1. Kanker darah (leukemia)
Ini merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita anak (sekitar 25-30 % dari kasus kanker anak). Bila dilakukan tindakan sedini mungkin, anak bisa terbebas kanker darah 100 %.
Gejalanya :
- Wajah anak pucat, tubuhnya lesu dan lemah
- Sering mengalami perdarahan berupa bercak biru di kulit, mimisan, atau perdarahan gusi tanpa sebab yang jelas
- Sering mengalami demam
- Anak mengeluh nyeri pada tulang
- Perut anak membengkak dan terasa keras
- Terkadang ditemukan benjolan di kulit dan pembengkakan di gusi
2. Kanker bola mata (retinoblastoma)
Ini merupakan jenis kanker yang juga banyak dijumpai pada anak-anak. Pengobatan serta penanganan yang tepat dapat menyembuhkan kanker ini meskipun terkadang harus mengorbankan mata si kecil.
Gejalanya :
- Terdapat bercak putih di bagian tengah mata yang bersinar bila kena cahaya (dikatakan seperti mata kucing)
- Juling
- Penglihatan anak terganggu
3. Tumor otak
Kanker jenis ini menyerang struktur susunan saraf pusat di dalam rongga tengkorak yang dapat berakhir dengan terganggunya fungsi saraf otak.
Gejalanya :
- Pada bayi, ubun-ubun menonjol
- Anak sering mengeluh sakit kepala disertai mual dan muntah
- Penglihatan anak dapat berangsur berkurang
- Anak mengalami penurunan kesadaran atau perubahan perilaku (suka mengamuk)
- Anak mengalami gangguan keseimbangan tubuh, anggota tubuh melemah, gangguan bicara, atau kejang
4. Kanker kelenjar getah bening (limfoma maligna)
Gejalanya :
- Terjadi pembesaran kelenjar getah bening seperti di daerah leher, dada, ketiak, usus, dan selangkangan
- Pembesaran terjadi di kelenjar getah bening dalam usus, maka usus dapat tersumbat dan anak akan menderita sakit perut, muntah-muntah, dan tidak bisa buang air besar
- Pembesaran yang terjadi di daerah dada dapat membuat anak sesak napas dan mukanya membiru
5. Kanker saraf (neuroblastoma)
Kanker ini bisa terjadi di banyak organ tubuh seperti di daerah mata, leher, dada, juga bagian belakang tubuh. Tetapi pada anak sering terjadi di dekat ginjal, di daerah pinggang bagian dalam. Itu sebabnya agak sulit mendeteksi kanker ini pada anak.
Gejalanya :
- Bila terjadi di dekat ginjal, perut anak akan terlihat membesar
- Bila kanker berada di daerah mata, bola mata anak akan menonjol, pupil melebar dan kelopak matanya turun
- Bila berada di tulang belakang, kanker akan menekan saraf tulang belakang dan anak bisa lumpuh
- Penyebaran yang terjadi pada tulang bisa menyebabkan tulang anak patah tanpa sebab serta tanpa rasa nyeri
6. Kanker otot lurik (rabdomiosarkoma)
Kanker jenis ini bisa ditemui pada otot mana saja di seluruh tubuh anak. Meski yang paling banyak ditemui adalah di daerah kepala, leher, kandung kemih, prostat (kelenjar kelamin pria) dan vagina.
Gejalanya :
- Bila terjadi di rongga mata, maka mata anak akan menonjol keluar
- Bila terjadi di telinga, anak akan merasa telinganya nyeri dan keluar darah dari lubang telinga
- Bila terjadi di tenggorokan, jalan napas anak dapat tersumbat, menyebabkan radang sinus, keluar darah dari hidung (mimisan), dan anak sulit menelan
- Bila terjadi di saluran kemih, anak akan sulit buang air kecil dan air seninya pun berdarah
- Bila mengenai saluran pencernaan, anak dapat mengalami gangguan buang air besar
- Bila mengenai otot, anggota gerak anak akan membengkak
7. Kanker tulang (osteosarkoma)
Jenis kanker ini bisa menyerang setiap bagian tulang dalam tubuh anak namun yang terbanyak ditemukan pada tungkai, lengan, dan pinggul.
Gejalanya :
Si kecil mengalami pembengkakan pada daerah seputar tulang yang terkena dan dapat disertai rasa nyeri.
