Tampilkan postingan dengan label Gigi-Mulut (Tooth-Mouth). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gigi-Mulut (Tooth-Mouth). Tampilkan semua postingan


Pencegahan maupun perawatan pada gigi dapat dilakukan dengan perawatan non invasive yaitu :

1.      Peningkatan kebersihan mulut, yaitu dengan menyikat gigi secara teratur dan sempurna sebanyak 3 kali sehari terutama sebelum tidur malam. Gosoklah gigi dengan gerakan benar yaitu dari arah gusi ke permukaan puncak gigi, sentuhan sikat gigi pada gusi akan memberikan pijatan bagi gusi sehingga merangsang aliran darah pada gusi. Dianjurkan untuk tidak langsung menyikat gigi setelah makan karena biasanya suasana mulut sehabis makan menjadi asam. Bila langsung disikat, kemungkinan ada mineral yang terkikis dari gigi tersebut. Idealnya tunggulah selama satu jam dulu, baru sikat gigi.
2.      Penggunaan benang gigi/dental floss untuk menjaga kebersihan mulut. Dental floss digunakan untuk membersihkan permukaan antara dua gigi yang sering menjadi tempat terselipnya makanan dan menjadi tempat penimbunan plak. Selain itu, dapat juga menggunakan sikat lidah.
3.      Penilaian faktor diet. Penilaian secara menyeluruh terhadap diet sebaiknya dilakukan untuk menentukan makanan apa saja yang dapat menyebabkan karies gigi. Kontrol diet dalam pencegahan karies sangat bergantung pada kemauan pasien sendiri. Tugas dokter gigi memberikan pengetahuan yang cukup mengenai makanan dan minuman yang baik untuk kesehatan gigi. Misalnya, sehabis makan pasien dianjurkan makan buah – buahan yang berair dan berserat karena makanan tersebut memberikan efek self cleansing pada gigi geligi. Selain itu makanlah makanan yang mengandung vitamin terutama vitamin C yang menyehatkan gusi.
4.      Mengkonsumsi xylitol, merupakan pemanis alami yang ada dalam konsetrasi rendah pada buah – buahan dan sayuran. Rasa manisnya sama dengan sukrosa tapi kandungan kalorinya 40% lebih rendah. Biasanya dikemas dalam bentuk permen karet dan memiliki manfaat dalam rongga mulut yaitu meningkatkan produksi dan pH saliva sehingga proses remineralisasi dapat meningkat dan menghambat terjadinya proses demineralisasi.
5.      Peningkatan faktor pelindung saliva. Penurunan kemampuan proteksi saliva dapat menyebabkan terjadinya karies akibat penurunan produksi saliva. Penurunan tersebut dapat disebabkan karena konsumsi obat – obat yang menurunkan jumlah saliva dan penyakit sistemik yang mempengaruhi saliva. Salah satu cara meningkatkan kualitas saliva adalah dengan banyak mengkonsumsi air putih.
6.      Penggunaan obat kumur antiseptik yang mengandung klorheksidin. Penggunaannya harus dikombinasikan dengan penyikatan gigi dan digunakan setelah menyikat gigi untuk mengurangi terjadinya plak. Obat kumur antiseptik tidak boleh digunakan dalam waktu lama karena dapat mengubah ekosistem flora normal rongga mulut. Jika ada radang dan karies yang banyak, penggunaannya boleh setiap hari dengan maksimal waktu penggunaannya selama 2 minggu. Obat kumur yang mengandung pewangi dan berfungsi sebagai penyegar mulut tanpa kandungan antiseptik, boleh digunakan setiap hari.

7.      Penggunaan fluoride. Adanya peningkatan fluoride dalam rongga mulut dapat menghambat terjadinya demineralisasi. Umumnya dokter gigi akan memberikan secara topikal (dioleskan secara merata) pada seluruh permukaan gigi dan waktu pemberiannya sesuai dengan aturan pabrik yang tertera di kemasan masing – masing produknya. Kadar fluor yang diberikan biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan kadar fluor dalam pasta gigi.


Selain cara – cara di atas, karies juga dapat dicegah dengan suatu cara bernama Minimal Invasive Density (MID), yaitu paradigma baru tentang cara memperhatikan kesehatan gigi, mencegah penyakit terutama karies melalui perawatan. Sebagai diagnosis awal, dilakukan identifikasi faktor resiko karies yang disebabkan oleh banyak faktor seperti ekologi bakteri, frekuensi fermentasi asupan karbohidrat, saliva yang tidak sehat, dan plak.

