundamental, karena dalam tatalaksana pengobatan penderita, dokter akan sangat memerlukan kerjasama dengan penderita yang diobatinya. Salah satu faktor yang ikut menentukan adalah sikap penderita terhadap penyakit yang dideritanya. Sikap penderita ini ada berbagai ragam, ada yang panik, putus asa (paling banyak), dan tidak percaya (dengan seringnya berganti dokter). Apalagi jika penyakit-penyakit yang dideritanya termasuk cukup berat. Sikap negatif seperti tidak menerima sakit apalagi disertai dengan pertanyaan, "kenapa saya sakit begini, orang lain kok tidak," atau "kenapa justru saya yang kena," ataupun sering juga didengar komentar-komentar, "Salah apa saya, saya sudah berdoa, berbuat baik kepada orang, kok kena sakit seperti ini," adalah sikap yang tidak menguntungkan, malah merugikan sendiri. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi fungsi-fungsi tubuh pasien yang sedang sakit maupun yang masih sehat, dan yang jelas proses kesembuhan akan terhambat. Akibat yang ditimbulkan berupa stres kejiwaan dan kecewa yang berlarut dan akan mempunyai konsekuensi sebagai reaksi-reaksi biologik yang memperburuk penyakitnya dan mempersukar pengobatan, tanpa disadari oleh penderitanya. Misalnya gangguan tidur dan sekresi adrenalin karena stres yang berlanjut mengakibatkan kenaikan tekanan darah serta memacu denyut jantung yang semuanya pada keadaan sakit apapun tidak menguntungkan. Maka penjelasan dokter kepada penderita dan keluarganya tentang kenyataan adanya penyakit dan sikap yang harus dilakukan adalah "ikhlas" menerima kenyataan ini dan menganggap penyakit itu sebagai bagian dari kehidupan dan sudah menjadi kehendak Allah SWT Yang Maha Pencipta, jadi selama proses sakit ini mereka harus bersabar.

Pasien boleh bertanya kepada dokternya untuk mengetahui semua informasi tentang penyakit yang diderita dan aspek-aspek pengobatannya. Sebaliknya dokter harus menerangkan aspek-aspek yang perlu diketahui tentang penyakit yang diderita pasien, akan tetapi yang paling penting yang harus dijelaskan pada pasien ialah semua metoda pengobatan merupakan usaha manusia dengan kadar ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT kepada dunia kedokteran/dokter untuk mengobati, sedangkan sembuh atau proses penyembuhan adalah hak mutlak Allah SWT.  Seperti  ucapan  Nabi Ibrahim  a.s. yang diabadikan dalam Al-Quran, “Apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku.” (Q.S.Asy-Syu'ara': 80). Penjelasan ini mungkin dapat diberikan kepada keluarga saja atau langsung pada pasien, tergantung keadaan. Maksudnya bukan sekali-kali agar dokter dapat mencari alasan jika pengobatannya gagal, akan tetapi hal ini diungkapkan sebagai pintu pembuka agar dokter dan pasien bersungguh – sungguh dalam menjalankan usaha-usaha pengobatan, sedangkan letak keberhasilan pengobatan semata-mata di tangan Allah SWT.  Hal ini sesuai petunjuk Allah dalam Al-Quran, "Yaitu orang-orang, yang apabila ditimpa musibah, mereka mengatakan : Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." (Q.S. Al-Baqarah : 156). Kata-kata "innalillahi wa inna ilaihi raji'un" adalah kata-kata keikhlasan, kata-kata penggantungan harapan dan penyerahan diri bahwa semua apapun berasal dari Allah (termasuk penyakitnya), dan semua akan kembali kepadaNya.

