Tiroiditis berasal dari kata tiroid yaitu kelenjar tiroid sedangkan –itis menandakan adanya proses peradangan (inflamasi) dengan beragam penyebab. Bila dilihat dari aspek waktu kejadian maka tiroiditis dibagi menjadi tiroiditis akut (muncul mendadak atau durasi penyakit singkat), tiroiditis subakut (antara akut dan kronik) dan tiroiditis kronik (durasi penyakit lama).

Berdasarkan penyebabnya, tiroiditis dibagi menjadi tiroiditis karena infeksi, tiroiditis autoimun, tiroiditis pasca persalinan, tiroiditis karena obat-obatan dan tiroiditis Riedel. Berdasarkan ada atau tidaknya nyeri, dibagi menjadi tiroiditis dengan nyeri dan tiroiditis tanpa nyeri. Tiroiditis yang paling sering ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto dan tiroiditis postpartum (timbul setelah melahirkan).

Tiroiditis Hashimoto adalah tiroiditis yang disebabkan oleh proses autoimun dan berdasarkan waktu kejadian termasuk tiroiditis kronik. Tiroiditis postpartum juga disebabkan oleh proses autoimun tapi termasuk tiroiditis subakut tanpa nyeri. Jika jaringan tiroid yang mengalami tiroiditis diperiksa dibawah mikroskop maka akan tampak gambaran peradangan berupa infiltrasi sel-sel limfosit.

Untuk tiroiditis Hashimoto, gambaran klinis awalnya didahului dengan gejala-gejala hipertiroid (kadar hormone tiroid meningkat) lalu normal (eutoroid) dan akhirnya berubah menjadi hipotiroid (kadar hormone menurun) berkepanjangan. Untuk tiroiditis postpartum, gambaran klinisnya diawali dengan hipertiroid lalu hipotiroid dan berakhir menjadi normal.

Sebagian besar tiroiditis disebabkan oleh autoimun tetapi ada pula tiroiditis yang tidak diketahui penyebabnya yaitu tiroiditis Riedel. Pada tiroiditis ini kelenjar tiroid mengalami fibrosis (pembentukan jaringan parut) sehingga teraba keras seperti papan tapi tidak nyeri. Tiroiditis karena infeksi sudah jelas penyebabnya karena kuman, bias bakteri, jamur atau virus. Tiroiditis karena infeksi ini biasanya ditemukan pada pasien-pasien yang mengalami imunokompromais (system kekebalan tubuh yang lemah) dan jarang sekali orang normal mengalami infeksi pada kelenjar tiroid.

Kelenjar tiroid termasuk organ yang sulit terkena infeksi karena memiliki kapsul pelindung yang sulit ditembus oleh kuman, kelenjar tiroid juga banyak mengandung iodine dan juga dialiri oleh banyak pembuluh darah (vaskularisasi baik) sehingga sulit ditumbuhi oleh kuman.

Gejala umum dari tiroiditis sangat bervariasi serta polanya tergantung dari jenis tiroiditisnya. Semua jenis tiroiditis yang aktif memiliki gambaran radang, namun ada yang mengalami nyeri dan ada yang tidak. Biasanya pasien dating dengan keluhan pembesaran kelenjar tiroid, untuk tiroiditis Hashimoto dan postpartum gejala awal yang timbul merupakan gejala hipertiroid yang ringan. Gejala itu berupa jantung terasa berbdebar, sulit tidur, banyak keringat dan berat badan menurun. Sedangkan gejala local yang dirasakan pada kelenjar tiroid dan sekitar leher adalah rasa nyeri (bagi sebagian orang), sulit menelan, leher terasa tertekan, tegang pada leher bagian depan dan kadang terganggu jalan nafasnya.

Karena sebagian besar tiroiditis disebabkan oleh proses autoimun maka sulit diketahui persis penyebabnya yang berakibat susah untuk mengobatinya kecuali untuk mengobati gejalanya saja. Jadi pengobatan tiroiditis bersifat simptomatik yaitu untuk mengatasi keluhan. Jika dating dengan rasa nyeri maka pengobatannya adalah dengan memberikan obat anti nyeri atau anti radang.