Sumber : Konsultasi Klinik Rumah Sakit Kanker "Dharmais", Jakarta.
Gunakanlah darah yg telah diskrining dan bebas dari penyakit menular melalui transfusi darah. Jangan gunakan darah kadaluarsa atau telah berada di luar lemari es lebih dari 2 jam.
Transfusi darah secara cepat dan jumlah besar dgn laju diatas 15 mL/kgBB/jam dgn darah yg disimpan pd suhu 4 derajat Celcius, dapat menyebabkan hipotermi terutama pd bayi kecil.
Darah dapat menjadi media penularan infeksi (seperti malaria, hepatitis B dan C, HIV). Oleh karena itu lakukan skrining donor darah seketat mungkin. Untuk memperkecil risiko, beri transfusi darah hanya jika sangat diperlukan.
5 indikasi umum transfusi darah :
- kehilangan darah akut, bila 20-30% total volume darah hilang dan perdarahan masih terus terjadi
- anemia berat
- syok septik (jika cairan IV tak mampu mengatasi gangguan sirkulasi darah dan sebagai tambahan dari pemberian antibiotik)
- memberikan plasma dan trombosit sebagai tambahan faktor pembekuan karena komponen darah spesifik yg lain tak ada.
- transfusi tukar pd neonatus dgn ikterus berat.
Sebelum pemberian transfusi, periksa hal berikut :
- golongan darah donor sama dgn golongan darah resipien dan nama anak serta nomornya tercantum pd label dan formulir (pada kasus gawat darurat, kurangi risiko terjadinya ketidakcocokan atau reaksi transfusi dgn melakukan uji silang golongan darah spesifik atau beri darah golongan O bila tersedia.
- kantung darah transfusi tak bocor
- kantung darah tak berada di luar lemari es lebih dari 2 jam, warna plasma darah tidak merah jambu atau bergumpal dan sel darah merah tak terlihat keunguan atau hitam
- jika ada tanda gagal jantung, berikan furosemid 1 mg/kgBB IV saat awal transfusi darah pd anak yg sirkulasi darahnya normal. Jangan menyuntik ke dalam kantung darah.
Lakukan pencatatan awal tentang suhu badan, frekuensi napas dan denyut nadi anak. Jumlah awal darah yg ditransfusikan harus sebanyak 20 mL/kgBB darah utuh yg diberikan selama 3-4 jam. Buret digunakan utk mengukur volume darah dan lengan anak dibidai utk mencegah siku fleksi.
Selama transfusi
- jika tersedia, gunakan alat infus yg dapat mengatur laju transfusi
- periksa apakah darah mengalir pd laju yg tepat
- lihat tanda reaksi transfusi terutama pd 15 menit pertama transfusi
- catat keadaan umum anak, suhu badan, denyut nadi dan frekuensi napas tiap 30 menit
- catat waktu permulaan dan akhir transfusi dan berbagai reaksi yg timbul.
Setelah transfusi, nilai kembali keadaan anak. Jika diperlukan tambahan darah, jumlah yg sama harus ditransfusikan dan dosis furosemid (jika diberikan) diulangi kembali.
Jika timbul reaksi karena transfusi, pertama periksa label kemasan darah dan identitas pasien. Jika terdapat perbedaan, hentikan transfusi segera dan hubungi bank darah.
Reaksi ringan setelah transfusi karena hipersensitivitas ringan adalah ruam kulit yg gatal. Tatalaksana :
- lambatkan transfusi
- beri klorfenamin 0,1 mg/kgBB IM jika tersedia
- teruskan transfusi dgn kecepatan normal jika tak terjadi perburukan gejala setelah 30 menit
- jika gejala menetap, tangani sebagai reaksi hipersensitivitas sedang
Reaksi sedang-berat karena hipersensitivitas sedang, reaksi non hemolitik, pirogen atau kontaminasi bakteri. Tanda dan gejala :
- urtikaria berat
- kulit kemerahan (flushing)
- demam diatas 38 derajat Celcius. Demam mungkin saja sudah timbul sebelum transfusi diberikan.