Kita telah mengetahui, bahwa saat ini penyakit-penyakit dunia modern lebih banyak bersifat non infeksi dan cenderung akibat dari gaya hidup yang tidak sehat, misalnya darah tinggi/hipertensi dengan segala komplikasinya, kanker serta bentuk-bentuk keganasan, penyakit-penyakit jantung, penyakit penyumbatan darah ke otak, penyakit-penyakit pencernaan dan hati, dan lain-lain. Bentuk-bentuk penyakit ini patofisiologisnya sampai sekarang belum jelas benar, dan telah diketahui pula bahwa faktor-faktor psikologik si sakit mempunyai peranan penting dalam penyakit ini. Keimanan kepada Tuhan merupakan faktor amat penting untuk membuat seseorang percaya bahwa doa memang ampuh dalam membantu proses penyembuhan penyakit-penyakit seperti itu. Suatu survei pernah dilakukan majalah TIME, CNN, dan USA Weekend. Rata-rata survei itu menunjukkan lebih dari 70% orang menyatakan percaya bahwa doa dapat membantu proses penyembuhan. Dari survei tersebut terungkap bahwa banyak pasien membutuhkan terapi keagamaan selain obat-obatan atau tindakan medis lainnya. Bahkan dari 64% orang berharap agar para dokter juga memberikan terapi psikoreligius dan doa. Dr. Dale A. Matthews, dari Universitas Georgetown, Amerika Serikat mengamati paling tidak ada 212 penelitian tentang terapi doa yang telah dilakukan. Dari jumlah itu 75% menyatakan bahwa komitmen agama, di antaranya dalam bentuk doa dan zikir menunjukkan pengaruh positif pada pasien.

Penelitian lain tentang kaitan doa dan kematian akibat penyakit juga dilakukan Comstock sebagaimana termuat dalam Journal of Chronic Disease. Studi terhadap sekelompok orang memperlihatkan bahwa doa secara positif mempengaruhi tekanan darah tinggi, luka, serangan jantung, sakit kepala, dan kecemasan. Subyek‑subyek dalam studi ini mencakup pula air, enzim, bakteri, jamur ragi, sel-sel darah merah, sel-sel kanker, sel-sel pemacu, benih, tumbuhan, ganggang, larva, ngengat, tikus, dan anak ayam; dan di antara proses‑proses yang telah dipengaruhi adalah proses kegiatan enzim, laju pertumbuhan sel darah putih leukemia, laju mutasi bakteri, pengecambahan dan laju pertumbuhan berbagai macam benih, laju penyumbatan sel pemacu, laju penyembuhan luka, besarnya gondok dan tumor, waktu yang dibutuhkan untuk bangun daripembiusan total, efek otonomi seperti kegiatan elektro-dermal kulit, laju hemolisis sel‑sel darah merah, dan kadar hemoglobin. Dinyatakan bahwa mereka yang melakukan kegiatan keagamaan secara teratur disertai doa, memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung koroner lebih rendah 50% dibanding mereka yang tidak melakukan kegiatan keagamaan. Sementara kematian akibat emfisema (paru-paru) lebih rendah 56%, kematian akibat penyakit hati (sirosis hepatis) lebih rendah 74% dan kematian akibat bunuh diri lebih rendah 53%. Bukti lain datang dari penelitian Robbins dan Metzner yang dilakukan selama 8-10 tahun terhadap 2700 responden didapati bahwa responden yang rajin menjalankan ibadah serta berdoa, angka kematiannya jauh lebih rendah dibandingkan yang tidak beribadah. Penelitian Larson dan kawan-kawan terhadap para pasien tekanan darah tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol (bukan pasien hipertensi), diperoleh kenyataan bahwa komitmen agama kelompok kontrol lebih kuat. Selanjutnya dikemukakan kegiatan keagamaan seperti doa dapat mencegah seseorang dari penyakit hipertensi.