Saliva merupakan sistem pertahanan utama mulut dan gigi, berperan penting untuk melindungi pajanan pada permukaan gigi. Saliva melindungi gigi dengan menetralisir perubahan asam dalam mulut yang terjadi misalnya sesaat sesudah mengkonsumsi makanan asam, berperan sebagai lubrikan, menyebarkan kalsium, fosfat dan fluoride pada permukaan gigi, serta membersihkan makanan dan bakteri dari mulut setelah makan. Jika saliva berhenti melindungi gigi maka akan terjadi hal buruk antara lain berkurangnya aktivitas pembersihan bakteri dan bekas makanan dari mulut, berkurangnya buffer karena perubahan asam mulut, hingga aktivitas mulut menjadi semakin asam dan selanjutnya akan memicu terjadinya perubahan struktur gigi karena karies. Rongga mulut mempunyai kadar pH normal berada di angka 7, bila nilai pH jatuh pada angka 5,5 berarti keadaannya sudah kritis.

Untuk itu penting diketahui penyebab karies melalui tes terhadap faktor – faktor yang sering mempengaruhi terjadinya karies. Tes tersebut terbagi dalam 5 tahapan yaitu tes saliva, plak, diet, klorida, dan modifying faktor. Pada masing – masing hasil tes dalam tiap tahapan akan dapat ditentukan jenis perawatan yang diperlukan untuk mencegah perkembangan karies lebih lanjut.


Tes pertama yang dilakukan adalah tes saliva yang terbagi lagi menjadi 2 tes yaitu resting saliva dan stimulated saliva. Pada resting saliva akan diketahui tingkat dehidrasi, kekentalan dan pH ludah. Tingkat dehidrasi diketahui melalui pemeriksaan yang meliputi bintik – bintik air ludah pada bibir bawah bagian dalam. Bila bintik – bintik ludah timbul kurang dari 30 detik maka masuk dalam kategori normal namun jika bintik – bintik ludah muncul lebih dari 60 detik maka sudah termasuk kategori kritis. Pada pemeriksaan kekentalan ludah (viscosity) di bawah lidah, bila ludah encer berarti tingkat kekentalannya baik, sebaliknya bila kental berarti buruk. Untuk tes stimulated saliva, pasien akan diminta mengunyah permen karet khusus selama 5 menit. Setelah itu, pasien diminta untuk menampung air ludah di tempat penampungan untuk mengukur kuantitas air ludah. Bila jumlah air ludah lebih dari 5 mL berarti bagus, namun bila kurang dari 3,5 mL berarti kurang baik.

Tes selanjutnya adalah tes plak yang berguna untuk mengetahui pH dan aktivitas plak. Kemudian tes mengenai diet biasanya berhubungan dengan makanan yang dikonsumsi, seperti gula dan asam. Semakin sering mengkonsumsi makanan yang mengandung glukosa seperti gula, roti, biskuit manis, atau makanan manis lainnya, berarti semakin berpotensi merusak gigi. Begitu juga dengan minuman yang mengandung asam, seperti minuman bersoda dan permen asam. Pada tes fluoride akan diajukan pertanyaan mengenai penggunaan pasta gigi berfluorida, konsumsi air mineral yang mengandung fluoride dan perawatan lain yang berhubungan dengan penggunaan fluoride. Pada tes modifying akan ditanyakan tentang konsumsi obat – obatan yang berpotensi menurunkan aliran ludah seperti obat hipertensi atau jantung, riwayat penyakit yang menyebabkan mulut kering, penggunaan produk orthodonti seperti kawat gigi, dan riwayat penyakit episode karies yang aktif.

Setelah kelima tahapan tes tersebut dilakukan maka akan diketahui perawatan khusus yang dibutuhkan. Pada umumnya untuk mencegah gigi berlubang, sangatlah penting untuk menggunakan pasta gigi berfluorida atau yang mengandung baking soda. Selain itu bila hasil tes buruk, maka pasien akan direkomendasikan untuk meningkatkan frekuensi sikat gigi dan memperbanyak minum air putih. Pada pasien dengan tes pH buruk dan telah mencapai angka kritis, maka akan diberikan pasta khusus yang dioleskan pada gigi. Minimal dengan melakukan langkah – langkah perawatan, karies dapat dicegah supaya kuman enggan mampir di gigi.