- menggigil
- gelisah
- peningkatan detak jantung
Tatalaksana
- stop transfusi tapi biarkan jalur infus dgn pemberian garam normal
- beri hidrokortison 200 mg IV atau klorfenamin 0,25 mg/kgBB IM jika tersedia
- beri bronkodilator jika terdapat wheezing
- kirim ke bank darah : perlengkapan bekas transfusi darah, sampel darah dari tempat tusukan lain dan sampel urin yg terkumpul dalam waktu 24 jam
- jika terjadi perbaikan, mulai kembali transfusi secara perlahan dgn darah baru dan amati seksama
- jika tak terjadi perbaikan dalam 15 menit, tangani sebagai reaksi yg mengancam jiwa dan laporkan ke dokter jaga dan bank darah
Reaksi yg mengancam jiwa karena hemolisis, kontaminasi bakteri dan syok septik, kelebihan cairan atau anafilaksis. Tanda dan gejala :
- demam diatas 38 derajat Celcius, yg mungkin pula sudah timbul sebelum transfusi
- menggigil
- gelisah
- peningkatan detak jantung
- napas cepat
- urin berwarna hitam/gelap (hemoglobinuria)
- perdarahan yg tak jelas penyebabnya
- bingung
- gangguan kesadaran
Pd anak yg tak sadar, perdarahan tak terkontrol atau syok merupakan tanda satu-satunya reaksi mengancam jiwa.
Tatalaksana
- stop transfusi tapi biarkan jalur infus dgn pemberian garam normal
- jaga jalan napas anak dan beri oksigen
- beri epinefrin 0,01 mg/kgBB (setara 0,1 mL dari larutan 1/10.000)
- tangani syok
- beri hidrokortison 200 mg IV atau klorfenamin 0,25 mg/kgBB IM jika tersedia
- beri bronkodilator jika terjadi wheezing
- lapor ke dokter jaga dan laboratorium sesegera mungkin
- jaga aliran darah ke ginjal dgn pemberian furosemid 1 mg/kgBB IV
- beri antibiotik utk septisemia
Selain gigitan ular berbisa, anak dan bayi juga dapat terkena gigitan binatang beracun lainnya seperti kalajengking, laba-laba beracun, dan ubur-ubur beracun. Berikan antibisa jika tersedia dan jika kelainan lokal berat atau terjadi efek sistemik. Ikuti prinsip tatalaksana keracunan gigitan ular berbisa.
Pada umumnya, gigitan kalajengking dan laba-laba beracun menimbulkan rasa sakit yang sangat, tetapi jarang menimbulkan gejala sistemik. Antibisa telah tersedia untuk beberapa spesies seperti widow spider dan banana spider.
Gigitan ikan beracun dapat menimbulkan rasa nyeri lokal yang sangat hebat, tetapi jarang menimbulkan gejala sistemik. Sengatan ubur-ubur kadang-kadang dengan cepat menyebabkan bahaya yang mengancam nyawa. Berikan cuka dengan menggunakan kapas untuk denaturasi protein bisa ubur-ubur yang menempel pada kulit. Sungut yang menempel harus diambil hati-hati. Menggosok-gosok luka sengatan dapat memperluas dampak racun. Antibisa mungkin tersedia.
Dosis antibisa untuk ubur-ubur dan laba-laba harus ditentukan berdasarkan jumlah racun yang masuk. Dosis yang lebih tinggi diperlukan pada gigitan yang multipel, gejala yang berat, atau apabila gejala timbul lambat.
Sumber pustaka :
World Health Organization. Country Office for Indonesia. PEDOMAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK DI RUMAH SAKIT RUJUKAN TINGKAT PERTAMA DI KABUPATEN/WHO. Alibahasa, Tim Adaptasi Indonesia. Jakarta : WHO Indonesia. 2008.
Pada kasus dengan bengkak pada ekstremitas (tungkai dan lengan) disertai nyeri hebat, harus dipikirkan kemungkinan gigitan ular berbisa. Atau pada kasus dengan perdarahan dan tanda neurologis abnormal yang tidak dapat dijelaskan. Beberapa jenis ular kobra menyemburkan bisa ke mata korban dan dapat menyebabkan nyeri dan bengkak.
Gejala umum meliputi syok, muntah, dan sakit kepala. Periksa jejas gigitan untuk melihat adanya nekrosis lokal, perdarahan atau pembesaran kelenjar limfe setempat yang lunak. Tanda spesifik bergantung pada jenis racun dan reaksinya, meliputi :
- syok
- pembengkakan lokal yang perlahan meluas dari tempat gigitan
- perdarahan eksternal pada gusi dan luka luar serta perdarahan internal intrakranial
- tanda neurotoksisitas : kesulitan bernapas atau paralisis otot pernapasan, ptosis, palsi bulbar (kesulitan menelan atau berbicara), kelemahan ekstremitas
- tanda kerusakan otot : nyeri otot dan urin menghitam
Periksa kadar hemoglobin darah. Bila memungkinkan, periksa fungsi pembekuan darah.