Dokter Larry Dossey, M.D., seorang dokter dari Mexico, menjelaskan bahwa dalam sejumlah penelitian tentang doa menunjukkan jarak tidak mempengaruhi dalam kemanjuran doa, apakah doa tersebut dilakukan di dekat pembaringan pasien, di luar kamar, atau di seberang lautan. Dalam bukunya, Healing Words, dia menyatakan tidak bisa menemukan seorang pakar pun yang mau mengatakan bahwa tingkat pemisahan jarak antara orang yang berdoa dengan pasien merupakan faktor dalam hal kemanjurannya. Orang‑orang yang mempraktekkan penyembuhan melalui doa semuanya mengatakan bahwa pengaruh-pengaruh doa tidak dipengaruhi oleh jarak. Doa itu sama manjurnya walaupun yang berdoa dan yang menjadi tujuan doa terpisah oleh samudera atau ada di balik pintu atau cuma di sisi tempat tidur. Tak ada satupun yang nampaknya sanggup menghambat atau meng­hentikan doa. Bahkan walaupun "obyek" yang didoakan itu ditempatkan di sebuah ruangan berlapis timah atau ruangan yang tidak bisa ditembus berbagai macam energi gelombang elektromagnetik, akibat doa masih bisa menembusnya.

Dalam ajaran Islam juga ditekankan bahwa obat dan upaya hanyalah "sebab", sedangkan  penyebab sesungguhnya di balik sebab atau upaya itu adalah Allah Swt. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk berdoa ketika dilanda sakit supaya memohon kesembuhan. “Dan apabila hamba hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka jawablah bahwasannya adalah aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apa bila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada kebenaran.” (Al Baqoroh : 186). Wallohualam.

Manusia hidup tak luput dari banyak permasalahan hidup, entah itu berat ataupun ringan. Manusia juga punya banyak keinginan dan harapan namun untuk memperoleh yang diinginkannya tersebut, manusia selain harus berusaha juga diharuskan untuk selalu berdoa. Usaha keras tanpa doa akan menjadi suatu hal yang mustahil.

Dalam Al-Qur’an, Alloh menyebutkan perintah kepada hamba-hambaNya untuk berdoa. "Bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa kepadaKu. Maka hendaknya mereka memenuhi segala perintah-perintahKu, dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu dalam kebenaran." (Q.S. Al Baqarah : 186). Firman Alloh yang lainnya yaitu, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan aku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang orang yang menyombongkan diri dari menyembahku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (surat Al Mu’min : 60)

Doa merupakan sebuah cara pengaduan manusia akan derita dan masalahnya. Selain itu, doa juga bisa menjadi wahana untuk memacu potensi diri karena berdoa merupakan metode pengharapan yang efektif. Di dalam doa, diri kita akan teraktualisasi dengan menyerahkan hidup kita kepada Alloh. Keyakinan dan doa yang intensif dapat mengubah kesehatan dan kekuatan otak, memfokuskan otak pada perasaan tenang dan mengontrol rasa marah. Maka sudah sepantasnya dalam setiap kesempatan kita dianjurkan untuk selalu berdoa.

Sebuah studi terhadap peran otak dalam kehidupan beragama yang dilakukan oleh para neurolog dari University of Pennsylvania’s Hospital, meneliti keadaan yang terjadi di dalam otak para penganut kepercayaan ketika mereka merenung dan berdoa kepada Tuhannya. Hasilnya menunjukkan bahwa berdoa akan mengaktifkan otak bagian depan, yang menciptakan dan menggabungkan semua pikiran tentang Tuhan, termasuk area otak yang mengatur pemikiran-pemikiran logis. Dengan berdoa, aktivitas elektrik pada bagian otak tersebut akan meningkat dan perasaan pun menjadi lebih tenang. Hanya dengan 10 hingga 15 menit saja berdoa, akan memberikan efek yang positif terhadap daya kognitif, relaksasi dan kesehatan psikologi. Menurut penelitian ini, pada otak seorang yang rajin berdoa akan ditemukan sebuah ruang khusus yang biasa digunakannya untuk berdoa pada Tuhan. Hal ini menandakan bahwa otak adalah tempat terjadinya fenomena spriritual. Seseorang yang jarang berdoa hanya akan memiliki ruang yang kecil dalam otaknya karena tidak digunakan secara intensif. Artinya, seorang yang beragama pun jika tidak percaya pada keyakinannya hanya akan memiliki ruang yang kecil pada otaknya.