Karies atau yang lebih dikenal dengan gigi berlubang merupakan kejadian yang paling sering dijumpai pada masalah gigi dan mulut. Gigi berlubang merupakan penyebab penyakit infeksi yang umum terjadi dan dialami oleh 95% penduduk dunia. Data tahun 2004 dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa insiden gigi berlubang di Indonesia terjadi sebanyak 90,05%. Meski prevelansinya tinggi, namun karies masih sering dianggap sepele. Banyak riset yang menunjukkan hubungan antara penyakit periodontal dan gigi berlubang dengan penyakit sistemik,terutama penyakit jantung. Kuman yang bersarang pada karies dapat “mendarat” ke pembuluh darah dan organ seperti jantung,ginjal, dan liver. Oleh karena itu ada beberapa kasus penyakit yang menyeluruh pada tubuh yang sebenarnya dipicu oleh infeksi dari gigi, biasa disebut sebagai infeksi fokal,misalnya infeksi pada otot jantung (miokarditis).

Karies gigi merupakan penyebab penyakit infeksi yang diperantarai oleh kuman, terutama Streptococcus mutans. Sebenarnya, kuman tersebut memang pada normalnya ada di dalam rongga mulut (flora normal). Keberadaan kuman itu di dalam rongga mulut sangat dipengaruhi oleh kebiasaan makan, jumlah sukrosa yang terdapat dalam karbohidrat yang dikonsumsi, dan kebersihan mulut. Jika frekuensi aktivitas makan dan jumlah sukrosa yang dikonsumsi berada dalam level tinggi disertai kebersihan mulut yang tidak terjaga maka konsentrasi fluoride pada mulut dan kemampuan sistem penyangga (buffer) saliva (ludah) akan menjadi rendah akibatnya tingkat keasaman mulut dan jumlah kuman Streptococcus mutans pun akan meningkat.

Keadaan ini akan membuat mineral gigi menghilang secara progresif, yang disebut sebagai proses demineralisasi. Sebenarnya ada proses yang mengimbangi demineralisasi tersebut,yaitu proses remineralisasi oleh ludah (saliva). Ludah akan menetralkan asam sehingga ion – ion mineral dari cairan di sekitar gigi dapat diletakkan kembali pada gigi. Dengan kata lain, proses karies dianggap sebagai hasil ketidakseimbangan antara proses demineralisasi dan remineralisasi yang terjadi terus menerus.




Pada tahap awal, karies terlihat sebagai gambaran bercak putih kapur di permukaan gigi (white spot). Daerah white spot ini akan terlihat jelas pada gigi karena gigi yang asli berwarna putih transparan dan mengkilat serta dilapisi pelikel (lapisan tipis bening dan tipis pada gigi). Jika pelikel ditumbuhi oleh kuman maka terbentuklah plak dan hal ini jika dibiarkan, lama kelamaan akan terkalsifikasi (bercampur dengan kalsium), mengeras dan membentuk karang gigi. Karang gigi inilah yang mengganggu keseimbangan proses demineralisasi – remineralisasi tadi.




Karang gigi menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar dan menjadi tempat menempel plak kembali sehingga lama kelamaan karang gigi akan mengendap,tebal dan menjadi sarang kuman. Karang gigi dapat terlihat kekuningan atau kehitaman biasanya akibat bercampur dengan rokok,teh dan zat – zat lain yang dapat meninggalkan warna pada gigi. Jika white spot dapat dideteksi sejak dini maka proses karang gigi menjadi karies gigi dapat dihentikan dengan cara mempertahankan kebersihan gigi.


Bila berbicara mengenai gigi,tentu tidak terlepas dari membicarakan jaringan penyangga gigi (jaringan periodontal). Jaringan ini yang menjadi tempat tertanamnya gigi. Jaringan periodontal terdiri dari gusi,sementum, dan jaringan pengikat tulang penyangga gigi (alveolar). Jaringan inilah yang mengikat gigi,pembuluh darah dan persarafan menjadi satu kesatuan. Bila karang gigi tidak dibersihkan maka kuman – kuman yang menempel dapat memicu dan menyebabkan terjadinya infeksi pada daerah penyangga gigi. Penderita biasanya mengeluh gusinya terasa gatal,mulut berbau tak sedap, gosok gigi sering berdarah, bahkan adakalanya gigi itu dapat lepas dengan sendirinya dari jaringan penyangga gigi. Infeksi yang mencapai lapisan dalam gigi (tulang alveolar) akan menyebabkan tulang penyangga gigi menipis sehingga perbandingan panjang gigi yang tertanam pada tulang dan yang tidak tertanam 1 : 3, maka gigi pun akan mudah goyang dan tanggal.