Pertolongan pertama
1. Lakukan pembebatan pada ekstremitas proksimal (bagian terdekat) jejas gigitan untuk mengurangi penjalaran dan penyerapan bisa. Jika gigitan kemungkinan berasal dari ular dengan bisa neurotoksik, balut dengan ketat pada ekstremitas yang tergigit dari jari-jari atau ibu jari hingga proksimal tempat gigitan.
2. Bersihkan luka
3. Jika terdapat salah satu tanda di atas, bawa anak segera ke rumah sakit yang memiliki antibisa ular. Jika ular telah dimatikan, bawa bangkainya pula ke rumah sakit.
4. Hindari membuat irisan pada luka atau menggunakan torniket.
Pengobatan syok/gagal napas di rumah sakit
- atasi syok jika timbul
- paralisis otot pernapasan dapat berlangsung beberapa hari dan hal ini memerlukan intubasi dan ventilasi mekanik hingga fungsi pernapasan normal kembali. Atau ventilasi manual (dengan masker/pipa endotrakeal dan kantung Jackson Rees) yang dilakukan oleh staf dan atau keluarga sementara menunggu rujukan ke rumah sakit rujukan yang lebih tinggi terdekat. Perhatikan keamanan fiksasi pipa endotrakeal. Sebagai alternatif lain adalah trakeostomi elektif.
Jika didapatkan gejala sistemik atau lokal yang hebat (pembengkakan pada lebih dari 1/2 ekstremitas atau nekrosis berat) berikan antibisa jika tersedia.
- siapkan epinefrin SK/IM bila syok dan difenhidramin IM untuk mengatasi reaksi alergi yang terjadi setelah pemberian antibisa ular.
- berikan antibisa polivalen. Ikuti langkah yang diberikan dalam brosur antibisa. Dosis yang diberikan pada anak sama dengan dosis pada orang dewasa. Larutkan antibisa 2-3 kali volume garam normal berikan secara intravena selama 1 jam. Berikan lebih perlahan pada awalnya dan awasi kemungkinan terjadi reaksi anafilaksis atau efek samping yang serius.
- jika gatal atau timbul urtikaria, gelisah, demam, batuk atau kesulitan bernapas, hentikan pemberian antibisa dan berikan epinefrin 0,01 mL/kg larutan 1/1000 atau 0,1 mL/kg, 1/10.000 SK. Difenhidramin 1,25 mg/kgBB/kali IM, bisa diberikan sampai 4 kali perhari (maksimal 50 mg/kali atau 300 mg/hari). Bila anak stabil, mulai kembali berikan antibisa perlahan melalui infus.
- tambahan antibisa harus diberikan setelah 6 jam jika terjadi gangguan pembekuan darah berulang atau setelah 1-2 jam. Jika pasien terus mengalami perdarahan atau menunjukkan tanda yang memburuk dari efek neurotoksik atau kardiovaskular.
Transfusi darah tidak diperlukan bila antibisa telah diberikan. Fungsi pembekuan kembali normal setelah faktor pembekuan diproduksi oleh hati. Tanda neurologi yang disebabkan antibisa bervariasi, tergantung jenis bisa. Pemberian antibisa dapat diulangi bila tidak ada respon. Antikolinesterase dapat memperbaiki gejala neurologi pada beberapa spesies ular.
Mintalah pendapat/pertimbangan bedah jika terjadi pembengkakan pada ekstremitas, denyut nadi melemah/tidak teraba atau terjadi nekrosis lokal. Tindakan bedah meliputi :
- eksisi jaringan nekrosis
- insisi selaput otot (fascia) untuk menghilangkan limb compartments, jika perlu
- skin grafting, jika terjadi nekrosis yang luas
- trakeostomi (atau intubasi endotrakeal) jika terjadi paralisis otot pernapasan dan kesulitan menelan
Perawatan penunjang
- berikan cairan secara oral atau dengan NGT sesuai dengan kebutuhan per hari. Buat catatan cairan masuk dan keluar.