Berdoa  akan membuat seseorang mencapai ketenangan dan ketentraman batin sehingga berdampak pada perbaikan fungsi organ tubuh, termasuk saraf yang merupakan pengendali setiap aktivitas kita. Saraf yang tenang dan relaks akan terbentuk dan membuat sirkulasi darah menjadi lebih baik dan lancar. Kondisi seperti ini akan menciptakan keseimbangan dan  menstimulasi optimalisasi aksi-reaksi neouologis dalam meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri atau self healing.Lebih dari itu, tubuh pun akan mampu menangkal serangan berbagai penyakit, memiliki kemampuan untuk meningkatkan keseimbangan kinerja bioelektrik kita dan neurotransmitter, meredakan efek ketegangan dan ketenrtaman batin, dan meningkatkan proses regenerasi sel saraf ketika terjadinya perbaikan kondisi system saraf pusat dan spinal cord.

Sementara itu ketentraman dan ketenangan batin yang timbul akibat kontinuitas berdoa, dapat menstabilkan hormon-hormon dan kimiawi tubuh, tidak hiperaktif atau agresif, dan juga tidak pasif. Hormon yang berperan dalam perilaku agresif adalah hormon vasopresin, yaitu hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis yang terletak dibawah otak. Hormon ini memiliki efek yang kurang baik, yaitu memaksa pembuluh-pembuluh darah kecil berkontraksi atau berkerut dan pengerutannya bisa bertahan dalam jangka waktu lama,terutama terhadap pembuluh darah jantung. Oleh karena itu orang yang agresif cenderung terkena serangan jantung atau stroke. Hormon adrenalin yang sangat berperan ketika seseorang dalam keadaan marah atau rasa takut, bekerja mempercepat denyut jantung, menegangkan otot, nafas menjadi lebih kencang, dan meningkatkan tekanan darah. Akan tetapi dengan kekuatan doa,reaksi hormon adrenalin tadi dapat di kendalikan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi dan perintah Alloh dalam Al-Qur’an untuk berdoa dikala sedang marah maupun saat dilanda rasa takut.

Tetapi di zaman modern dan maju ini, banyak di antara kita yang meremehkan kekuatan doa. Hal ini disebabkan oleh faktor keyakinan agama si pendoa bahwa doa tidak seluruhnya dikabulkan Alloh. Ada praduga bahwa Alloh hanya akan mengabulkan doa yang menurutNya baik bagi makhluk ciptaanNya. Dengan demikian ada pikiran negatif pada Alloh karena doanya yang tidak diijabah (dikabulkan) dan putus asa. Padahal sebenarnya kekuatan doa tidak tergantung pada jawaban Alloh namun pada bagaimana hubungan si pendoa dengan Alloh. Yang menjadi bagian terpenting dalam doa adalah kualitas serta selalu percaya bahwa kehadiran Alloh sangat dekat. Sesuai dengan firman Alloh, “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,…” (Q.S. Qaf : 16). Bila doa keluar dari hati, maka doa akan mempunyai kekuatan. Oleh karena itu, iringilah doa dengan perbuatan baik dan tidak hanya ungkapan verbal semata.

Alloh memberikan kebebasan kepada hambaNya untuk menentukan kemauan kita untuk berdoa kepadaNya. Istilahnya, Alloh menunggu kita meminta atau tidak. Memang Alloh Maha Tahu tapi akan lebih baik kalau kita melakukan doa sebagai wujud kesadaran kita terhadap kelemahan dan ketergantungan kepada Alloh serta meyakini bahwa ada kekuatan tersembunyi di balik doa itu.