Berbagai faktor yang dapat menyebabkan terbentuknya karies adalah :
·        Frekuensi konsumsi makanan berkarbohidrat yang terus menerus akan meningkatkan risiko terjadinya karies.
·        Frekuensi pajanan gigi terhadap makanan dan minuman yang bersifat asam juga dapat meningkatkan tingkat pembentukan karies. Minuman soft drinks berkarbonat dan sport drinks merupakan contoh minuman yang memiliki sifat asam tinggi. Dengan frekuensi tinggi atau waktu pajanan yang cukup lama terhadap minuman tersebut maka proses demineralisasi akan berlangsung cepat.
·        Factor pelindung alami dari pelikel maupun saliva dapat mencegah serta membatasi terjadinya karies.
·        Fluor dan elemen – elemen lainnya juga mempengaruhi dalam perkembangan terjadinya karies.
·        Faktor modifikasi yang dapat mempengaruhi terjadinya karies antara lain perubahan gaya hidup serta kondisi kesehatan umum dari pasien.
Faktor – faktor di atas sebenarnya dapat dibagi ke dalam 3 besar, yaitu struktur gigi, mikroorganisme di dalam mulut, dan frekuensi asupan makanan. Bila salah satu diantaranya dihambat atau dikendalikan maka akan mencegah gigi berlubang.


Karang gigi dapat dibersihkan dengan alat yang disebut scaler. Ada scaler manual dan ada ultrasonic scaler. Setelah dibersihkan dengan scaler, karang gigi akan hilang dan gigi menjadi bersih. Namun karang gigi dapat timbul kembali apabila kebersihan gigi tidak dijaga dengan baik.

Karies pada gigi tidak selalu harus ditambal. Jika ada bagian gigi yang sudah mulai menghitam merupakan gejala terjadinya karies namun belum tentu ada lubang, proses lanjut dapat dicegah denga menjaga kebersihan rongga mulut. Warna kehitaman pada gigi sendiri tidak akan hilang namun proses karies tidak akan berlanjut. Penambalan hanya dilakukan jika lubang gigi sudah mencapai lapisan yang lebih dalam. KARIES BISA DISEMBUHKAN TAPI PENAMBALAN BUKANLAH OBATNYA !!! Penambalan hanya sekedar menghilangkan gejala.

Kelenjar saliva terutama dikontrol oleh sinyal saraf parasimpatis dari nukleus salivatorius superior dan inferior pd batang otak. Nukleus salivarius terletak kira2 pd pertemuan antara medula dan pons. Nukleus ini akan tereksitasi oleh rangsangan taktil dan pengecapan dari lidah serta daerah2 rongga mulut-faring lainnya. Rangsang dalam saraf parasimpatis menyebabkan sekresi liur cair dalam jumlah besar dgn kandungan zat organik yg relatif rendah. Sekresi ini disertai oleh vasodilatasi hebat pd kelenjar,yg disebabkan oleh pelepasan lokal VIP (peptida vasoaktif usus). Polipeptida ini merupakan kotransmiter asetilkolin pd sebagian neuron parasimpatis postganglion. Atropin dan obat penghambat kolinergik lainnya menurunkan sekresi saliva.

Beberapa rangsangan pengecapan,terutama rasa asam,merangsang sekresi saliva dalam jumlah sangat banyak. Seringkali 8-20 kali kecepatan sekresi basal. Rangsangan taktil tertentu,seperti adanya benda halus dalam rongga mulut (misalnya suatu kristal karang),menyebabkan peningkatan salivasi yg nyata. Sedangkan benda yg kasar kurang menyebabkan salivasi bahkan kadang menghambat. Makanan dalam mulut menyebabkan refleks sekresi saliva dan merangsang serat2 vagus eferen di ujung esofagus yg dekat dgn gaster (lambung). Pd manusia,penglihatan,bau atau bahkan pikiran tentang makanan menyebabkan pengeluaran saliva (ngiler).