- berikan obat pereda rasa sakit
- elevasi ekstremitas jika bengkak
- berikan profilaksis antitetanus
- pengobatan antibiotik tidak diperlukan kecuali terdapat nekrosis
- hindari pemberian suntikan intramuskular
- pantau ketat segera setelah tiba di rumah sakit kemudian tiap jam selama 24 jam karena racun dapat berkembang dengan cepat.
Selain makanan, susu sapi merupakan salah satu penyebab alergi pada anak-anak usia dini. Angka kejadiannya sekitar 2-3 % dari populasi. Di Jakarta, angka kejadiannya mencapai 4 %. Hal ini berkaitan dengan banyaknya ibu bekerja yang tidak menyusui anaknya sehingga anak diberi susu formula yang berbahan dasar susu sapi.
Pada anak yang memiliki bakat alergi (atopic), terjadi reaksi antara IgE (immunoglobulin E) dengan protein susu sapi. IgE akan bereaksi terhadap protein susu sapi. Protein ini dianggap sebagai benda asing oleh tubuh. Dengan kata lain, tubuh sang anak hipersensitif terhadap protein susu sapi. Jenis protein Whey dan Casein pada susu sapilah yang sering merangsang terjadinya alergi.
Alergi susu sapi kerap menyapa anak usia kurang dari 3 tahun karena sistem pencernaan pada usia tersebut masih belum sempurna sehingga protein susu sapi dikenali sebagai benda asing. Sejalan pertambahan usia, pada usia di atas 3 tahun ketika saluran cerna dan enzim-enzimnya sudah mulai berkembang dengan baik, gejala-gejala alergi susu sapi ini menghilang (toleran). Namun untuk kasus-kasus tertentu keadaan ini dapat berlangsung sampai dewasa.
Gatal-gatal, kulit kering dan kemerahan di kulit seperti gejala eksim sering terdapat pada pipi dan beberapa bagian tubuh lainnya. Hal ini sering disalahartikan sebagai alergi ASI dan dianggap karena ada ASI yang tumpah saat menyusu padahal gejala tersebut merupakan akibat alergi susu sapi yang dikonsumsi anak dan bisa juga disebabkan oleh makanan alergenik yang dikonsumsi ibu seperti telur, kacang tanah, seafood atau ibu yang mengkonsumsi susu sapi. Muntah, sembelit dan diare yang disertai darah juga merupakan gejala alergi susu sapi dan sering disalahartikan sebagai disentri amoeba.
Gejala alergi susu sapi tak hanya mengenai anak yang mendapat susu sapi namun juga pada anak yang diberi ASI. Hal ini terjadi akibat ibu mengonsumsi zat alergi yang masuk ke ASI. Sehingga penting untuk ibu-ibu yang mempunyai bayi dengan bakat atopic untuk menghindari susu sapi dan produk olahannya serta zat-zat alergen lainnya.
Saat ditemukan gejala alergi susu sapi, maka segera bawa anak ke dokter yang akan menanyakan riwayat penyakit anak dan mencatat makanan-makanan yang dikonsumsinya. Untuk memastikan gejala, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan.
Salah satunya tes kulit yang dilakukan pada anak berusia di atas 3 tahun. Tes lain berupa penilaian IgE spesifik susu sapi, uji eliminasi dan provokasi. Pada tes ini anak tidak diperbolehkan minum susu sapi selama 2-3 minggu sampai gejala berkurang. Anak kemudian diberi susu sapi secara bertahap. Jika gejala alergi tidak timbul maka hasil negatif namun jika timbul gejala maka positif alergi. Tes diulang lagi 6 bulan berikutnya untuk mengetahui timbulnya toleransi dan tidak mengalami alergi lagi.
Selain mengobati eksim yang diderita, pemberian susu sapi dan produk olahannya harus dihentikan. Pemberian ASI eksklusif sangat dianjurkan sebagai upaya pencegahan alergi susu sapi. Makanan pendamping ASI juga tidak boleh mengandung susu sapi dan olahannya. Sekarang telah tersedia bubur bayi bersifat hipoalergen.
Untuk kondisi tertentu ketika ibu tidak dapat memberi ASI, bayi dapat diberikan susu sapi yang telah dihidrolisis sebagian ataupun sempurna. Susu sapi hidrolisis parsial memiliki protein susu sapi yang hanya dipecah sebagian dan diberikan pada bayi yang salah satu atau kedua orangtuanya berbakat atopic walaupun belum terdapat gejala alergi. Pada bayi yang sudah terjadi gejala alergi maka bayi diberi susu sapi hidrolisis ekstensif yang proteinnya terpecah sempurna. Jika gejala yang ditimbulkan berat misalnya sampai terjadi syok anafilaksis, maka bayi diberikan formula asam amino.