Untuk tiroiditis Hashimoto yang akhirnya menjadi hipotiroid maka pengobatannya adalah dengan memberikan hormone tiroid sesuai kebutuhannya. Untuk tiroiditis postpartum biasanya pasien dapat kembali normal dalam waktu 6-8 bulan dengan sendirinya tanpa perlu dilakukan tindakan atau pengobatan khusus. Untuk tiroiditis Riedel karena bentuknya keras dan mempunyai efek desak ruang, susah menelan, tidak nyaman, tegang, terganggu napasnya, maka disarankan untuk menjalani operasi pembuangan sebagian jaringan tiroid. Selain itu ada modalitas terapi lain yang bias dilakukan yaitu pemberian obat-obatan seperti glukokortikoid, metotrexat, dan tamoxifen yang biasanya berhasil pada fase-fase awal.

Kasus tiroiditis paling banyak ditemukan pada usia sekitar 30-50 tahun dengan penderita lebih banyak ditemukan pada kaum perempuan. Penyakit tiroiditis dipastikan dengan pemeriksaan antibodi Tiroid Piroksidase (anti-TPO) yang positif pada 90-95% kasus. Pada tiroiditis infeksi, frekuensi penderita pria dan wanita sama.

Hipotiroid adalah gangguan tiroid yang paling banyak ditemui. Paling sering mengenai wanita, meningkat sesuai usia, dan lebih berisiko jika ada anggota keluarga yang terkena penyakit tersebut. Penyakit ini juga dapat muncul sejak lahir jika kelenjar tiroid tidak berkembang dengan baik, misalnya bayi lahir tanpa tiroid, bayi lahir dengan tiroid yang hanya terbentuk sebagian, atau bayi yang lahir dengan tiroid berada di tempat yang salah (tiroid ektopik).

Pada orang dewasa, hipotiroid yang tidak diobati menyebabkan kondisi fisik dan mental yang buruk serta mengakibatkan tingginya kadar kolesterol darah yang menjadi faktor resiko penyakit jantung. Pembesaran tiroid dapat mengganggu fungsi menelan atau bernafas. Pada hipotiroid berat yang tidak diobati dapat mengancam nyawa penderita.

Pada orang dewasa, penyebab utama hipotiroid adalah gangguan autoimun yang menyebabkan hormon yang dihasilkan tiroid tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Kelainan tersebut dinamakan penyakit Hashimoto, dengan adanya keluhan khas pembesaran tiroid dan kesulitan menelan. Hipotiroid juga dapat disebakan oleh terapi dengan iodium radioaktif atau pembedahan kelenjar tiroid sebagai terapi hipertiroid.

Gangguan kelenjar hipofisis seperti tumor merupakan penyebab yang jarang ditemui. Jika terjadi gangguan pada hipofisis dan produksi hormon TSH berkurang, hormon tiroid tidak akan dihasilkan walaupun bahan bakunya ada dan cukup. Penyebab lain adalah obat-obatan seperti amiodaron, litium, interferon alfa, dan interleukin-2 dapat mencegah kelenjar tiroid memproduksi hormon secara normal. Obat-obat tersebut memicu hipotiroid pada pasien yang memiliki kecenderungan penyakit tiroid autoimun.

Gejala yang dapat terjadi diantaranya mudah lelah, mudah lupa dan depresi, merasa dingin, denyut jantung melemah/berkurang, badan gemuk, dan pendiam. Selain itu dapat pula ditemukan gejala lambat dalam bereaksi, reflek dan gerakannya ; tidak terlalu terlihat berkeringat, kulit dan rambut kering, susah buang air besar, haid tidak teratur.

Diagnosis hipotiroid dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan darah. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah riwayat penyakit keluarga seperti penyakit tiroid, kelainan kulit vitiligo, juga diabetes. Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengukur kadar TSH dan FT4 (free T4) pasien. Di antara dua pemeriksaan darah tersebut, TSH adalah yang terpenting. Jika TSH lebih dari normal dan FT4 kurang dari normal, diagnosis hipotiroid dapat dipastikan. Jika penyebab hipotiroid adalah penyakit Hashimoto, antibodi yang menyerang tiroid juga dapat diukur dari darah.