Salivasi juga dapat dirangsang atau dihambat oleh sinyal2 saraf yg tiba pd nukleus salivatorius dari pusat2 sistem saraf pusat yg lebih tinggi. Sebagai contoh,bila seseorang mencium atau makan makanan yg disukainya,pengeluaran saliva lebih banyak daripada bila ia mencium atau memakan makanan yg tidak disukainya. Daerah nafsu makan pd otak,yg mengatur sebagian efek ini,terletak di dekat pusat parasimpatis hipotalamus anterior dan berfungsi terutama sebagai respon terhadap sinyal dari daerah pengecapan dan penciuman dari korteks serebral atau amigdala.

Salivasi juga dapat terjadi sebagai respon terhadap reflek yg berasal dari lambung dan usus bagian atas,khususnya saat menelan makanan yg sangat mengiritasi atau bila seseorang mual karena adanya beberapa kelainan gastrointestinal (pencernaan). Saliva yg ditelan diperkirakan membantu menghilangkan faktor iritan pd traktus gastrointestinal dgn cara mengencerkan atau menetralkan zat iritan.

Perangsangan simpatis juga dapat meningkatkan salivasi dalam jumlah sedang,tetapi lebih sedikit daripada perangsangan parasimpatis. Saraf2 simpatis berasal dari ganglia servikalis superior dan kemudian berjalan sepanjang pembuluh darah ke kelenjar2 saliva. Rangsang saraf simpatis juga menyebabkan vasokontriksi sehingga sekresi saliva yg sedikit namun kaya akan zat2 organik dari kelenjar submandibularis. Faktor lain yg juga mempengaruhi sekresi adalah suplai darah ke kelenjar2 karena sekresi selalu membutuhkan nutrisi yg adekuat. Sinyal2 saraf parasimpatis yg sangat merangsang salivasi,pd saat bersamaan melebarkan pembuluh2 darah. Tetapi,selain itu,salivasi sendiri secara langsung melebarkan pembuluh2 darah,sehingga menyediakan peningkatan nutrisi yg dibutuhkan. Sebagian dari tambahan efek vasodilator ini disebabkan oleh kalikrein yg disekresikan oleh sel2 saliva yg aktif,yg kemudian bekerja sebagai suatu enzim utk memisahkan 1 protein darah,yaitu alfa-2-globulin,utk membentuk bradikinin,suatu vasodilator yg kuat.

Terdapat perbedaan cukup besar dalam komposisi ion saliva antar spesies dan antar kelenjar. Akan tetapi,umumnya saliva yg dieksresi di dalam kelenjar bersifat isotonik dgn konsentrasi ion natrium,kalium,klorida dan karbonat yg mirip dgn di dalam plasma. Saliva terutama mengandung sejumlah besar ion kalium dan bikarbonat. Sebaliknya,konsentrasi ion natrium dan klorida umumnya lebih rendah pd saliva daripada di dalam plasma. Sekresi saliva terbentuk melalui 2 tahap yaitu :
1. Duktus asinus (interkalatus)
2. Duktus salivatorius (ekskretorius) Kedua duktus memodifikasi komposisi saliva yg mengalir melaluinya dgn mengambil natrium dan klorida serta menambahkan kalium dan bikarbonat. Duktus tersebut relatif impermeabel terhadap air,dan saliva menjadi hipotonik di dalam sistem duktus.

Pd aliran saliva yg lambat,saliva yg sampai ke mulut bersifat hipotonik,agak asam,dan kaya akan kalium tetapi relatif kurang natrium dan klorida. Jika aliran saliva cepat,komposisi ion tidak cukup waktu utk berubah di dalam duktus. Akibatnya,meskipun pd manusia tetap hipotonik,salivanya bersifat lebih dekat isotonik,dgn konsentrasi natrium dan klorida yg lebih tinggi. Aldosteron meningkatkan konsentrasi kalium dan menurunkan natrium saliva dgn kerja yg analog seperti pd ginjal.