Susu formula berbahan kedelai dapat menjadi alternatif pada anak yang tak alergi komponen kedelai. Susu ini kurang enak tapi masih lebih enak dibandingkan dengan susu hidrolisis dan asam amino yang kurang disukai bayi. Formula kedelai diberikan hanya pada bayi usia 6 bulan ke atas. Susu kedelai murni tidak dapat digunakan sebagai alternatif karena tak cukup gizi dan masih mengandung zat-zat yang tak cocok untuk anak.
Saat ini telah banyak kelompok-kelompok di masyarakat dan fasilitas kesehatan yang menyediakan jasa konselor ASI untuk membimbing ibu-ibu agar dapat menyusui dengan baik sehingga bayi tetap mendapatkan ASI yang cukup.
- Kepala bulat atau ovoid, ubun-ubun luas dengan sutura melebar, rambut seperti bulu kuduk. Telinga lembek karena berkartilago sedikit. Pada hidung dan kadang-kadang pada dagu terdapat banyak milia.
- Nodulus mammae kecil atau tidak ada.
- Kulit halus kemerah-merahan, epidermis tipis, pembuluh darah mudah terlihat. Jaringan lemak berkurang, muka tampak tua dan kulit mengeriput. Suhu badan normal dan naik tidak teratur.
- Lambut lanugo banyak terutama pada ekstensor ekstremitas, dahi dan bagian atas punggung.
- Kuku jarang mencapai ujung jari.
- Pada bayi lelaki testis hanya turun sedikit dan scrotum kosong.
- Menangis lemah, monoton dan merengek. Mengisap lemah dan tidak ada.
- Otot-otot lemah dan gerakan lambat.
- Istirahat rebah dengan tiduran miring.
- Pemberian obat tokolitik yang penting untuk mencegah kontraksi uterus, yaitu :
- Anesthesia : ether, halothane.
- Ethanol
- β - stimulant ( β-minetik, adrenergic) yang terdiri dari β1 - stimulant (isoxuprine) dan β2 – adrenergic seperti albuterol (salbutamol), terbutalin, metaproterenol (orciprenaline, alupent), nylidrin (buphenine,dilatol), fenoterol HBr (Th 1165a, partusisten, berotec), ritodrine HCl preparat.
- Antagonis prostaglandin : aspirin dan senyawa salisilat lainnya, indomethacine, naproxen, asam meclofenamat.
- Obat – obat lainnya misalnya : alpha-blocking, antagonis kalsium, antagonis insulin.
- Inkompeten cervix.
- Sebelum dan sesudah operasi berencana misalnya operasi McDonald, enukleasi myoma dan operasi ekstragenital selama kehamilan.
- Kehamilan kembar.
- Insuffisiensi plasenta (gestosis, sindrom pyelitis).
- Abortus imminens ≥ 16 minggu.
- Partus premature ≥ 28 minggu.
- Insuffisiensi placenta kronik.
- Perdarahan karena placenta previa.
- Versi luar pada presentasi bokong.
- Komplikasi pada ibu seperti penyakit ginjal kronik atau kardiovaskuler kronik, preeclampsia-eklampsia, penyakit “sickle cell”, pecandu heroin atau hiperthiroidism.
- Komplikasi pada plasenta dan amniochorion seperti infark placenta, hemorrhagia retroplacenta chronic focalis, chorioamnionitis atau ketuban pecah.
- Komplikasi pada fetus seperti pasangan kembar parabiotik yang anemic atau pasangan kembar non-parabiotik yang lebih kecil.
- Gangguan metabolism yang terdapat pada diabetes mellitus akan menjadi berat.
- Hipertensi kehamilan akan menjadi berat
- Bahaya infeksi meningkat
- Kesembuhan luka terganggu, terutama pada kasus dengan operasi.
- Bahaya sepsis meningkat karena pemberian steroiddan menunda persalinan.
- Pada binatang percobaan ternyata kemayian foetus meningkat dan jika hidup akan timbul gangguan pertumbuhan sedemikian sehingga berat badan, berat otak, jantung, hepar, rend an adrenal berkurang.