Yang perlu mendapat perhatian adalah diagnosis hipotiroid pada kehamilan. Hal itu penting untuk memastikan kesehatan bayi yang akan lahir. Pemeriksaan rutin untuk semua bayi baru lahir perlu untuk mengidentifikasi hipotiroid. Bayi usia satu dan dua bulan yang kurang lincah, banyak diam, dan jarang menangis dapat dicurigai hipotiroid. Jika tidak diobati, anak dapat mengalami keterlambatan mental dan gagal tumbuh normal atau pendek.

Hipotiroid diobati dengan hormon tiroid. Levotiroksin adalah pilihan obatnya, diminum satu kali sehari. Obat tersebut merupakan T4 sintetis buatan laboratorium yang sama dengan yang dibuat oleh kelenjar tiroid aslinya. Hormon pengganti tiroid biasanya digunakan seumur hidup. Dosis pasien akan ditentukan dari kadar TSH darah.

Dosis hormon tiroid yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan hilangnya massa tulang (keropos), fungsi jantung tidak normal dan denyut jantung abnormal. Dosis yang terlalu rendah tidak akan mengurangi gejala. Pemantauan dilakukan setiap empat sampai enam minggu. Penentuan dosis perlu selama hamil dan dapat didiskusikan saat kontrol teratur dengan dokter.

Hipertiroid paling sering terjadi pada wanita berusia antara 20-40 tahun, namun pria juga dapat mengalaminya. Paling sering adalah jenis struma nodosa toksik yang biasa dikatakan penyakit gondok. Gejala dan tanda yang dapat dikenali diantaranya selalu merasa panas walaupun di tempat yang orang lain merasa nyaman, produksi keringat berlebihan walaupun berada di tempat ber-AC, kelemahan otot, tangan gemetar/tremor, denyut jantung cepat/berdebar-debar. Selain itu, pasien juga dapat merasakan kelelahan, berat badan mudah turun, rambut mudah rontok, diare, mudah tersinggung dan gelisah, duduk tak bisa tenang (hiperaktif) serta terdapat masalah pada mata (misalnya peradangan atau rasa tidak nyaman di mata). Awalnya kelebihan hormon tiroid hanya sedikit tapi terus menerus rangsangannya sehingga semakin lama semakin banyak dan gejala bertambah berat. Seringkali pasien tidak menyadari sampai akhirnya ada orang lain yang melihat adanya perubahan dan mengatakannya kepada pasien.

Beberapa pasien hipertiroid mengalami gangguan siklus haid dan kesuburan. Gangguan haid terjadi karena hipertiroid mempengaruhi hormon perempuan sehingga pasien mengalami gangguan ovulasi, tidak haid atau siklus haid memanjang sampai dua bulan. Jika sedang haid, biasanya jumlah darah yang keluar hanya sedikit.

Hipertiroid juga dapat mengganggu kesuburan wanita karena indung telur (ovarium) tidak berkembang. Pasien menjadi sulit hamil, jikapun hamil akan mudah mengalami keguguran sehingga dikatakan susah mendapatkan anak. Namun jika penyakitnya diatasi, kesuburan akan kembali normal.

Penyakit graves adalah penyebab utama hipertiroid, hal tersebut terjadi jika sistem imun menyerang kelenjar tiroid dan menyebabkan pembesaran serta peningkatan produksi tiroid yang terlalu banyak. Ciri khas pasien dengan penyakit Graves adalah peradangan mata dengan pembengkakkan jaringan di sekitar mata yang mengakibatkan penonjolan mata keluar, disebut oftalmopati Graves. Penyakit tersebut ditemukan pertama kali oleh seorang dokter yang bernama Robert Graves.

Penyebab lain hipertiroid termasuk nodul tiroid (benjolan pada kelenjar tiroid yang memproduksi hormon tiroid terlalu banyak), tiroiditis subakut (peradangan kelenjar tiroidnyang menimbulkan rasa nyeri dan disebakan oleh virus), tiroiditis limfositik (peradangan kelenjar tiroid yang tidak disertai rasa nyeri dan disebabkan oleh adanya limfosit, yaitu salah satu jenis sel darah putih, di dalam kelenjar tiroid), tiroiditis postpartum (tiroiditis limfositik yang muncul setelah melahirkan).