Berikut ini mekanisme sekresi saliva. Sel asinus mensekresi sekresi primer yg mengandung ptialin dan musin dalam larutan ion dgn konsentrasi yg tidak jauh berbeda dari yg disekresikan dalam cairan ekstraselular khusus. Sewaktu sekresi primer mengalir melalui duktus,terjadi 2 transpor aktif utama yg memodifikasi komposisi ion saliva secara nyata.
1. Ion2 natrium secara aktif direabsorbsi dari semua duktus salivarius,dan ion kalium disekresi secara aktif sebagai pengganti natrium. Oleh karena itu natritm dari saliva sangat berkurang sedangkan konsentrasi ion kalium meningkat. Akan tetapi,ada kelebihan reabsorbsi ion natrium yg melebihi sekresi ion kalium,dan ini menghasilkan negativitas sekitar 70 mV di dalam duktus salivarius,dan keadaan ini kemudian menyebabkan konsentrasi ion klorida turun menjadi sangat rendah,menyesuaikan penurunan pd konsentrasi ion natrium.
2. Ion2 bikarbonat disekresi oleh epitel duktus ke dalam lumen duktus. Hal ini disebabkan pertukaran ion bikarbonat dgn klorida sebagai hasil proses sekresi aktif.

Hasil akhir dari proses transpor ini pd kondisi istirahat,konsentrasi masing2 natrium dan klorida dalam saliva hanya sekitar 15mEq/L,sekitar 1/7 - 1/10 konsentrasinya dalam plasma. Sebaliknya,konsentrasi kalium sekitar 30 mEq/L,tujuh kali lebih besar dari konsentrasinya dalam plasma,dan konsentrasi bikarbonat antara 50 - 70 mEq/L,sekitar 2-3 kali lebih besar dari konsentrasinya dalam plasma. Selama salivasi maksimal,konsentrasi ionik saliva berubah karena kecepatan pembentukan sekresi primer oleh sel asini dan meningkat sebesar 20 kali lipat. Akibatnya,sekresi asinar akan mengalir melalui duktus dgn cepat sehingga pembaruan sekresi duktus menurun. Akibatnya,bila saliva disekresi dalam jumlah sangat banyak,konsentrasi natrium klorida akan meningkat sekitar 1/2 - 2/3 konsentrasi dalam plasma,sedangkan konsentrasi kalium turun hanya 4 kali konsentrasi dalam plasma.

Pd keadaan kelebihan sekresi aldosteron,reabsorbsi natrium dan klorida serta sekresi kalium akan sangat meningkat,sehingga konsentrasi natrium klorida di dalam saliva kadang2 menurum hampir sampai 0 sementara konsentrasi kalium meningkat bahkan melebihi 7 kali kadar kalium plasma normal. Akibat konsentrasi kalium yg tinggi dalam saliva,pd keadaan abnormal apa pun,di mana saliva dikeluarkan ke bagian luar tubuh utk waktu yg lama,seseorang dapat menderita kekurangan ion kalium yg serius dalam tubuh. Pd keadaan tertentu akan mengakibatkan terjadinya hipokalemia yg serius dan paralisis.

Kira2 1500 mL saliva disekresi per hari dgn pH pd kelenjar saat istirahat sedikit lebih rendah dari 7,0 tetapi selama sekresi aktif,bisa mencapai 8,0. Saliva mengandung 3 protein pencernaan yaitu lipase lingual,musin dan alpha amilase (ptialin). Kelenjar saliva yg utama adalah kelenjar parotis,submandibularis,dan sublingualis. Kelenjar parotis sekresinya bersifat serosa dan berbentuk encer. Pd kelenjar submandibularis,sekresinya bersifat campuran antara serosa dan mukus. Bentuk sekresinya agak kental. Sedangkan pd kelenjar sublingualis,sifat sekresinya mukus dan berbentuk kental. Adapula kelenjar kecil lidah yg hanya mensekresikan mukus yaitu kelenjar bukalis. Saliva mempunyai pH antara 6,0 - 7,4. Kisaran ini merupakan rentang keasaman yg tepat dan menguntungkan utk kerja pencernaan dari ptialin.