Tes Apgar merupakan serangkaian pemeriksaan untuk menilai kemampuan bayi baru lahir beradaptasi terhadap kehidupan di luar rahim ibunya, salah satunya adalah pemeriksaan terhadap gerak refleks bayi.. Ada 5 hal yang akan diperiksa, yaitu :
- Appearance (penampilan) yaitu penilaian warna kulit
- Pulse untuk penilaian frekuensi denyut jantung
- Grimace untuk penilaian usaha bernapas yang dilihat dari kuat lemahnya tangisan
- Activity untuk menilai aktif tidaknya tonus otot
- Reflex untuk penilaian reaksi spontan terhadap rangsang yang datang
- Nilai 10 artinya bayi memberi reaksi sangat baik pada semua pemeriksaan
- Nilai 7-10 artinya bayi dianggap memiliki kemampuan adaptasi yang baik
- Nilai dibawah 7 artinya fungsi jantung dan paru-paru bayi tidak baik sehingga memerlukan pertolongan
- Nilai 0 artinya bayi meninggal saat lahir
Kemampuan adaptasi bayi dapat dinyatakan bagus bila :
- kulitnya berwarna kemerahan
- frekuensi denyut jantungnya 100 per menit
- tangisannya kuat
- gerakannya aktif
- reaksinya terhadap rangsang baik.
Tomboy berasal dari kata Tom yg artinya boy (anak laki2). Kosakata ini diidentikkan dgn perempuan yg memiliki sikap dan tingkah laku menyerupai laki2. Mulai dari gaya berpakaiannya,bicaranya,dandanannya,hobinya,sampai ke tingkah laku sehari2nya. Keinginan orangtua semasa hamil tidak ada hubungannya dgn sifat tomboy anak. Terkadang orang tua tidak menyadari adanya imbas dari hasrat yg besar akan hadirnya anak laki2 sehingga bisa saja mendidik anak perempuannya seperti mendidik seorang anak laki2. Maka yg salah adalah pola asuh yg memungkinkan anak perempuan tersebut menjadi pribadi yg tomboy. Ketomboyan anak bisa juga dipengaruhi oleh lingkungan di keluarganya,misalnya karena dia adalah satu2nya anak perempuan di keluarganya. Anak belajar dari yg dilihat dan didengarnya. Ketika mereka memiliki saudara laki2,anak akan belajar dan mencontoh saudara2nya. Sosok seorang ibu juga berpengaruh dalam membentuk anak tomboy. Seorang anak perempuan belajar dari ibunya. Bila anak melihat ibunya sering mengerjakan persoalan rumah tangga yg biasa dikerjakan laki2,maka anak berpikir utk bisa seperti ibunya.
Anak perempuan yg tomboy bukan berarti memiliki 'kelainan'. Pd dasarnya yg membedakan antara perempuan dan laki2 hanyalah alat kelamin beserta organ produksinya. Orangtua tak perlu membatasi gerak dan kesukaan anaknya yg tomboy. Perilaku ketomboyan tersebut tak ada hubungannya dgn kemungkinan gadis kecil itu 'berubah' menjadi laki2. Hal ini hanya berkaitan dgn rasa tertarik anak ini utk mengetahui lebih banyak mengenai yg terjadi di sekelilingnya. Perilaku tomboy belum tentu juga menjurus pd perilaku penyimpangan seksual seperti lesbian. Ada beberapa faktor yg dapat menyebabkan timbulnya perilaku penyimpangan tersebut,bukan hanya terletak pd penampilan semata2. Sisi positif perilaku tomboy antara lain,anak perempuan ini menjadi mandiri karena terbiasa melakukan banyak hal termasuk yg biasa dilakukan laki. Selain itu biasanya memiliki kepribadian lebih easy going,tidak terlalu terbawa perasaan seperti pd anak perempuan umumnya. Anak tomboy pun terbiasa belajar merespon masalah dari laki2.
Pribadi tomboy bisa saja terbawa hingga dewasa nanti. Selama tidak mengarah pd orientasi seksual sang anak,seperti apapun penampilan dan aktifitasnya,asal anak memahami betul bahwa dirinya perempuan maka tak perlu ada yg dikhawatirkan. Dgn segala macam yg dia lakukan dan yg terjadi padanya,orang tua harus sering mengingatkan bahwa meski tomboy,dia tetaplah perempuan.