Dokter akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik juga meminta pemeriksaan darh pada saat mendiagnosis pasien. Jika TSH dalam darah pasien lebih rendah dari normal dan FT3 dan FT4 pasien lebih tinggi dari normal, maka pasien tersebut positif mengalami hipertiroid.

Untuk menentukan jenis hipertiroid, dokter akan meminta pemeriksaan scanning tiroid untuk mengukur banyaknya jumlah iodium yang diambil oleh tiroid pasien (thyroid scan), melakukan USG tiroid untuk melihat bentuk, jenis dan ukuran, atau melakukan biopsi jarum halus dengan mengambil sedikit cairan dari kelenjar tiroid. Cairan tersebut kemudian akan diperiksa menggunakan mikroskop untuk mengetahui ganas atau tidaknya benjolan tersebut.

Jika tidak diobati, hipertiroid dapat menyebabkan denyut jantung cepat dan tidak teratur, gagal jantung, dan tulang keropos (osteoporosis). Wanita hamil dengan hipertiroid tidak terkontrol beresiko tinggi mengalami keguguran, melahirkan prematur dan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah.

Terapi hipertiroid tergantung penyebab, umur pasien, kondisi fisik pasien, serta beratnya penyakit. Terapi yang tersedia yaitu obat antitiroid. Obat tersebut menurunkan jumlah hormon yang dibuat oleh kelenjar tiroid. Obat yang lebih disukai adalah metimazol. Untuk wanita hamil dan menyusui, prophylthiouracil (PTU) lebih disukai. Obat-obat tersebut hanya mengontrol tetapi tidak menyembuhkan keadaan ini.

Selama pengobatan, pemantauan tetap dilakukan setiap empat sampai enam minggu. Jika dosis berlebihan, obat tersebut dapat menyebabkan jumlah dan fungsi sel darah putih menurun sehingga mudah terkena infeksi walaupun tidak terlalu berat. Pengobatan jangka panjang dapat mengganggu metabolisme tulang sehingga tulang menjadi keropos.

Selain menggunakan obat, terapi hipertiroid dapat dilakukan melalui terapi ablasi. Terapi ini menggunakan iodium radioaktif dan dapat menyembuhkan 80-100% sel tiroid mati, namun biasanya menyebabkan kerusakan tiroid permanen. Setelah ablasi, pasien harus selalu minum obat hormon tiroid selama hidupnya supaya kadar tiroidnya normal.

Jika obat antitiroid atau terapi iodium radioaktif tidak cukup, dapat dilakukan pembedahan tiroid. Pembedahan untuk mengangkat kelenjar tiroid merupakan solusi permanen yang tidak disukai karena terdapat resiko kerusakan kelenjar paratiroid yang mengontrol metabolisme kalsium dalam tubuh. Kerusakan paratiroid dapat menyebabkan tulang keropos. Selain kerusakan paratiroid, proses pembedahan juga dapat menyebabkan kerusakan saraf laring/pita suara. Dalam pembedahan, dokter dapat menyisakan sedikit kelenjar tiroidnya supaya tetap dapat memproduksi hormon tiroid.

Penyakit tiroid adalah penyakit ketika kelenjar tiroid menjadi terlalu aktif atau kurang aktif dalam menghasilkan hormon tiroid. Jika hormon yang dihasilkannya lebih dari normal disebut hipertiroid. Sebaliknya apabila tiroid menjadi kurang aktif maka hormon yang dihasilkan tidak mencukupi kebutuhan tubuh dan membuat tubuh mengalami gangguan yang disebut hipotiroid.

Penyebab utama penyakit tiroid adalah proses autoimun yakni sebuah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang dan merusak kelenjar tiroid. Antibodi adalah zat yang dihasilkan tubuh jika ada benda asing masuk ke dalam tubuh misalnya kuman. Pada penyakit tiroid, manifestasinya bisa berupa adanya pembesaran kelenjar tiroid, baik yang hanya berupa benjolan maupun membesar seluruhnya.