Lipase lingual disekresi oleh kelenjar Ebner pd permukaan dorsal lidah. Enzim ini aktif di dalam lambung dan dapat mencerna sebanyak 30% trigliserida makanan. Alpha amilase saliva dihasilkan oleh kelenjar lidah parotis yg berfungsi utk mencernakan serat. Musin pd saliva sebagian besar disekresikan pd kelenjar sublingualis. Musin merupakan suatu glikoprotein yg membasahi makanan dan melindungi mukosa mulut. Saliva juga mengandung imunoglobulin A (IgA) sebagai pertahanan kekebalan tubuh pertama terhadap kuman dan virus. Selain itu,dalam saliva juga terdapat lisozim yg berguna utk menyerang dinding bakteri,laktoferin utk mengikat besi dan bersifat bakteriostatik,serta protein yg kaya akan prolin utk melindungi email gigi dan mengikat tanin toksik.

Saliva mempunyai sejumlah fungsi penting antara lain :
- memudahkan penelanan
- mempertahankan mulut tetap lembab
- sebagai pelarut molekul2 yg merangsang indra pengecap
- membantu proses bicara dgn memudahkan gerakan bibir dan lidah
- mempertahankan mulut dan gigi tetap bersih.

Sistem dapar dalam saliva membantu mempertahankan pH mulut sekitar 7,0. Sistem ini membantu menetralkan asam lambung dan menghilangkan rasa perih di esofagus bila liur lambung mengalami regurgitasi (bergerak ke arah tenggorokan). Pada kondisi normal,sekitar 0,5 mL saliva yg hampir semuanya bertipe mukus,disekresikan setiap detik sepanjang waktu kecuali selama tidur,saat sekresi menjadi sangat sedikit. Sekresi ini sangat berperan penting dalam mempertahankan kesehatan jaringan rongga mulut. Rongga mulut berisi bakteri patogen yg dgn mudah merusak jaringan dan menimbulkan karies gigi. Saliva mempunya daya antibakteri,dan pd penderita dgn defisiensi/kekurangan salivasi (xerostomia) mempunyai insiden karies gigi yg lebih tinggi daripada normal.

Saliva membantu mencegah proses kerusakan melalui beberapa cara :
1. Aliran saliva membantu membuang bakteri patogen juga partikel2 makanan yg memberi dukungan metabolik bagi bakteri.
2. Saliva mengandung beberapa faktor yg menghancurkan bakteri. Salah satunya adalah ion tiosianat dan yg lainnya adalah beberapa enzim proteolitik,terutama lisosim yg menyerang bakteri,membantu ion tiosinat memasuki bakteri,tempat ion tiosianat menjadi bakterisidal,dan mencerna partikel2 makanan yg membantu menghilangkan pendukung metabolisme bakteri lebih lanjut.
3. Saliva mengandung sejumlah besar protaein antibodi yg dapat menghancurkan bakteri rongga mulut,termasuk yg menyebabkan karies gigi.

Oleh karena itu,pd keadaan tidak ada saliva,jaringan mulut menjadi berulserasi (mengelupas dan menjadi radang) sehingga menjadi terinfeksi. Akibatnya,karies gigi akan meluas.

Gejala gangguan sendi rahang dapat berupa nyeri kepala,bahu,dan tidak dapat membuka mulut dgn lebar. Selain itu dapat juga dirasakan gejala lain seperti nyeri di otot leher,bahu,dan telinga berdengung. Gangguan sendi rahang dipengaruhi oleh persentuhan antara gigi di rahang bawah dan atas.

Faktor penyebab diantaranya trauma,stres emosional,dan kebiasaan mulut di luar fungsi utama (aktifitas parafungsional) yg tidak memiliki tujuan tertentu. Misalnya selalu mengunyah makanan pd satu sisi mulut,menggigit2 bibir,bertopang dagu, dan yg paling sering bruxism. Bentuk bruxism yg biasa dikenal masyarakat adalah gigi yg mengerat (gerinding) terutama pd malam hari, dan clenching (mengatupkan mulut rapat2 sehingga terjadi tumbukan keras antara gigi bawah dan atas). Kebiasaan2 tersebut sering terjadi tatkala seseorang berada dalam kondisi cemas,marah,maupun gembira.

Karena gejala yg dirasakan tidak pada rongga mulut seperti ketika mengalami sakit gigi atau gusi,penderita biasanya mendatangi dokter THT dan neurologi,padahal seharusnya pergi ke dokter gigi. Gejala2 gangguan sendi rahang mempengaruhi kualitas hidup seseorang karena penderitanya tidak dapat bekerja maksimal. Oleh karena itu waspadalah saat timbul gejala2 tersebut dan bila lebih dari sehari maka segeralah ke dokter gigi.

Sumber : Dokter Kita