Kelenjar tiroid adalah kelenjar yang berbentuk menyerupai kupu-kupu dan terletak di tengah leher. Pada laki-laki, kelenjar tiroid berada tepat di bawah jakun. Kelenjar ini merupakan salah satu dari kelenjar endokrin terbesar di dalam tubuh manusia. Berat rata-rata kelenjar tersebut pada orang dewasa adalah 60 gram, dan dapat bertambah besar saat kehamilan. Kelenjar tersebut menghasilkan dua hormon tiroid yaitu triiodotironin (T3) dan tiroksin (T4) yang mengatur tubuh untuk menyimpan dan menggunakan energi (fungsi metabolisme), membuat protein, mempengaruhi pertumbuhan dan fungsi sistem organ lain di dalam tubuh seperti pengaturan denyut jantung, gerakan usus, dan saluran cerna. 

Kerja kelenjar tiroid diatur oleh kelenjar lain yang disebut hipofisis, yang berlokasi di otak. Hipofisis memproduksi hormon perangsang tiroid/Thyroid stimulating hormon (TSH), yang merangsang tiroid memproduksi T3 dan T4. Selain menghasilkan hormone tiroid (T3 dan T4), kelenjar tiroid juga memproduksi kalsitonin, yang berperan dalam mengatur kadar kalsium dalam darah. 

Jika terdeteksi sejak awal maka tingkat kesembuhan penyakit ini baik. Namun karena penyebab dasarnya adalah gangguan autoimun maka penyakit ini sulit dicegah. Kendala dalam pengobatan adalah jika keluhan sudah menghilang maka kebanyakan pasien tidak mau datang untuk kontrol padahal hilangnya keluhan belum berarti sembuh. Jika pasien sudah sembuh dan kontrol teratur, maka akan cenderung sangat jarang kambuhnya.

Jika dokter sudah mendiagnosis penyakit tiroid, pasien jangan kecewa dan putus asa karena berobat secara teratur akan membantu pasien sembuh total. Jika keluhan sudah hilang, jangan berhenti berobat karena itu belum berarti sembuh. Pasien tidak perlu takut, hampir semua penyakit tiroid bisa dikontrol dan benjolan yang besar bisa dioperasi.

Muhammad : 31
"Dan sesungguhnya benar-benar Kami akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu."

Al-Hadid : 22-23
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab Lauh Mahfuzh sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Alloh. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang sombong dan membanggakan diri."

Saat kenyataan tak seirama dengan kehendak, terasa pil pahit yang mau tak mau mesti ditelan. Sekuat apa pun seseorang menolaknya, kekecewaan tetap akan bertumpuk-tumpuk dan berlanjut pada kecemasan karena terbayang kekelaman yang akan menimpanya nanti. Sebagian orang mengatasi perasaan semacam itu (cemas/takut) dengan melakukan mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism). Istilah ini diperkenalkan oleh Freud untuk menunjukkan upaya-upaya mengurangi kecemasan, frustasi, stres, atau konflik, yang dilakukan secara sadar maupun tidak, untuk melindungi diri dari situasi yang tidak mampu ditanggulangi.

Berikut ini adalah 4 contoh self-defense mechanism yang dapat dilihat pada orang-orang di sekitar Anda atau bahkan mungkin Anda sendiri menggunakannya.

Tipe Denial "Saya Baik-Baik Saja" (Padahal Hati Hancur)
Pada kondisi tertentu, seseorang akan sulit mengakui bahwa dia sedang sedih, marah, atau kecewa pada suatu hal. Untuk menutup diri, kata-kata sakti yang sering diucapkan adalah, "saya baik-baik saja kok." Berpura-pura semua baik-baik saja dan menyangkal adanya hal yang tidak menyenangkannya, itulah denial.

Tipe Reaction Formation "Saya Tidak Ingin Mereka Tahu"
Seseorang berusaha menyembunyikan motif dan perasaan yang sesungguhnya dan menampilkan ekspresi wajah/tindakan yang berlawanan dengan yang sebenarnya. Dengan cara ini mereka dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi sesuatu/hal yang tidak menyenangkan. Misalnya pada seseorang yang menutupi rasa cinta dengan bersikap datar atau bahkan memusuhi orang yang dicintainya karena takut diketahui perasaannya.

Tipe Proyeksi "Saya Tidak Kok, Dia Kali"
Dalam mekanisme ini, seseorang membalikkan kenyataan dan menyalahkan orang lain atas kesalahan atau kenyataan yang dia miliki. Kalimat yang khas dari tipe ini yaitu, "Tidak kok, saya tidak mencintainya. Dia kali yang cinta saya, saya sih biasa saja." (Bentuk pembalikkan fakta)

Tipe Represif
Dalam mekanisme ini, seseorang akan menekan keinginan/pikiran-pikiran yang membuatnya cemas hingga ke bawah alam sadarnya dan saat melakukannya pun tanpa sadar pula. Misalnya pada orangtua yang memiliki anak dengan vonis penyakit mematikan, selalu menekan perasaan dengan menganggap anaknya baik-baik saja dan tidak mengalami sakit apapun.

Mekanisme pertahanan diri sebetulnya merupakan proses alami dari seseorang demi mempertahankan keseimbangan dan keutuhan mentalnya agar tetap normal. Namun bukan berarti mekanisme tersebut menjadi sebuah pelaziman. Pertahanan diri memang dapat menyelamatkan seseorang dari kecemasan atau sakit namun cara ini menyerap energi begitu besar. Tingginya frekuensi penggunaan mekanisme ini akan bermuara pada bermacam-macam gangguan dan sindrom berupa gelisah, cemas, sedih, sulit tidur, nyeri, disfungsi organ, bahkan bisa membuat orang tersebut tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Yang terparah adalah orang tersebut bisa sampai mengalami gangguan kejiwaan berat seperti skizofrenia.

Lalu mengapa banyak orang yang memilih lari dari kenyataan daripada mengakuinya ? Ada banyak alasan dan pada umumnya bersumber pada perasaan malu, takut atau merasa tidak enak. Takut ditolak, takut dihakimi, takut diremehkan, takut ditinggalkan, takut dipermalukan menjadikan seseorang lebih nyaman untuk bersembunyi. Padahal langkah seperti itu malah menyiksa diri karena terpenjara dalam topeng kepalsuan.

Satu hal yang perlu diingat adalah, apapun yang dilakukan seseorang untuk mengurangi kecemasan dengan mekanisme pertahanan diri, tidak akan bisa mengurangi permasalahan yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu, Yakinkanlah bahwa menerima diri sendiri jauh lebih baik daripada harus berada dalam topeng yang hanya bisa dipakai sesaat saja. Berusahalah untuk jujur dan bersyukur. Manusia yang sehat adalah manusia yang memiliki kadar self-defense mechanism rendah.

Masalah tercipta bukanlah untuk dihindari melainkan untuk diselesaikan. Masalah merupakan bagian dari hidup manusia yang tidak akan pernah bisa dihilangkan, dihindari ataupun ditolak kedatangannya. Masalah diciptakan untuk mendewasakan pemikiran seseorang dan meningkatkan kemampuan dirinya bertahan melawan arus kehidupan. Jika seseorang selalu melarikan diri dari masalah maka dia tak kan pernah hidup dalam ketenangan dan akan selalu merepotkan orang-orang yang berhubungan dengan dirinya.

Dari pengalaman pribadi, saya sarankan jika sedang berada dalam masalah besar, hal pertama yang Anda lakukan adalah menertawakan kebodohan diri sendiri. Meski hati gelisah dan takut akan konsekuensi yang dihadapi nanti namun dengan tertawa seperti itu, Anda akan bisa rileks dan siap menyusun serangkaian cara menghadapi setiap kemungkinan buruk yang terjadi. Hal penting yang harus Anda lakukan selanjutnya adalah mendekatkan diri kepada Alloh karena Dialah yang memberikan masalah tersebut dan Dia pula yang memiliki jalan keluarnya. Hal selanjutnya adalah jangan berpikiran negatif. Anda boleh memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa Anda alami namun janganlah terpaku seolah-olah kemungkinan itu sudah terjadi. Setelah Anda rileks, segera cari cara untuk mengatasi segala kemungkinan terburuk tersebut dan pastikan Anda berpikiran positif. Semoga saran saya bisa Anda pergunakan, insya Alloh semua akan menjadi baik.

Al-Insyirah : 5-6
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama kesulitan ada kemudahan."